Pendidikan Politik di Kampus sebagai Ibadah Sosial: Jalan Islam Melahirkan Warga yang Bertanggung Jawab

muslimX
By muslimX
5 Min Read

muslimx.id — Pendidikan politik di kampus sering dipersepsikan sebagai urusan duniawi yang rawan konflik. Sebagian mahasiswa memilih menjaga jarak demi ketenangan akademik. Namun, dalam perspektif Islam, cara pandang ini perlu ditata ulang. Ketika pemerintahan dikelola tanpa etika, kezaliman tumbuh. Karena itu, pendidikan politik sejatinya bukan sekadar pengetahuan, melainkan ibadah sosial.

Islam tidak memisahkan iman dari tanggung jawab sosial. Kesalehan tidak berhenti pada ritual personal, tetapi menjelma dalam kepedulian terhadap keadilan publik. Di sinilah pendidikan politik di kampus menemukan maknanya: membentuk warga yang sadar amanah, berani bersikap, dan beradab dalam menyuarakan kebenaran.

Belajar Politik sebagai Fardhu Kifayah

Dalam khazanah Islam, ada kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang jika ditinggalkan bersama-sama akan menimbulkan mudarat. Literasi yang etis termasuk di dalamnya. Tidak semua orang harus terjun ke politik praktis, tetapi harus ada kelompok terdidik yang memahami urusan publik agar kekuasaan tidak dikuasai oleh mereka yang abai pada keadilan.

Pendidikan politik di kampus berperan strategis menunaikan kewajiban ini. Kampus menyiapkan mahasiswa memahami kebijakan, membaca dampak sosial, dan menilai kekuasaan dengan nalar dan iman. Tanpa pendidikan semacam ini, masyarakat mudah terseret propaganda, dan ruang publik kehilangan penuntun akal sehat.

Kesadaran sebagai Ibadah Sosial

Islam mengajarkan bahwa setiap amal bernilai ibadah jika diniatkan untuk kebaikan dan dilakukan dengan adab. Kesadaran kekuasaan ketika diarahkan untuk menjaga kemaslahatan termasuk di dalamnya. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan kekuasaan yang zalim. Pesan ini menegaskan bahwa keberanian moral adalah puncak kesalehan sosial.

Pendidikan politik di kampus yang berlandaskan etika Islam akan melatih mahasiswa menyampaikan kritik dengan hikmah, bukan kebencian; dengan argumen, bukan kegaduhan. Inilah ibadah sosial yang bekerja sunyi namun berdampak panjang.

Kampus dan Tanggung Jawab Penjagaan Akal

Dalam maqāṣid syarī‘ah, penjagaan akal (hifẓ al-‘aql) menempati posisi penting. Kampus adalah institusi utama penjaga akal publik. Pendidikan politik di kampus yang hidup akan menguatkan kemampuan mahasiswa memilah informasi, menolak manipulasi, dan mengelola perbedaan secara dewasa.

Sebaliknya, jika kampus menghindari pemerintahan atas nama ketenangan, mahasiswa kehilangan latihan penting untuk menghadapi realitas. Politik dipersepsikan kotor, sementara ruang publik di luar kampus diisi oleh narasi dangkal. Ini bukan perlindungan, melainkan pengabaian amanah pendidikan.

Partai X: Etika Warga Menentukan Kualitas Politik

Erick Karya, Ketua Umum Partai X, dalam beberapa kesempatan menekankan bahwa kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas warganya. Menurutnya, pendidikan politik di kampus memiliki peran mendasar untuk menanamkan etika publik sejak dini bukan untuk mencetak kader partisan, melainkan membentuk warga yang paham hak, kewajiban, dan batas kekuasaan.

Ia menilai bahwa kampus yang mendorong literasi beradab akan melahirkan generasi yang tidak mudah terprovokasi dan mampu berdialog secara dewasa. Dalam pandangannya, politik yang sehat lahir dari warga yang terdidik secara etis, bukan dari polarisasi tanpa nalar.

Pandangan ini sejalan dengan etika Islam: politik bukan tujuan, melainkan sarana untuk menghadirkan keadilan.

Penutup: Menyatukan Ilmu, Iman, dan Tanggung Jawab

Pendidikan politik di kampus tidak berhenti di ruang kelas. Ia harus mengalir ke ruang publik sebagai sikap hidup: peduli kebijakan, berani mengoreksi, dan setia pada adab. Mahasiswa yang ditempa dengan kesadaran ini akan menjadi profesional yang bertanggung jawab, aktivis yang berimbang, dan warga yang sulit ditipu.

Islam menegaskan bahwa perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil yang istiqamah. Kampus adalah tempat terbaik menanam benih itu.

Menjadikan pendidikan politik di kampus sebagai ibadah sosial berarti menyatukan ilmu, iman, dan tanggung jawab publik. Bukan untuk menggurui, apalagi menguasai, tetapi untuk menjaga keadilan dan kemaslahatan.

Jika kampus konsisten menunaikan peran ini, ia akan melahirkan generasi berilmu yang berani, beriman yang beradab, dan warga yang sadar amanah. Inilah tujuan akhir pendidikan politik di kampus dalam perspektif Islam: membangun politik yang dijaga oleh etika, bukan dikuasai oleh ketakutan.

Share This Article