muslimx.id — Ketimpangan ekonomi bukan sekadar angka statistik dalam laporan tahunan. Ia adalah realitas sosial yang terasa dalam kehidupan sehari-hari: jurang yang lebar antara yang sangat kaya dan yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berubah menjadi bom waktu. Inilah wajah nyata dari ancaman ketimpangan ekonomi terhadap stabilitas bangsa.
Ketika kekayaan terkonsentrasi pada segelintir kelompok, sementara mayoritas masyarakat berjuang untuk bertahan, rasa keadilan kolektif mulai tergerus. Ketimpangan yang ekstrem tidak hanya melahirkan kecemburuan sosial, tetapi juga potensi instabilitas .
Jurang Kaya–Miskin yang Makin Melebar
Ketimpangan ekonomi terjadi ketika distribusi pendapatan dan aset tidak merata. Sebagian kecil masyarakat menguasai sebagian besar sumber daya, sementara kelompok besar lainnya hanya mendapatkan bagian kecil dari pertumbuhan ekonomi.
Dampaknya terlihat pada: akses peluang usaha yang timpang, perbedaan kualitas pendidikan, ketimpangan layanan kesehatan, disparitas pembangunan wilayah.
Ancaman ketimpangan ekonomi menjadi serius ketika mobilitas sosial tertutup. Orang miskin sulit naik kelas, sementara orang kaya semakin memperluas akumulasi asetnya.
Dari Ketimpangan Menuju Instabilitas
Sejarah menunjukkan bahwa kesenjangan ekstrem sering menjadi pemicu konflik sosial. Ketika rasa keadilan hilang, kepercayaan terhadap sistem ikut melemah.
Al-Qur’an mengingatkan agar harta tidak berputar di kalangan orang kaya saja:
“…supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini menegaskan pentingnya distribusi yang adil. Jika distribusi gagal, maka ketimpangan bisa berubah menjadi krisis sosial.
Ancaman ketimpangan ekonomi tidak selalu muncul dalam bentuk demonstrasi besar. Ia bisa hadir dalam bentuk apatisme, ketidakpercayaan publik, atau meningkatnya kriminalitas akibat tekanan ekonomi.
Konsentrasi Kekayaan dan Pengaruh Politik
Ketimpangan yang tajam sering berkaitan dengan konsentrasi kekayaan pada kelompok tertentu yang memiliki akses kuat terhadap kebijakan. Ketika kekuatan ekonomi berkelindan dengan kekuasaan politik, peluang pemerataan semakin sempit.
Akibatnya: kebijakan cenderung menguntungkan kelompok mapan, subsidi dan bantuan tidak tepat sasaran, usaha kecil sulit berkembang.
Jika kebijakan publik tidak dirancang untuk memperkecil kesenjangan, maka ancaman ketimpangan ekonomi akan terus membesar.
Dampak Psikologis dan Sosial
Ketimpangan juga mempengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Rasa tertinggal dan ketidakadilan bisa melahirkan frustasi kolektif. Ketika harapan sosial menurun, stabilitas nasional ikut terancam.
Islam memandang keadilan sosial sebagai fondasi masyarakat yang sehat. Rasulullah ﷺ membangun solidaritas antara kaum Muhajirin dan Anshar sebagai bentuk pemerataan dan persaudaraan ekonomi.
Artinya, stabilitas bangsa tidak bisa dipisahkan dari distribusi kesejahteraan.
Partai X: Ketimpangan Ekonomi Tantangan Struktural
Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menilai bahwa ketimpangan ekonomi adalah tantangan struktural yang harus dihadapi secara serius.
“Ketimpangan bukan hanya soal perbedaan angka pendapatan. Ini soal rasa keadilan masyarakat. Kalau jurangnya terlalu jauh, stabilitas akan terganggu,” ujarnya.
Menurutnya, ancaman ketimpangan ekonomi harus dijawab dengan kebijakan yang memperluas akses, bukan sekadar pertumbuhan angka makro.
“Pertumbuhan penting, tapi pemerataan lebih penting. Kalau hanya tumbuh tanpa distribusi, kita sedang menanam bom sosial,” tegas Erick.
Ia menekankan bahwa negara harus hadir memastikan kesempatan ekonomi terbuka bagi semua lapisan masyarakat.
Penutup: Keadilan sebagai Penjaga Stabilitas
Bangsa yang stabil bukan hanya bangsa yang tumbuh secara ekonomi, tetapi bangsa yang adil dalam distribusi. Ketimpangan yang terlalu lebar dapat merusak pondasi kepercayaan publik terhadap sistem.
Ancaman ketimpangan ekonomi adalah peringatan bahwa pertumbuhan tanpa pemerataan tidak cukup.
Jika keadilan dijaga, stabilitas terpelihara. Namun jika jurang dibiarkan melebar, maka ketimpangan bisa berubah menjadi krisis. Dan sejarah selalu mengingatkan: ketidakadilan yang diabaikan akan mencari jalannya sendiri untuk meledak.