Menjadi Pemimpin Sebelum Memimpin: Belajar Bertanggung Jawab Sebelum Memiliki Kekuasaan

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id  — Menjadi pemimpin sebelum memimpin berarti belajar memahami tanggung jawab sebelum seseorang menerima kekuasaan. Banyak orang melihat kepemimpinan sebagai kesempatan untuk mengambil keputusan, mengatur orang lain, dan memiliki kewenangan. Namun, dibalik semua itu terdapat sesuatu yang jauh lebih mendasar: kesediaan untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.

Kekuasaan dapat diberikan dalam waktu singkat. Jabatan dapat diperoleh melalui sebuah keputusan atau proses tertentu. Tetapi kemampuan bertanggung jawab tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui kebiasaan panjang, mulai dari menyelesaikan kewajiban kecil, berani mengakui kesalahan, menjaga kepercayaan, hingga tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Karena itu, sebelum seseorang belajar bagaimana menggunakan kekuasaan, ia perlu belajar bagaimana memikul tanggung jawab.

Kepemimpinan Dimulai dari Kesediaan Berkata “Ini Tanggung Jawab Saya”

Ada perbedaan besar antara orang yang mencari posisi dan orang yang siap memikul amanah. Orang pertama mungkin bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” Sementara orang kedua lebih dahulu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”

Perbedaan cara berpikir tersebut menentukan arah kepemimpinan.

Tanggung jawab dimulai ketika seseorang berhenti mencari alasan untuk menghindari kewajibannya. Ia tidak selalu menunggu diperintah. Ia memahami apa yang menjadi bagiannya dan berusaha menyelesaikannya dengan baik.

Bahkan dalam kehidupan sederhana, kemampuan tersebut sudah dapat dilatih. Menepati janji, menyelesaikan pekerjaan, mengakui kesalahan, menjaga kepercayaan, dan tidak meninggalkan kewajiban merupakan bentuk kepemimpinan terhadap diri sendiri.

Seseorang yang terbiasa melarikan diri dari tanggung jawab kecil akan menghadapi persoalan yang jauh lebih besar ketika kelak diberi tanggung jawab atas kehidupan banyak orang.

Jabatan Adalah Amanah, Bukan Sekadar Hak

Dalam kehidupan sosial, jabatan sering dipahami sebagai tanda keberhasilan. Seseorang yang memperoleh kedudukan tinggi dianggap telah mencapai tingkat tertentu dalam perjalanan hidupnya.

Namun, perspektif Islam memberikan dimensi yang berbeda. Jabatan bukan hanya sesuatu yang membanggakan, tetapi juga amanah.

Allah berfirman dalam QS An-Nisa ayat 58 agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan ketika menetapkan hukum diantara manusia hendaknya menetapkan dengan adil. Ayat tersebut memperlihatkan hubungan erat antara amanah dan keadilan.

Artinya, seseorang yang diberi kewenangan tidak hanya memiliki hak untuk mengambil keputusan. Ia juga memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa keputusan tersebut tidak mengkhianati amanah.

Semakin besar kewenangan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.

Orang yang Bertanggung Jawab Tidak Sibuk Mencari Kambing Hitam

Salah satu ujian kepemimpinan adalah ketika sebuah keputusan menghasilkan persoalan. Pada saat seperti itu, karakter seseorang akan terlihat. Orang yang tidak terbiasa bertanggung jawab cenderung mencari pihak yang dapat disalahkan. Ia mencari alasan, keadaan, bawahan, keadaan ekonomi, sistem, atau orang lain yang dianggap menjadi penyebab.

Sementara orang yang memiliki rasa tanggung jawab akan bertanya lebih dahulu: apa bagian saya dalam persoalan ini?

Pertanyaan tersebut bukan berarti seorang pemimpin harus mengambil semua kesalahan. Kepemimpinan tetap membutuhkan kemampuan melihat persoalan secara objektif. Tetapi seorang pemimpin tidak seharusnya menggunakan bawahan atau keadaan sebagai tempat berlindung untuk menghindari tanggung jawabnya sendiri. Keberanian mengakui kesalahan justru merupakan salah satu tanda kedewasaan.

Tanggung Jawab Harus Dilatih Sebelum Kekuasaan Datang

Sering kali seseorang baru berbicara tentang integritas ketika sudah menduduki jabatan. Padahal, integritas tidak dapat muncul hanya karena seseorang mendapatkan posisi. Karakter dibentuk jauh sebelum seseorang memperoleh kekuasaan.

Orang yang terbiasa menjaga amanah dalam perkara kecil memiliki pondasi untuk menjaga amanah yang lebih besar. Sebaliknya, seseorang yang menganggap wajar mengingkari janji kecil, menggunakan kepercayaan orang lain untuk keuntungan pribadi, atau menghindari kewajiban akan membawa kebiasaan tersebut ketika memperoleh kewenangan yang lebih besar.

Karena itu, masa sebelum seseorang menjadi pemimpin justru merupakan masa yang sangat penting. Di sanalah karakter dibentuk tanpa tekanan jabatan dan tanpa sorotan publik.

Pemimpin Harus Berani Mempertanggungjawabkan Keputusan

Kepemimpinan selalu berhubungan dengan keputusan. Tidak semua keputusan akan menghasilkan sesuatu yang sempurna. Bahkan pemimpin yang berhati-hati pun dapat menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan rencana. Yang membedakan adalah bagaimana ia menghadapi konsekuensi dari keputusan tersebut.

Pemimpin yang matang tidak hanya muncul ketika keadaan berjalan baik. Ia juga hadir ketika keadaan sulit. Tidak menghilang ketika masalah datang. Bersedia menjelaskan keputusan, mendengarkan kritik, memperbaiki kekeliruan, dan mengambil langkah untuk menyelesaikan dampaknya.

Inilah yang membuat tanggung jawab berbeda dari sekadar kewenangan. Kewenangan memungkinkan seseorang memutuskan. Tanggung jawab menuntutnya menjelaskan dan mempertanggung jawabkan keputusan tersebut.

Partai X: Kekuasaan Harus Diiringi Kesediaan Memikul Amanah

Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, menilai bahwa kesiapan seseorang menjadi pemimpin seharusnya tidak hanya dilihat dari kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga dari kesediaannya memikul konsekuensi.

“Jangan melihat kepemimpinan hanya dari sisi kewenangan. Di balik setiap kewenangan ada tanggung jawab. Orang yang ingin menjadi pemimpin harus terlebih dahulu belajar menyelesaikan tanggung jawab yang ada di hadapannya, termasuk ketika menghadapi kesalahan dan konsekuensi dari keputusan yang dibuat,” ujar Rinto.

Menurutnya, seorang pemimpin tidak seharusnya hanya hadir ketika keberhasilan dapat diklaim sebagai prestasi. Ia juga harus hadir ketika terdapat persoalan yang harus diselesaikan.

Kepemimpinan dengan demikian bukan sekadar kemampuan mendapatkan kepercayaan, tetapi kemampuan menjaga kepercayaan tersebut setelah diberikan.

Dari Tanggung Jawab Pribadi Menuju Amanah Publik

Tanggung jawab memiliki tingkatan yang semakin luas. Seseorang bertanggung jawab atas dirinya, keluarganya, pekerjaannya, lingkungannya, dan pada akhirnya atas amanah yang dipercayakan kepadanya.

Semakin luas lingkaran tanggung jawab, semakin besar pula tuntutan moralnya.

Orang yang memimpin keluarga belajar memahami kebutuhan orang lain. Orang yang memimpin organisasi belajar mengambil keputusan yang berdampak kepada anggota. Sementara orang yang memperoleh amanah publik harus memahami bahwa keputusan yang diambilnya dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat yang jauh lebih luas.

Karena itu, kepemimpinan bukan proses mendapatkan semakin banyak hak. Kepemimpinan adalah proses menerima semakin besar tanggung jawab.

Menjadi Pemimpin Sebelum Memimpin

Pada akhirnya, menjadi pemimpin sebelum memimpin berarti belajar bertanggung jawab bahkan sebelum seseorang memiliki kekuasaan.

Belajarlah menyelesaikan pekerjaan ketika tidak ada yang mengawasi. Menepati janji meskipun tidak ada yang mengingatkan. Mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam. Belajarlah menjaga kepercayaan meskipun tidak ada keuntungan langsung yang diperoleh.

Sebab kepemimpinan tidak dimulai ketika seseorang duduk di kursi kekuasaan. Ia dimulai ketika seseorang berani mengatakan bahwa setiap amanah yang berada di tangannya harus dijaga.

Kekuasaan mungkin membuat seseorang mampu mengatur banyak hal. Tetapi hanya rasa tanggung jawab yang membuat seseorang memahami untuk siapa kekuasaan itu digunakan.

Share This Article