muslimx.id — Al-Qur’an tidak hanya mengatur ibadah personal, tetapi juga memberi gambaran tentang seperti apa tatanan sosial dan kenegaraan yang baik. Salah satu konsep paling kuat tentang negara ideal dalam Islam tergambar dalam firman Allah tentang negeri Saba’: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun (QS. Saba’: 15).
Frasa ini bukan sekadar pujian historis, tetapi visi peradaban. Ia menjadi rujukan nilai tentang bagaimana sebuah negeri dibangun: kuat sistemnya, adil hukumnya, sejahtera rakyatnya, dan hidup spiritual masyarakatnya.
Negara ideal dalam Islam tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kualitas moral dan keadilan sosialnya. Sebab kemajuan tanpa etika akan melahirkan ketimpangan, dan kekuasaan tanpa nilai akan melahirkan penindasan.
Al-Qur’an menampilkan negeri Saba sebagai wilayah yang subur, produktif, dan aman. Namun keberkahan itu bergantung pada sikap moral penduduknya. Ketika syukur diganti dengan pengingkaran, stabilitas berubah menjadi bencana. Ini menunjukkan bahwa fondasi negara ideal bukan hanya sumber daya tetapi karakter manusia.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri. (Dikatakan kepada mereka): Makanlah olehmu dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu adalah) negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’: 15)
Ayat ini menghubungkan langsung antara kualitas negeri dan kualitas syukur.
Negeri Baik Menurut Tafsir
Dalam penjelasan tafsir, termasuk yang diuraikan oleh Quraish Shihab, gambaran negeri yang baik menunjukkan keteraturan sistem, kecukupan pangan, keamanan sosial, dan produktivitas masyarakat. Artinya, negara ideal dalam Islam bersifat fungsional lembaga berjalan, hukum ditegakkan, dan kebutuhan dasar terpenuhi.
Keberkahan bukan hanya berarti banyaknya hasil bumi, tetapi tepatnya pengelolaan bumi. Negeri bisa kaya, tetapi tidak berkah. Negeri bisa maju, tetapi tidak adil. Qur’an menekankan kualitas, bukan sekadar kuantitas.
Buya Hamka juga menekankan bahwa negeri baik bertahan selama nikmat dikelola dengan amal dan kerja. Ketika manusia berhenti berusaha dan lupa nilai, keruntuhan dimulai dari dalam.
Pilar Negara Ideal dalam Islam
Dari ayat dan tafsir, setidaknya ada tiga pilar negara ideal dalam Islam:
Pertama, keamanan. Rasa aman adalah kebutuhan dasar. Tanpa keamanan, ibadah terganggu, ekonomi lumpuh, dan ilmu tidak berkembang. Kedua, kesejahteraan. Islam menolak penumpukan harta pada segelintir orang. Distribusi manfaat sosial menjadi prinsip penting. Ketiga, moralitas. Integritas pemimpin dan rakyat menjadi penentu keberlanjutan keberkahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa negara ideal tidak lahir hanya dari penguasa, tetapi dari tanggung jawab kolektif.
Partai X: Visi Kebangsaan Berbasis Nilai
Ketua Umum Partai X, Erick Karya, dalam sebuah pernyataan tentang visi kebangsaan berbasis nilai, menekankan bahwa konsep negara ideal dalam Islam tidak boleh direduksi menjadi simbol keagamaan semata.
“Negara yang baik dalam perspektif Islam itu bukan negara yang paling banyak slogannya, tetapi paling terasa keadilannya. Ukurannya ada pada rasa aman rakyat, kejujuran tata kelola, dan keberanian mengoreksi kekuasaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa nilai Qur’ani tentang negeri baik justru menuntut transparansi dan pengawasan publik, bukan kultus kekuasaan.
“Baldatun thayyibatun itu sistem yang sehat, bukan sekadar niat yang baik,” tegasnya.
Negara ideal dalam Islam adalah proyek peradaban, bukan mimpi utopis. Ia dibangun melalui ilmu, keadilan, amanah, dan syukur sosial. Qur’an tidak hanya memberi gambaran tetapi juga memberi peringatan: keberkahan bisa dicabut jika nilai ditinggalkan.
Karena itu, membangun negeri tidak cukup dengan strategi dan regulasi. Ia memerlukan pondasi akhlak. Ketika moral dijaga, sistem diperbaiki, dan amanah ditegakkan di sanalah visi baldatun thayyibatun bergerak dari teks menjadi realitas.
Negara ideal bukan hanya kuat berdiri tetapi layak dihuni dengan martabat.