muslimx.id – Dalam banyak konteks kekuasaan, kritik sering diposisikan sebagai ancaman. Mereka yang bersuara dianggap tidak taat, tidak nasionalis, bahkan dituduh ingin merusak stabilitas. Padahal dalam Islam, kritik justru dapat menjadi bentuk paling jujur dari taat kepada pemimpin, jika dilakukan untuk menjaga kebenaran dan keadilan.
Islam tidak pernah mengajarkan ketaatan yang membungkam akal dan nurani. Taat kepada pemimpin bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan, apalagi membenarkan kezaliman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; dan jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa diam bukan pilihan utama. Ketika rakyat melihat penyimpangan lalu memilih bungkam atas nama loyalitas, maka ketaatan telah berubah menjadi pengabaian tanggung jawab moral.
Kritik sebagai Bagian dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dalam Islam, kritik bukan sekadar hak, tetapi bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Menyampaikan kebenaran kepada penguasa adalah kewajiban sosial yang bernilai ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim)
Nasihat kepada pemimpin termasuk inti ajaran Islam. Karena itu, taat kepada pemimpin justru menuntut keberanian menyampaikan nasihat, bukan sekadar kepatuhan pasif. Kritik yang diniatkan untuk perbaikan adalah bentuk kesetiaan terhadap amanah, bukan pengkhianatan.
Ketika Kritik Dicap Pembangkangan
Masalah muncul ketika kritik dicurigai sebagai upaya menjatuhkan kekuasaan. Dalam situasi ini, taat kepada pemimpin disempitkan maknanya menjadi sekadar patuh tanpa bertanya.
Islam menolak logika ini. Kekuasaan yang tidak mau dikoreksi akan kehilangan kompas moralnya. Sejarah menunjukkan bahwa banyak rezim runtuh bukan karena terlalu banyak kritik, tetapi karena tidak mau mendengar kebenaran.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 113)
Ayat ini memperingatkan bahaya membiarkan kezaliman tumbuh karena takut dianggap tidak taat.
Partai X: Kritik Adalah Bentuk Loyalitas Etis
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menegaskan bahwa kritik yang jujur justru merupakan bentuk loyalitas etis kepada negara dan pemimpin.
“Kritik tidak lahir dari kebencian, tetapi dari kepedulian. Dalam Islam, rakyat yang diam terhadap kesalahan penguasa bukan rakyat yang taat, melainkan rakyat yang menyerah,” ujar Prayogi.
Menurutnya, taat kepada pemimpin harus dibaca sebagai relasi dua arah: pemimpin memerintah dengan amanah, rakyat mengingatkan dengan adab. Ketika kritik dibungkam, kekuasaan kehilangan cermin untuk melihat dirinya sendiri. Di titik itulah krisis moral negara dimulai.
Menjaga Adab dalam Kritik kepada Pemimpin
Islam memang mewajibkan penyampaian kebenaran, tetapi juga menekankan adab dan tanggung jawab. Kritik tidak boleh berubah menjadi fitnah, provokasi, atau kebencian personal. Namun adab tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam substansi kebenaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran dihadapan penguasa yang zalim.” (HR. Thabrani)
Hadits ini menunjukkan bahwa menyampaikan kebenaran, meski berisiko, adalah bentuk tertinggi tanggung jawab umat.
Islam tidak membutuhkan rakyat yang bisu, dan tidak melahirkan pemimpin yang anti kritik. Taat kepada pemimpin dalam Islam adalah ketaatan yang hidup, sadar, dan bermoral ketaatan yang berani berkata benar, bukan sekadar berkata patuh.