Cinta Negara Berbasis Amanah: Ketika Loyalitas Tidak Sama dengan Membenarkan Kekuasaan

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id — Dalam wacana publik hari ini, cinta negara kerap disederhanakan menjadi loyalitas tanpa syarat kepada pemerintah. Kritik dianggap pembangkangan. Koreksi diposisikan sebagai ancaman. Siapa yang berbeda suara, dicurigai tidak nasionalis. Padahal, dalam perspektif etika Islam dan kenegaraan yang sehat, cinta negara berbasis amanah justru menuntut keberanian untuk mengawasi kekuasaan, bukan membenarkannya secara membabi buta.

Negara bukan identik dengan pemerintah. Negara adalah amanah kolektif rakyat yang bersifat permanen, sementara pemerintah hanyalah pelaksana mandat yang sifatnya sementara. Ketika keduanya disatukan, maka cinta negara tergelincir menjadi kultus kekuasaan. Inilah awal dari rusaknya nasionalisme.

Nasionalisme Simbolik yang Menyesatkan

Nasionalisme simbolik tumbuh subur ketika cinta negara diukur dari seberapa keras seseorang membela pemerintah. Bendera, slogan, dan retorika persatuan digunakan untuk menekan kritik. Dalam kondisi seperti ini, negara tidak lagi menjadi ruang bersama, tetapi berubah menjadi tameng politik kekuasaan.

Akibatnya, rakyat dipaksa memilih posisi ekstrem: diam atau dicap pembenci negara. Kritik yang seharusnya menjadi mekanisme perbaikan justru diperlakukan sebagai gangguan stabilitas. Di titik ini, nasionalisme kehilangan dimensi etisnya.

Islam menolak logika semacam ini. Kekuasaan dalam Islam bukan hak, melainkan amanah. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini menegaskan bahwa amanah kekuasaan harus dijalankan dengan kejujuran dan keadilan, bukan dilindungi dari kritik atas nama loyalitas.

Cinta Negara Berbasis Amanah dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, mencintai negara berarti menjaga keadilan, melindungi yang lemah, dan mengoreksi penyimpangan. Amar ma’ruf nahi munkar tidak berhenti di ruang ibadah, tetapi juga berlaku dalam ruang sosial dan pemerintah. Kritik yang jujur adalah bagian dari tanggung jawab moral umat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini menunjukkan bahwa keberanian mengoreksi kekuasaan bukan tindakan subversif, melainkan bentuk cinta yang paling tinggi terhadap umat dan negara. Di sinilah cinta negara berbasis amanah menemukan maknanya: keberpihakan pada nilai, bukan pada figur.

Partai X: Loyalitas Buta adalah Pengkhianatan Amanah

Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa salah satu penyakit paling serius dalam demokrasi Indonesia hari ini adalah kaburnya batas antara negara dan kekuasaan. Menurutnya, banyak warga didorong untuk membela pemerintah atas nama nasionalisme, tanpa ruang kritis yang sehat.

“Ketika cinta negara diartikan sebagai membenarkan semua kebijakan penguasa, saat itulah amanah rakyat dikhianati secara halus,” ujar Prayogi.

Ia menegaskan bahwa nasionalisme sejati justru lahir dari keberanian mengoreksi kekuasaan. Negara yang kuat bukan negara yang sepi kritik, tetapi negara yang mampu belajar dari kritik warganya. Dalam pandangan Prayogi, cinta negara berbasis amanah menuntut warga negara untuk aktif menjaga arah, bukan sekadar bertepuk tangan.

Mengembalikan Cinta Negara ke Jalur Etik

Cinta negara yang sehat tidak memusuhi kritik. Ia justru memeliharanya sebagai alat perbaikan. Dalam kerangka ini, pemerintah bekerja di bawah pengawasan moral rakyat, sementara rakyat menjalankan kritik dengan adab dan tanggung jawab.

Membela negara berarti membela nilai keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan umum. Ketika kebijakan menyimpang dari nilai itu, diam bukanlah patriotisme, melainkan pembiaran.

Penutup: Cinta yang Menjaga, Bukan Menutup Mata

Negara tidak membutuhkan warga yang selalu membenarkan. Negara membutuhkan warga yang peduli, berani, dan beramanah. Cinta negara berbasis amanah menolak loyalitas kosong, tetapi meneguhkan tanggung jawab moral.

Sebagaimana ditegaskan Prayogi, mencintai negara bukan soal membela siapa yang berkuasa hari ini, tetapi menjaga agar kekuasaan tetap berada di jalur yang benar. Di sanalah nasionalisme menemukan martabatnya: bukan dalam sorak-sorai, tetapi dalam keberanian menjaga amanah.

Share This Article