Sekolah Negarawan Membaca Kembali Sejarah Bangsa dari Arsip KITLV Leiden

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id — Sejarah sebuah bangsa tidak hanya tersimpan di dalam buku pelajaran. Ia juga hidup dalam arsip, manuskrip, peta, foto, catatan perjalanan, dan berbagai dokumen yang merekam kehidupan masyarakat dari masa ke masa. Kesadaran mengenai pentingnya jejak pengetahuan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dibawa delegasi Sekolah Negarawan ketika mengunjungi KITLV di Leiden, Belanda.

Kunjungan ke KITLV menjadi bagian dari rangkaian ekspedisi riset internasional Sekolah Negarawan di Eropa. Di lembaga yang dikenal memiliki kekayaan koleksi mengenai Indonesia dan Asia Tenggara tersebut, delegasi tidak hanya melihat arsip sebagai benda yang disimpan, tetapi juga mencoba memahami bagaimana pengetahuan tentang Nusantara dirawat, dikaji, dan digunakan untuk membaca perjalanan sejarah bangsa.

Menemui Jejak Nusantara di Leiden

Delegasi Sekolah Negarawan hadir dengan Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Mereka didampingi Syafiih Kamil selaku Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa.

Dalam penelusuran tersebut, delegasi juga ditemani Una, mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Leiden. Una berbagi pengalaman mengenai aktivitas risetnya sekaligus memperkenalkan bagaimana sumber-sumber arsip dan perpustakaan digunakan dalam penelitian di lingkungan akademik Leiden.

Di hadapan berbagai koleksi yang berkaitan dengan bahasa, geografi, etnologi, dan kehidupan masyarakat Nusantara, perjalanan tersebut membawa delegasi pada satu pertanyaan yang lebih mendasar. Seberapa jauh sebuah bangsa mengenal sejarahnya sendiri?

Pertanyaan itu menjadi penting karena sebagian besar pengetahuan mengenai perjalanan Indonesia tidak hanya tersimpan di dalam negeri. Berbagai lembaga akademik di luar Indonesia juga menyimpan dan mengkaji sumber-sumber tentang Nusantara yang telah menjadi bahan penelitian lintas generasi. KITLV menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan kenyataan tersebut secara langsung.

Ketika Indonesia Menjadi Objek Penelitian

Di lingkungan akademik Leiden, sumber-sumber mengenai Indonesia telah lama menjadi bagian dari kajian para peneliti. Literatur tentang bahasa, masyarakat, kebudayaan, geografi, dan sejarah sosial Indonesia digunakan untuk memahami berbagai perubahan yang berlangsung di Nusantara.

Bagi delegasi Sekolah Negarawan, kondisi tersebut tidak semata-mata perlu dilihat sebagai kenyataan bahwa arsip Indonesia tersimpan di luar negeri. Ada persoalan yang lebih luas mengenai posisi bangsa Indonesia dalam produksi pengetahuan tentang dirinya sendiri.

Indonesia tidak semestinya hanya menjadi objek yang dibaca oleh peneliti dari berbagai negara. Bangsa Indonesia juga perlu menjadi subjek yang aktif meneliti, menafsirkan, dan menghasilkan pengetahuan mengenai sejarah serta masyarakatnya sendiri.

Arsip kemudian memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar menyimpan dokumen lama. Ia dapat menjadi sumber untuk memahami bagaimana masyarakat Indonesia terbentuk, bagaimana perubahan sosial terjadi, dan bagaimana berbagai peristiwa masa lalu ikut memengaruhi keadaan hari ini.

Menghidupkan Kembali Ingatan Bangsa

Rinto Setiyawan melihat perhatian terhadap sejarah tersebut memiliki hubungan dengan pemikiran Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang menjadi salah satu pilar dalam kurikulum Sekolah Negarawan.

Dalam kerangka pemikiran tersebut, bangsa yang besar perlu memiliki kesadaran terhadap perjalanan peradabannya sendiri. Sejarah tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai catatan masa lalu, tetapi menjadi bagian dari kesadaran untuk memahami kehidupan hari ini.

Sebab masyarakat yang kehilangan hubungan dengan sejarahnya akan lebih mudah kehilangan konteks ketika membaca berbagai persoalan yang muncul pada masa sekarang. Banyak persoalan bangsa memiliki akar yang panjang. Ia tidak selalu lahir secara tiba-tiba dari peristiwa hari ini.

Karena itu, membaca arsip berarti membuka kembali percakapan dengan masa lalu. Dari sana masyarakat dapat melihat bagaimana orang-orang sebelum mereka berpikir, mengambil keputusan, membangun kebudayaan, menghadapi perubahan, dan merespons berbagai persoalan pada zamannya.

Sejarah tidak dimaksudkan untuk membuat bangsa terus hidup di masa lalu. Justru sejarah dapat menjadi bahan untuk memahami masa kini dengan lebih jernih dan merancang masa depan dengan kesadaran yang lebih utuh.

Dari Arsip Menuju Kedaulatan Pengetahuan

Kunjungan ke KITLV juga membawa pembicaraan pada persoalan kedaulatan pengetahuan. Dalam kehidupan negara modern, kedaulatan tidak hanya berkaitan dengan wilayah, sumber daya alam, ekonomi, atau kekuasaan politik. Kemampuan sebuah bangsa untuk mengelola dan memahami pengetahuannya sendiri juga menjadi bagian penting dari kedaulatan.

Erick Karya, CEO Enygma, melihat pengelolaan data dan pengetahuan sebagai salah satu hal yang relevan dengan perkembangan tata kelola pemerintahan berbasis teknologi.

Sekolah Negarawan melalui Enygma memperkenalkan gagasan mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan dalam mendukung tata kelola pemerintahan. Namun, teknologi tidak dapat dipisahkan dari persoalan data dan arsip. Pemerintahan membutuhkan rekam jejak yang tertata agar kebijakan hari ini dapat dibaca bersama pengalaman masa lalu.

Data mengenai masyarakat, wilayah, kebijakan, kebudayaan, dan berbagai perubahan sosial memiliki nilai ketika dikelola secara baik. Kecerdasan buatan dapat membantu manusia mengolah informasi dalam skala yang besar, tetapi kualitas pengetahuan tetap bergantung pada kualitas sumber yang tersedia dan cara manusia memaknainya.

Karena itu, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat bangsa semakin jauh dari sejarah. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk membuat pengetahuan sejarah semakin mudah diakses, diteliti, dan dimanfaatkan oleh generasi baru.

Sekolah Negarawan dan Perjalanan Membaca Dunia

Kunjungan ke KITLV merupakan bagian dari perjalanan panjang Sekolah Negarawan dalam menelusuri berbagai ruang intelektual dan kebudayaan di luar Indonesia.

Selama sekitar dua tahun, perjalanan tersebut membawa Sekolah Negarawan ke berbagai kawasan, mulai dari Eropa Barat, kawasan Nordik seperti Finlandia, Baltik seperti Estonia, Turkiye, Timur Tengah, Persia atau Iran, hingga Asia Tenggara.

Setiap negara memberikan pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Ada yang memperlihatkan bagaimana sebuah kota merawat sejarahnya, bagaimana universitas mengembangkan tradisi riset, bagaimana teknologi digunakan dalam kehidupan masyarakat, maupun bagaimana kebudayaan tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Semua pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pembelajaran yang dibawa kembali ke Indonesia. Diseminasi pemikiran dan hasil perjalanan dilakukan di berbagai daerah, mulai dari Medan hingga Ternate dan Tidore.

Dengan cara itu, ekspedisi internasional tidak berhenti sebagai perjalanan geografis. Ia menjadi proses untuk memperluas cara pandang dan mempertemukan pengalaman berbagai negara dengan kebutuhan Indonesia.

Arsip sebagai Cermin Perjalanan Bangsa

Dari KITLV Leiden, ada satu hal yang terasa semakin penting untuk direnungkan. Sebuah bangsa tidak hanya perlu membangun masa depan, tetapi juga perlu menjaga kemampuan untuk mengingat.

Arsip membantu manusia mengingat dengan cara yang lebih terstruktur. Di dalamnya terdapat jejak kehidupan yang memungkinkan generasi hari ini membaca kembali dunia yang pernah ada sebelum mereka.

Bagi Indonesia, kemampuan untuk menjaga, mengakses, dan mengembangkan pengetahuan mengenai sejarahnya sendiri merupakan bagian dari perjalanan menuju kedaulatan yang lebih utuh. Bangsa yang mengenal sejarahnya akan memiliki pijakan yang lebih kuat ketika menentukan arah perubahan.

Perjalanan Sekolah Negarawan ke KITLV Leiden akhirnya bukan hanya tentang melihat arsip Indonesia yang tersimpan jauh dari tanah air. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi ajakan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana bangsa Indonesia membaca dan memahami dirinya sendiri?

Sebab masa depan yang kuat tidak lahir dari bangsa yang melupakan masa lalu. Ia tumbuh dari masyarakat yang mampu menjadikan sejarah sebagai pengetahuan, pengetahuan sebagai kesadaran, dan kesadaran sebagai dasar untuk menentukan arah perjalanan bangsa.

Share This Article