Arah Indonesia Emas: Negara Kuat atau Bangsa yang Menunda Kehancuran

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id Istilah Indonesia Emas kerap digunakan sebagai cita-cita besar bangsa: ekonomi maju, teknologi berkembang, dan posisi strategis di panggung global. Namun pertanyaan mendasarnya jarang diajukan secara jujur arah Indonesia Emas ini sedang dibangun di atas kesadaran rakyat, atau justru di atas pembiaran dan kepatuhan semu?

Sejarah mengajarkan bahwa bangsa tidak runtuh karena kurangnya sumber daya, melainkan karena kegagalan menjaga arah moral. Negara bisa tampak kuat dari luar, tetapi rapuh dari dalam. Karena itu, arah Indonesia Emas sejatinya bukan soal target tahun atau angka pertumbuhan, melainkan pilihan nilai: keadilan atau manipulasi, kesadaran atau pembungkaman.

Indonesia Emas: Cita-Cita atau Ilusi Kekuasaan

Dalam banyak narasi resmi, Indonesia Emas digambarkan sebagai keniscayaan. Seolah kemajuan akan datang otomatis seiring waktu. Padahal, Islam mengajarkan bahwa masa depan tidak pernah netral. Ia dibentuk oleh pilihan manusia hari ini.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa arah Indonesia Emas sangat ditentukan oleh kualitas kesadaran rakyatnya. Jika rakyat dibiasakan diam, takut, dan apatis, maka yang lahir bukan negara kuat, melainkan bangsa yang menunda kehancurannya sendiri.

Negara Kuat Lahir dari Rakyat Sadar

Islam tidak pernah membangun peradaban besar dari rakyat yang pasif. Peradaban Islam tumbuh dari masyarakat yang kritis, berilmu, dan berani menasehati kekuasaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran dihadapan penguasa yang zalim.” (HR. Thabrani)

Hadits ini menunjukkan bahwa keberanian rakyat adalah fondasi kekuatan negara, bukan ancaman. Negara yang alergi terhadap kritik justru sedang kehilangan daya tahannya sendiri.

Arah Indonesia Emas yang sejati hanya mungkin terwujud jika rakyat diposisikan sebagai subjek sejarah, bukan sekadar objek kebijakan.

Partai X: Indonesia Emas Butuh Kesadaran

Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menegaskan bahwa arah Indonesia Emas tidak akan pernah tercapai tanpa pendidikan rakyat yang jujur dan berkelanjutan.

Menurutnya, negara sering terlalu fokus membangun infrastruktur fisik, tetapi lalai membangun infrastruktur kesadaran.

Prayogi menilai bahwa rakyat hari ini lebih sering dikelola daripada dididik. Informasi dikemas untuk meredam kritik, bukan untuk mencerdaskan pilihan publik. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia Emas berisiko menjadi slogan kosong yang menutupi masalah struktural: korupsi, ketimpangan, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Baginya, bangsa yang besar bukan bangsa yang rakyatnya patuh tanpa bertanya, tetapi bangsa yang rakyatnya paham hak, sadar tanggung jawab, dan berani mengawal kekuasaan.

Islam dan Bahaya Rakyat yang Dibungkam

Islam memberi peringatan keras terhadap masyarakat yang membiarkan kezaliman demi rasa aman semu. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)

Ayat ini relevan dalam membaca arah Indonesia Emas. Ketika rakyat memilih diam demi stabilitas semu, sementara kezaliman dibiarkan, maka yang sedang dibangun bukan masa depan emas, melainkan krisis moral kolektif.

Sejarah bangsa-bangsa terdahulu menunjukkan bahwa pembungkaman kritik adalah gejala awal kehancuran, bukan tanda kekuatan.

Penutup: Memilih Arah Bangsa

Arah Indonesia Emas berada di persimpangan: menjadi negara kuat karena rakyatnya sadar, atau menjadi bangsa rapuh yang ditopang oleh kepatuhan palsu. Islam mengajarkan bahwa kemajuan tanpa keadilan adalah ilusi, dan stabilitas tanpa kebenaran adalah kehancuran yang ditunda.

Jika Indonesia Emas ingin benar-benar terwujud, maka kesadaran rakyat harus ditempatkan sebagai fondasi utama, bukan ancaman yang harus dikendalikan. Karena hanya bangsa yang sadar yang mampu menjaga masa depannya sendiri.

Islam memandang masa depan sebagai amanah, bukan sekadar rencana teknokratis. Kekuasaan akan dimintai hisab, begitu pula rakyat atas sikap diam atau keberaniannya.

Share This Article