muslimx.id — Gerakan mahasiswa cerdas bukan sekadar gerakan yang lantang di jalanan, ramai di media sosial, atau viral dalam narasi perlawanan. Dalam perspektif Islam, gerakan yang benar justru berangkat dari fondasi yang lebih dalam ilmu, kejujuran niat, ketepatan analisis, dan adab dalam bertindak. Aksi tanpa ilmu bisa berubah menjadi kerusakan, sementara kritik berbasis pengetahuan berpotensi menjadi jalan perbaikan sosial.
Mahasiswa dalam sejarah bangsa sering disebut sebagai agen perubahan. Namun perubahan dalam Islam tidak dibangun di atas ledakan emosi, melainkan kejernihan nalar. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahaya tindakan tanpa pengetahuan:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini menjadi prinsip penting dalam gerakan mahasiswa cerdas jangan bergerak hanya karena sentimen, potongan informasi, atau arus opini. Setiap sikap publik harus melewati proses tabayyun, riset, dan pertimbangan dampak.
Gerakan Berbasis Ilmu, Bukan Ledakan Emosi
Gerakan mahasiswa cerdas menempatkan data dan kajian sebagai fondasi. Demonstrasi, kritik kebijakan, maupun advokasi publik harus bertumpu pada argumen yang bisa diuji. Tanpa itu, gerakan mudah dimanfaatkan kepentingan lain atau terjebak dalam propaganda.
Dalam tradisi Islam, ilmu selalu didahulukan sebelum amal. Imam Bukhari bahkan meletakkan bab khusus dalam Shahih-nya: “Ilmu sebelum berkata dan berbuat.” Ini menunjukkan bahwa tindakan sosial pun harus didahului pemahaman.
Aktivisme emosional sering terlihat heroik, tetapi tidak selalu produktif. Ia cepat menyala dan cepat padam. Sebaliknya, gerakan berbasis ilmu mungkin tidak selalu viral, tetapi lebih tahan lama dan berdampak nyata.
Aksi sebagai Amanah Moral
Dalam Islam, keterlibatan dalam urusan publik bukan sekadar hak, tetapi amanah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Hadis ini sering dijadikan dasar gerakan sosial. Namun para ulama menekankan bahwa “mengubah” harus mempertimbangkan kemampuan, risiko, dan akibat. Tidak semua kemungkaran diubah dengan cara yang sama. Di sinilah kecerdasan, strategi, dan hikmah menjadi kunci.
Gerakan mahasiswa cerdas memahami bahwa tujuan utama bukan sekadar melawan, tetapi memperbaiki. Bukan sekadar menjatuhkan, tetapi meluruskan. Bukan sekadar bersuara, tetapi menghadirkan solusi.
Peran Riset dan Argumentasi Publik
Mahasiswa memiliki keunggulan yang tidak selalu dimiliki kelompok lain: akses pada ilmu, metodologi riset, dan tradisi akademik. Karena itu, gerakan mahasiswa seharusnya unggul dalam naskah akademik, policy brief, kajian alternatif, dan argumentasi publik yang kuat.
Kritik yang disertai solusi jauh lebih bermartabat daripada teriakan tanpa arah. Islam sendiri mengajarkan qaulan sadidan perkataan yang lurus, tepat, dan bertanggung jawab (QS. An-Nisa: 9). Ini bukan hanya etika bicara, tetapi juga etika berargumentasi.
Partai X: Gerakan Mahasiswa
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa kualitas gerakan mahasiswa hari ini sangat ditentukan oleh kedalaman basis pengetahuannya, bukan oleh seberapa keras volumenya.
Menurutnya, gerakan tanpa fondasi intelektual mudah digiring dan dipecah.
“Gerakan mahasiswa cerdas harus berbasis data, kajian, dan pemetaan dampak kebijakan. Jika tidak, energi moral yang besar justru bisa habis untuk isu yang salah sasaran. Dalam tradisi Islam, ilmu adalah kompas amal tanpa kompas, gerakan kehilangan arah,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa aktivisme kampus perlu menghidupkan kembali tradisi diskusi mendalam, riset kebijakan, dan literasi publik, bukan hanya mobilisasi massa.
Penutup: Ilmu sebagai Penjaga Keikhlasan Gerakan
Gerakan mahasiswa cerdas dalam perspektif Islam adalah gerakan yang memadukan keberanian dan kebijaksanaan. Ia tidak anti-aksi, tetapi anti kecerobohan. Ia tidak menolak perlawanan, tetapi menolak kebutaan informasi. Ilmu membuat gerakan lebih terarah, lebih adil, dan lebih sulit disalahgunakan.
Ilmu juga menjaga keikhlasan. Semakin dalam seseorang memahami persoalan, semakin ia sadar bahwa perubahan sosial bukan panggung pahlawan, melainkan kerja panjang yang penuh tanggung jawab. Di titik itu, aksi tidak lagi didorong oleh ego, tetapi oleh amanah.
Karena itu, sebelum turun ke jalan, naikkan dulu kualitas pemahaman. Sebelum mengangkat suara, perkuat dulu argumen. Itulah jalan gerakan mahasiswa cerdas dan itulah jalan yang lebih dekat dengan nilai Qur’ani.