muslimx.id – Dalam perspektif Islam, kekuasaan tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Kekuasaan bukan ruang bebas nilai, tetapi bagian dari ibadah sosial ketika dijalankan untuk melayani, melindungi, dan menyejahterakan masyarakat.
Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap amanah wajib ditunaikan dengan benar. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkan dengan adil” (Q.S. an-Nisa’ [4]: 58). Ayat ini menempatkan kekuasaan sebagai tanggung jawab moral yang harus dijalankan dengan keadilan.
Islam tidak memisahkan urusan ibadah dengan urusan publik. Ketika kekuasaan dijalankan untuk kemaslahatan umat, maka politik berubah menjadi bentuk pengabdian. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hak istimewa, melainkan beban tanggung jawab. Kekuasaan yang dijalankan tanpa kesadaran ibadah berpotensi melahirkan kezaliman, sementara yang dilandasi niat ibadah akan mendorong lahirnya kebijakan yang adil dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Keadilan sebagai Kunci Utama
Al-Qur’an secara konsisten menempatkan keadilan sebagai pilar utama dalam kehidupan sosial dan pemerintahan.
Allah SWT berfirman, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (Q.S. al-Ma’idah [5]: 8).
Ayat ini menegaskan bahwa keadilan adalah indikator ketakwaan, termasuk dalam menjalankan kekuasaan.
Dalam praktiknya, politik yang adil menuntut pemimpin untuk tidak membedakan rakyat berdasarkan kepentingan, kedekatan, maupun kekuatan ekonomi dan pemerintahan. Keadilan harus hadir dalam kebijakan hukum, pelayanan publik, serta distribusi kesejahteraan.
Pemimpin Adil dan Ganjaran Ilahi
Islam memberikan kedudukan istimewa bagi pemimpin yang menunaikan kekuasaan dengan adil. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa salah satu golongan yang mendapat naungan Allah SWT pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa kekuasaan yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga bernilai ibadah dan mendapatkan balasan spiritual di akhirat.
Kekuasaan dan Tanggung Jawab Umat
Menjadikan politik sebagai ibadah tidak hanya menjadi tugas pemimpin, tetapi juga tanggung jawab umat. Islam mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar sebagai mekanisme kontrol sosial.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan pemimpin yang zalim” (H.R. Abu Dawud).
Hadis ini menegaskan bahwa umat tidak boleh pasif terhadap penyimpangan kekuasaan. Mengingatkan, mengoreksi, dan mengawal jalannya pemerintahan merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan.
Ketika kekuasaan dijalankan sebagai ibadah, tidak ada lagi menjadi ruang intrik dan kepentingan sempit, melainkan sarana pengabdian kepada Allah dan pelayanan kepada manusia. Al-Qur’an dan Sunnah telah memberikan panduan yang jelas bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan amanah, keadilan, dan tanggung jawab. Inilah fondasi politik yang beradab dan diridhai Allah SWT.