Arah Indonesia Emas dan Pendidikan Politik Rakyat: Antara Kesadaran dan Manipulasi

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.idSalah satu penentu utama arah Indonesia Emas adalah kualitas pendidikan politik rakyatnya. Negara dapat memiliki sumber daya melimpah dan infrastruktur megah, tetapi tanpa rakyat yang sadar, masa depan hanya akan dikendalikan oleh segelintir pejabat. Di titik inilah pendidikan politik menjadi syarat keberlanjutan bangsa, bukan sekadar pelengkap demokrasi.

Pendidikan politik bukan propaganda, bukan pula mobilisasi sesaat menjelang pemilu. Ia adalah proses membangun nalar, etika, dan keberanian warga untuk memahami kekuasaan, mengawasi kebijakan, serta membela kepentingan publik. Tanpa itu, arah Indonesia Emas berisiko melenceng menjadi sekadar proyek kekuasaan.

Demokrasi Tanpa Literasi Melahirkan Manipulasi

Dalam praktik pemerintahan modern, rakyat sering dilibatkan secara prosedural tetapi dijauhkan dari pemahaman substantif. Partisipasi dibatasi pada bilik suara, sementara proses pengambilan keputusan berlangsung tertutup. Ketika kebijakan bermasalah dikritik, rakyat dituding tidak paham atau mengganggu stabilitas.

Islam memandang praktik ini berbahaya. Demokrasi tanpa literasi melahirkan manipulasi, bukan kedaulatan. Rakyat yang tidak dididik akan mudah diarahkan, dipecah, dan dibungkam. Maka, arah Indonesia Emas tidak bisa ditopang oleh rakyat yang hanya tahu memilih, tetapi tidak tahu mengawasi.

Allah SWT berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah fondasi kemuliaan dan kepemimpinan. Tanpa ilmu, rakyat mudah kehilangan posisi tawarnya di hadapan kekuasaan.

Pendidikan Politik sebagai Amanah Sosial

Dalam Islam, pendidikan adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Mendidik rakyat agar paham hak dan kewajiban bukan ancaman bagi negara, melainkan bentuk penjagaan terhadap keadilan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Ilmu yang dimaksud bukan hanya ilmu ibadah personal, tetapi juga ilmu bermasyarakat dan bernegara. Rakyat yang mengerti mekanisme kekuasaan akan lebih sulit ditipu, lebih berani menasehati, dan lebih mampu menjaga arah Indonesia Emas tetap lurus.

Partai X: Negara Takut pada Rakyat yang Paham

Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa masalah utama politik hari ini bukan rendahnya partisipasi, melainkan rendahnya kualitas kesadaran yang sengaja dipelihara. Menurutnya, negara sering alergi terhadap rakyat yang paham, kritis, dan terorganisir.

Prayogi menegaskan bahwa pendidikan politik kerap digantikan dengan pencitraan dan hiburan. Rakyat dijejali slogan kemajuan, tetapi dijauhkan dari data, transparansi, dan ruang dialog. Dalam kondisi ini, arah Indonesia Emas berubah menjadi narasi sepihak yang tidak boleh dipertanyakan.

Baginya, bangsa yang ingin maju harus berani mencerdaskan rakyatnya, meski konsekuensinya adalah kritik yang lebih keras terhadap kekuasaan.

Antara Stabilitas Semu dan Kesadaran Nyata

Dalih stabilitas sering digunakan untuk membatasi pendidikan. Rakyat dianggap terlalu “emosional” untuk diajak berpikir kritis. Padahal, stabilitas yang dibangun di atas kebodohan adalah stabilitas rapuh.

Islam mengajarkan bahwa ketertiban sejati lahir dari keadilan, bukan dari ketakutan. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan, yang lahir dari kesadaran, adalah syarat ketakwaan dan keberlanjutan sosial.

Penutup: Menentukan Arah Indonesia Emas

Arah Indonesia Emas akan ditentukan oleh pilihan hari ini: apakah negara berani mendidik rakyatnya, atau terus memelihara ketidaktahuan demi kenyamanan segelintir orang. Pendidikan politik bukan ancaman, tetapi investasi peradaban.

Rakyat yang sadar tidak mudah diprovokasi, tidak mudah dibeli, dan tidak mudah dibungkam. Dan hanya dengan rakyat seperti itulah Indonesia Emas dapat menjadi masa depan yang nyata, bukan sekadar janji.

Share This Article