muslimx.id– Keberagaman dalam perspektif Islam tidak berhenti pada pengakuan adanya perbedaan, tetapi meluas sampai pada tuntunan bagaimana memperlakukan pihak yang berbeda termasuk non-Muslim secara adil dan penuh ihsan. Dalam kerangka negara, prinsip ini menjadi sangat penting karena kehidupan kebangsaan selalu melibatkan interaksi lintas iman, budaya, dan komunitas.
Islam tidak mengajarkan permusuhan otomatis terhadap non-Muslim. Yang dibedakan secara tegas oleh Al-Qur’an adalah antara pihak yang memusuhi dan menindas dengan pihak yang hidup damai dan tidak memerangi. Dari sini lahir etika sosial yang jernih: keadilan dan kebaikan tetap wajib ditegakkan kepada siapapun yang tidak berbuat zalim.
Ihsan sebagai Prinsip Relasi Sosial
Dalam keberagaman dalam perspektif Islam, konsep ihsan menjadi kunci penting. Ihsan bukan sekadar adil, tetapi berbuat baik secara aktif. Ia melampaui sekadar tidak menzalimi tetapi juga menghadirkan kebaikan sosial.
Allah SWT berfirman:
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)
Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa relasi sosial lintas iman dibangun di atas keadilan dan kebaikan, bukan kebencian kolektif. Dalam konteks negara, ayat ini relevan sebagai fondasi etika kewargaan: hak sipil dan perlakuan adil tidak ditentukan oleh agama seseorang, tetapi oleh sikap dan tindakannya dalam kehidupan bersama.
Teladan Nabi dalam Masyarakat Majemuk
Nabi Muhammad ﷺ hidup dan memimpin dalam masyarakat majemuk di Madinah. Piagam Madinah menjadi bukti sejarah bahwa komunitas Muslim, Yahudi, dan kelompok lain diikat dalam satu kesepakatan sosial-politik untuk hidup bersama, saling melindungi, dan menjaga keadilan.
Rasulullah ﷺ bahkan berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi yang lewat di hadapannya. Ketika ditanya, beliau menjawab:
“Bukankah ia juga manusia?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa penghormatan kemanusiaan tidak dibatasi oleh identitas agama. Inilah wajah ihsan dalam praktik adab sosial yang lahir dari kedalaman iman.
Keberagaman dalam perspektif Islam karena itu bukan sekadar toleransi pasif, tetapi penghormatan aktif terhadap martabat manusia.
Negara sebagai Ruang Keadilan Bersama
Dalam negara modern, warga non-Muslim adalah bagian dari komunitas kebangsaan yang memiliki hak sipil yang sama. Prinsip keadilan Islam menuntut agar hukum dan kebijakan publik tidak diskriminatif dalam hak dasar: keamanan, pelayanan publik, dan perlindungan hukum.
Islam membedakan wilayah akidah dan wilayah muamalah sosial. Dalam akidah, Muslim tegas. Dalam muamalah sosial, Islam luas dan adil. Kekeliruan sering terjadi ketika batas ini kabur lalu ketegasan iman berubah menjadi kekerasan sosial.
Keberagaman dalam perspektif Islam justru menuntut kedewasaan: teguh dalam keyakinan, adil dalam perlakuan.
Partai X: Ihsan Sosial adalah Kekuatan Bangsa Majemuk
Erick Karya, Ketua Umum Partai X, menilai bahwa bangsa majemuk tidak bisa bertahan hanya dengan toleransi formal, tetapi membutuhkan etika sosial yang lebih tinggi yaitu ihsan. Menurutnya, konsep ihsan dalam Islam sangat relevan untuk memperkuat kohesi sosial kebangsaan.
“Kalau hanya toleransi, orang bisa sekadar menahan diri. Tapi ihsan mendorong orang untuk berbuat baik secara aktif. Itu jauh lebih kuat sebagai fondasi hidup bersama,” ujarnya.
Erick menegaskan bahwa keberagaman dalam perspektif Islam memberi kerangka moral yang jelas: tidak mencampuradukkan akidah, tetapi juga tidak merusak keadilan sosial.
“Negara yang damai bukan negara tanpa perbedaan, tapi negara yang warganya punya etika memperlakukan perbedaan. Ihsan itu etika tingkat tinggi,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik identitas sering dipicu bukan oleh ajaran agama, tetapi oleh manipulasi politik atas sentimen agama. Karena itu, literasi keislaman yang benar menjadi penting agar umat tidak mudah digiring pada permusuhan yang tidak diajarkan agama.
Penutup: Teguh dalam Iman, Luas dalam Kebaikan
Keberagaman dalam perspektif Islam membentuk keseimbangan: keteguhan iman berjalan bersama keluasan akhlak sosial. Islam tidak menuntut relativisme keyakinan, tetapi menuntut keadilan dan ihsan dalam kehidupan bersama.
Dalam negara majemuk, prinsip ini menjadi kekuatan besar: perbedaan tidak dihapus, tetapi dimuliakan melalui keadilan dan kebaikan. Dari sinilah lahir masyarakat yang tidak hanya toleran tetapi beradab.