Ketika Banjir Sumatra Disalahkan pada Hujan: Padahal Kerusakan Hutan Jauh Lebih Nyata, Islam Mengingatkan Amanah Menjaga Alam

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id — Ketika banjir bandang menghancurkan Tapanuli Raya dan menelan ratusan nyawa, sebagian pejabat kembali menyalahkan cuaca ekstrem. Seolah-olah semua ini hanyalah “takdir alam” yang tidak bisa dicegah. Namun Islam mengajarkan untuk tidak mudah melempar kesalahan kepada hujan atau fenomena langit. Justru manusia diminta bercermin pada perbuatannya sendiri.

Allah mengingatkan:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatannya.” (QS Ar-Rum: 41)

Ketika hujan menjadi kambing hitam bencana banjir, ayat ini menjadi sangat relevan: kerusakan alam terjadi karena tangan manusia merusaknya, bukan karena langit mencurahkan hujan.

Hutan Gundul, Bukit Dipotong, Dan Investasi Diutamakan: Benih Kerusakan yang Panen Bencana

Dalam satu dekade, lebih dari 1,4 juta hektare hutan di Sumatra hilang. Kawasan lindung di Batang Toru penyangga utama sistem hidrologis Tapanuli menjadi korban pembukaan tambang, PLTA, geothermal, dan industri lain.

Ketika hujan turun, tanah tanpa pohon tak lagi mampu menahan air. Lereng yang dipotong untuk jalan tambang kehilangan daya ikat. Sungai tersumbat kayu dan material tambang. Lalu ketika bendungan alami jebol, air bah menerjang desa-desa sebagai debris flow yang mematikan.

Islam menegaskan:

“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS Al-A’raf: 56)

Kerusakan hutan bukan hanya persoalan ekologis tetapi pelanggaran terhadap amanah Allah untuk menjaga bumi.

Sunyi di Media, Padahal Ratusan Nyawa Melayang Di Mana Nurani?

Lebih dari 600 jiwa meninggal, ratusan hilang, dan hampir 600 ribu orang mengungsi. Namun pemberitaan nasional minim, negara tampak berjalan lambat, dan sebagian wilayah bahkan tidak menerima bantuan selama berhari-hari.

Rakyat terpaksa menjarah makanan bukan karena niat buruk, tetapi karena bertahan hidup sebuah tamparan keras bagi negara yang seharusnya hadir untuk mereka.

Islam menjadikan penyelamatan nyawa sebagai perintah tertinggi:

“Barangsiapa memelihara satu jiwa, maka seakan-akan ia telah memelihara seluruh manusia.” (QS Al-Ma’idah: 32)

Ketika nyawa tak segera ditolong, itu bukan sekadar kelalaian tetapi pelanggaran terhadap prinsip dasar agama.

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Prayogi R. Saputra, menegaskan bahwa negara tidak boleh cuci tangan atas bencana yang merupakan buah dari kebijakan sendiri.

“Jika hutan habis karena izin negara, maka bencana adalah tanggung jawab negara.”

Maka ketika pejabat sibuk mencari alasan, padahal rakyat tenggelam dalam duka, itu bukan hanya kegagalan politik, tetapi juga kegagalan amanah.

Solusi Partai X: Langkah yang Sejalan dengan Nilai Islam Menjaga Jiwa dan Bumi

  1. Moratorium Izin Baru di Hulu DAS dan Zona Rawan
    Agar tidak terjadi fasad (kerusakan) baru.
  2. Audit Independen Seluruh Perusahaan Perusak Hutan
    Prinsip hisbah menuntut transparansi dan pengawasan yang jujur.
  3. Penetapan Otomatis Status Bencana Nasional
    Karena syariat memprioritaskan penyelamatan jiwa di atas segala hal.
  4. Distribusi Bantuan Real-Time dan Transparan
    Amanah publik harus dijaga seperti amanah ibadah.
  5. Restorasi Hutan Bukit Barisan
    Ini bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi ibadah menjaga bumi Allah.
  6. Sanksi Tegas untuk Pejabat dan Korporasi Pelanggar Amanah
    Dalam fikih, perusak lingkungan wajib diberi ta’zir untuk mencegah kerusakan berulang.

Penutup: Bencana Tidak Akan Berhenti Selama Amanah Diabaikan

Banjir Sumatra adalah pengingat keras bahwa: jika hutan terus dirusak, izin industri diprioritaskan daripada keselamatan rakyat, dan pejabat terus menyalahkan hujan, maka bencana akan tetap datang dari zaman ke zaman.

Islam mengajarkan bahwa bumi adalah titipan. Nyawa manusia adalah amanah. Dan pemimpin adalah penjaga.

Selama dua amanah itu tidak dijaga, rakyat akan terus menjadi korban. Sudah saatnya negara kembali pada prinsip Islam: melindungi jiwa, menjaga bumi, dan berhenti bersembunyi di balik hujan.

Share This Article