Cinta Negara Berbasis Amanah dan Bahaya Nasionalisme yang Membungkam Kritik

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id — Salah satu distorsi paling berbahaya dalam kehidupan bernegara adalah ketika cinta negara dimaknai sebagai kewajiban untuk diam. Atas nama persatuan, kritik dipersempit. Atas nama stabilitas, suara berbeda dicurigai. Nasionalisme lalu berubah dari kesadaran etis menjadi alat pembungkaman. Dalam kondisi ini, cinta negara berbasis amanah kehilangan makna sejatinya.

Negara yang sehat justru membutuhkan koreksi. Kritik bukan ancaman, melainkan tanda kepedulian. Ketika kritik dimusuhi, negara tidak sedang dilindungi, tetapi sedang dijauhkan dari koreksi yang menyelamatkan.

Nasionalisme yang Takut pada Kritik

Nasionalisme yang alergi kritik adalah nasionalisme yang rapuh. Ia hanya kuat di permukaan, tetapi kosong secara moral. Pemerintah merasa aman bukan karena kebijakannya adil, melainkan karena warganya takut berbicara.

Dalam sejarah politik modern, pembungkaman kritik selalu dibungkus dengan narasi cinta negara. Siapa yang mengkritik dianggap merusak citra bangsa. Padahal, citra tanpa keadilan hanyalah ilusi.

Islam dengan tegas menolak logika ini. Kebenaran tidak diukur dari siapa yang berkuasa, melainkan dari nilai keadilan itu sendiri. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 135)

Ayat ini menegaskan bahwa kesetiaan seorang Muslim bukan pada kekuasaan, tetapi pada keadilan. Di sinilah fondasi cinta negara berbasis amanah berdiri.

Cinta Negara Berbasis Amanah: Kritik sebagai Tanggung Jawab Moral

Dalam perspektif Islam, diam terhadap ketidakadilan bukan sikap netral. Ia adalah keberpihakan pasif kepada kezaliman. Karena itu, kritik yang beradab justru merupakan bentuk ibadah sosial upaya menjaga negara agar tidak keluar dari rel nilai.

Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan umatnya untuk tunduk secara membuta. Para sahabat mengoreksi pemimpin, bahkan Khalifah Umar bin Khattab RA secara terbuka meminta rakyat menegurnya jika ia menyimpang. Inilah teladan bahwa kekuasaan yang sehat lahir dari keberanian diawasi.

Partai X: Negara Kuat Lahir dari Kritik, Bukan dari Ketakutan

Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa salah satu kesalahan besar dalam membangun nasionalisme adalah menganggap kritik sebagai ancaman. Menurutnya, logika ini justru memperlemah negara dalam jangka panjang.

“Negara yang dibela dengan membungkam kritik sebenarnya sedang dibela dari rakyatnya sendiri. Ini paradoks yang berbahaya,” ujar Prayogi.

Ia menegaskan bahwa cinta negara berbasis amanah menuntut relasi yang jujur antara rakyat dan kekuasaan. Rakyat berhak bertanya, menilai, dan mengoreksi. Pemerintah berkewajiban menjawab, memperbaiki, dan bertanggung jawab.

“Kritik adalah alarm. Mematikan alarm tidak menghilangkan kebakaran, hanya membuat api membesar tanpa disadari,” tegasnya.

Prayogi juga mengingatkan bahwa nasionalisme tanpa ruang kritik hanya akan melahirkan loyalitas semu. Di permukaan tampak rapi, tetapi di dalamnya rapuh dan penuh ketegangan sosial. Negara semacam ini rentan meledak karena masalah disimpan, bukan diselesaikan.

Penutup: Menjaga Negara dengan Keberanian Etis

Sering kali, kritik dipertentangkan dengan persatuan. Seolah-olah negara hanya bisa bersatu jika semua orang sepakat. Padahal persatuan yang sejati justru lahir dari keberanian berbeda pendapat dalam kerangka nilai yang sama.

Islam tidak mengenal persatuan palsu yang dibangun di atas ketakutan. Persatuan dalam Islam lahir dari keadilan, musyawarah, dan keterbukaan. Tanpa itu, persatuan hanyalah slogan.

Cinta negara berbasis amanah bukan tentang seberapa keras seseorang membela pemerintah, tetapi seberapa jujur ia menjaga nilai negara. Kritik yang bertanggung jawab adalah bentuk cinta yang paling dewasa.

Sebagaimana ditegaskan Prayogi, negara tidak membutuhkan warga yang selalu setuju, tetapi warga yang peduli pada arah dan masa depan. Ketika kritik dihormati, negara tumbuh kuat. Ketika kritik dibungkam, negara sedang berjalan menuju krisis yang ditunda.

Share This Article