Khutbah Jumat Edisi 06 Januari 2026: Keberagaman dalam Perspektif Islam Dakwah, Dialog, dan Hidup Bersama

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.idIslam adalah agama yang diturunkan untuk seluruh manusia dengan berbagai latar belakang suku, budaya, dan keyakinan. Karena itu, keberagaman dalam perspektif Islam bukanlah penyimpangan, melainkan kenyataan sosial yang diakui dan diarahkan. Islam tidak hanya mengatur ibadah personal, tetapi juga cara hidup berdampingan secara adil dan berakhlak.

Di tengah masyarakat majemuk, Islam tidak memerintahkan pemaksaan keyakinan. Islam mengajarkan dakwah dengan hikmah, dialog, dan keteladanan akhlak. Perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang interaksi moral dan kesempatan menghadirkan rahmat.

Allah SWT berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan kebijaksanaan, nasihat yang baik, dan dialog yang beradab bukan dengan paksaan dan permusuhan.

Tidak Ada Paksaan dalam Agama

Prinsip penting dalam Islam adalah kebebasan dalam memilih keyakinan. Iman tidak sah jika lahir dari tekanan. Karena itu, Islam menolak pemaksaan dalam urusan akidah.

Allah SWT berfirman:

“Tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Ayat ini menjadi fondasi bahwa dakwah adalah undangan, bukan tekanan. Tugas seorang Muslim adalah menyampaikan dengan benar dan berakhlak, bukan memaksa hasil. Hidayah adalah hak Allah, bukan hasil paksaan manusia.

Dalam masyarakat majemuk, prinsip ini menjadi sangat penting agar kehidupan bersama tetap damai dan bermartabat.

Teladan Nabi dalam Dialog Lintas Iman

Rasulullah ﷺ memberikan teladan nyata dalam hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Nabi berdialog, membuat perjanjian sosial, dan membangun kehidupan bersama tanpa mengorbankan aqidah.

Sejarah menunjukkan adanya dialog lintas iman yang dilakukan Nabi dengan adab dan keterbukaan. Perbedaan dibahas, bukan dibalas dengan kebencian. Inilah kekuatan Islam: teguh dalam iman, luas dalam akhlak.

Dialog bukan berarti melemahkan keyakinan, tetapi cara menyampaikan kebenaran dengan cara yang mulia.

Akhlak sebagai Dakwah Paling Kuat

Dalam masyarakat yang beragam, akhlak sosial adalah bentuk dakwah paling nyata. Kejujuran, keadilan, amanah, dan kepedulian adalah bahasa universal yang dipahami semua orang.

Banyak orang tertarik kepada Islam sepanjang sejarah bukan karena perdebatan, tetapi karena akhlak pemeluknya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa misi sosial Islam sangat terkait dengan kualitas akhlak. Seorang Muslim seharusnya menjadi sumber ketenangan, bukan sumber ketegangan; menjadi jembatan kebaikan, bukan pemicu permusuhan.

Penutup: Doa dan Harapan 

Keberagaman dalam perspektif Islam tidak menghalangi dakwah justru mematangkan caranya. Islam mengajarkan dakwah dengan hikmah, dialog dengan adab, dan hidup bersama dengan keadilan.

Perbedaan tidak harus dihapus untuk menghadirkan kebaikan. Ia dikelola dengan akhlak dan kejujuran. Dari sinilah dakwah menjadi rahmat, bukan tekanan; menjadi undangan, bukan paksaan.

Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang berakhlak mulia. Bimbing lisan kami agar berdakwah dengan hikmah dan kelembutan.

Ya Allah, tanamkan dalam hati kami sikap adil dan bijaksana dalam menghadapi perbedaan. Jadikan kami pembawa kedamaian di tengah masyarakat.

Ya Allah, satukan kami dalam kebenaran, kuatkan iman kami, dan indahkan akhlak kami. Berikan kebaikan bagi negeri kami dan seluruh kaum Muslimin.

Share This Article