Bahaya Membungkam Kritik dan Tanggung Jawab Kolektif Umat: Antara Taubat Sosial dan Kehancuran

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.idSetiap masyarakat memiliki titik balik. Dalam Islam, titik balik itu sering ditentukan oleh satu hal: apakah kebenaran masih diberi ruang untuk berbicara, atau justru dibungkam demi kenyamanan semu. Di sinilah bahaya membungkam kritik mencapai makna terdalamnya bukan sekadar persoalan kekuasaan, tetapi urusan keselamatan moral kolektif.

Islam tidak menilai sebuah negeri hanya dari stabilitas dan pertumbuhan, melainkan dari keberanian moral warganya untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Ketika kritik dibungkam, dosa tidak lagi bersifat individual, melainkan berubah menjadi tanggungan bersama.

Dosa Kolektif dalam Perspektif Islam

Islam mengenal konsep dosa kolektif ketika kemungkaran dibiarkan terjadi di ruang publik. Bukan karena semua orang berbuat salah, tetapi karena tidak ada yang mencegah kesalahan itu.

Allah SWT berfirman:

“Mengapa orang-orang alim dan rahib mereka tidak melarang mereka dari perkataan dosa dan memakan yang haram?” (QS. Al-Ma’idah: 63)

Ayat ini menegaskan bahwa diamnya orang baik menjadi sebab utama murka Allah. Dalam konteks modern, bahaya membungkam kritik adalah mematikan fungsi pencegah dosa sosial membiarkan kemungkaran berjalan tanpa koreksi.

Ketika Taubat Harus Bersifat Sosial

Taubat dalam Islam tidak selalu cukup dilakukan secara individual. Ketika kesalahan telah menjadi sistemik, taubat juga harus bersifat sosial: memperbaiki struktur, membuka ruang nasihat, dan memulihkan keberanian publik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran lalu tidak mencegahnya, hampir saja Allah menimpakan azab kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini mengajarkan bahwa bahaya membungkam kritik menutup pintu taubat sosial. Selama kritik dianggap ancaman, selama itu pula jalan perbaikan kolektif ditutup.

Partai X: Kritik Adalah Energi Koreksi Bangsa

Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menegaskan bahwa kritik harus dipahami sebagai energi koreksi, bukan gangguan stabilitas.

“Kritik adalah bentuk kepedulian. Negara yang sehat bukan negara yang sunyi dari kritik, tetapi negara yang mampu mengelola kritik menjadi perbaikan. Ketika kritik dibungkam, kita sedang memutus dialog dengan nurani publik,” ujar Erick.

Menurutnya, bahaya membungkam kritik terletak pada hilangnya mekanisme koreksi dini. Kesalahan kecil dibiarkan membesar, ketidakadilan dinormalisasi, dan jarak antara penguasa dan rakyat makin melebar. Dalam perspektif etika Islam, kondisi ini berbahaya karena menumpuk dosa sosial yang suatu saat menuntut konsekuensi sejarah.

Erick juga menekankan bahwa kepemimpinan yang kuat justru ditandai oleh kerendahan hati untuk mendengar, bukan ketakutan terhadap perbedaan pendapat.

Islam dan Tanggung Jawab Sejarah Umat

Sejarah Islam menunjukkan bahwa kehancuran suatu kaum sering didahului oleh hilangnya keberanian berkata benar. Ketika suara kebenaran disingkirkan, masyarakat kehilangan kompas moral.

Allah SWT berfirman:

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)

Ayat ini mengingatkan bahwa kondisi kepemimpinan adalah cermin keadaan umat. Bahaya membungkam kritik bukan hanya kesalahan penguasa, tetapi juga kegagalan masyarakat menjaga amanah moralnya.

Penutup: Memilih Jalan Keselamatan atau Kehancuran

Islam selalu memberi pilihan: taubat atau konsekuensi. Taubat sosial berarti membuka kembali ruang kritik, melindungi nasihat, dan mengembalikan syura sebagai etika bersama. Sebaliknya, membiarkan kritik dibungkam berarti memilih jalan kehancuran yang perlahan namun pasti.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar dihadapan penguasa yang zalim.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa keberanian moral rakyat adalah benteng terakhir keselamatan umat. Islam tidak mengajarkan kegaduhan, tetapi menuntut kejujuran dan keberanian. Kritik adalah bagian dari iman sosial penjaga agar kekuasaan tetap berada di jalur keadilan.

Jika kritik masih diberi ruang, harapan perbaikan selalu ada. Namun jika kritik dimatikan, sejarah Islam mengajarkan satu kepastian: kehancuran bukan soal “jika”, melainkan “kapan”.

Share This Article