Di Hadapan Korban Bencana, Kekuasaan Justru Dipuji Islam Menggugat Negara yang Kehilangan Empati

muslimX
By muslimX
5 Min Read

muslimx.id — Di tengah reruntuhan rumah, pengungsian darurat, dan jeritan korban bencana, perhatian negara justru kerap bergeser. Alih-alih fokus pada pemulihan warga, panggung publik dipenuhi pujian terhadap kekuasaan: kunjungan simbolik, pernyataan seremonial, serta narasi keberhasilan pemerintah yang terasa jauh dari kenyataan lapangan.

Bencana yang seharusnya menjadi momen empati, tanggung jawab, dan kerendahan hati negara, justru berubah menjadi ajang legitimasi kekuasaan. Dalam situasi duka, ego tampil lebih menonjol daripada penderitaan manusia.

Saat rakyat berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar air bersih, makanan, obat-obatan, dan tempat tinggal negara seringkali sibuk membangun kesan kehadiran. Kamera menyala, rilis resmi disebar, dan pernyataan empati disampaikan. Namun distribusi bantuan berjalan lambat, tidak merata, dan kerap tidak sesuai kebutuhan korban.

Kesenjangan ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah negara hadir untuk menolong korban, atau sekadar memastikan citra kekuasaan tetap terjaga?

Dalam pandangan Islam, penderitaan manusia bukan panggung pencitraan. Ia adalah amanah yang menuntut tanggung jawab nyata.

Partai X: Pujian Kekuasaan Tidak Menyelamatkan Nyawa

Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R. Saputra, menilai pola ini sebagai kegagalan negara memahami fungsi dasarnya.

“Di hadapan korban bencana, yang paling dibutuhkan bukan pujian kepada kekuasaan, tapi kehadiran negara yang melindungi, melayani, dan mengatur dengan benar,” tegas Prayogi.

Ia mengingatkan bahwa tugas negara tidak berubah dalam kondisi apapun.

“Tugas negara itu hanya tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Jika dalam situasi darurat negara justru sibuk dipuja, maka yang hilang adalah empati dan tanggung jawab,” lanjutnya.

Menurut Prayogi, bencana adalah ujian paling jujur bagi negara. Dalam situasi ekstrim, rakyat dapat membedakan mana kepemimpinan yang benar-benar bekerja dan mana yang hanya piawai berkomunikasi.

Islam Ingatkan: Bencana sebagai Panggung, Bukan Panggilan Tanggung Jawab

Bencana seharusnya memaksa negara bekerja lebih rendah hati dan responsif. Namun yang sering terjadi, penderitaan rakyat diperlakukan sebagai latar belakang, sementara kekuasaan ditempatkan di pusat narasi. Pujian kepada pemimpin dan klaim kinerja lebih dominan daripada evaluasi kebijakan yang menyebabkan kerentanan bencana itu sendiri mulai dari tata kelola lingkungan, perizinan, hingga kesiapsiagaan negara.

Akibatnya, akar masalah tidak pernah disentuh. Bencana diperlakukan sebagai peristiwa insidental, bukan sebagai cermin kegagalan struktural.

Allah SWT telah mengingatkan:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong. Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)

Ayat ini menegur kekuasaan yang kehilangan kerendahan hati dihadapan penderitaan manusia.

Kehadiran pejabat di lokasi bencana sering bersifat simbolik. Setelah kunjungan singkat dan pernyataan resmi, korban tetap menghadapi kenyataan pahit: bantuan terbatas, koordinasi buruk, dan hidup dalam ketidakpastian. Negara tampak hadir di depan kamera, namun jarang hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat. Akibatnya, kepercayaan publik memudar dan rasa keadilan semakin jauh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR. Thabrani)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa empati bukan sekedar ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menolong yang lemah dan meringankan beban sesama.

Solusi: Mengembalikan Negara ke Posisi Pelindung Rakyat

Agar tragedi kemanusiaan tidak terus dijadikan panggung kekuasaan, diperlukan langkah korektif yang tegas:

  1. Menempatkan kebutuhan korban sebagai prioritas mutlak, bukan sekadar citra
  2. Mempercepat respons darurat berbasis kebutuhan nyata di lapangan
  3. Menghentikan politisasi bencana dan narasi pencitraan
  4. Mengevaluasi kebijakan struktural yang memperparah dampak bencana
  5. Membangun sistem penanggulangan bencana yang transparan dan akuntabel

Penutup: Menundukkan Ego di Hadapan Derita Manusia

Di hadapan korban bencana, negara seharusnya menundukkan ego kekuasaan, bukan memujanya. Sebab bagi rakyat yang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan, yang dibutuhkan bukan simbol kepemimpinan, melainkan perlindungan nyata dari negara yang hadir sepenuhnya.

Islam mengajarkan bahwa kekuasaan akan dimintai pertanggungjawaban, terutama saat ia diuji oleh penderitaan rakyat. Bencana bukan panggung legitimasi, melainkan panggilan amanah. Dan negara yang gagal menjawab panggilan itu, telah kehilangan makna kekuasaannya sendiri.

Share This Article