Khutbah Jumat Edisi 20 Februari 2026: Netralitas Palsu dalam Pemerintahan Saat Diam Membiarkan Ketidakadilan

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.idTulisan yang banyak dibahas di kalangan umat, mengingatkan kita tentang bahaya netralitas palsu dalam pemerintahan yaitu sikap seolah tidak memihak, tetapi justru membiarkan ketidakadilan berjalan. Banyak orang mengira tidak berpihak adalah sikap paling aman. Padahal dalam situasi kezaliman dan pelanggaran amanah, sikap diam bisa berubah menjadi masalah moral.

Tidak setiap konflik harus kita masuki. Namun ketika yang terjadi adalah ketidakadilan, manipulasi, dan penindasan hak publik, maka diam bukan lagi netral melainkan pembiaran. Islam tidak memandang ringan pembiaran terhadap kemungkaran sosial.

Allah SWT berfirman:

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sungguh buruk apa yang mereka lakukan.” (QS. Al-Ma’idah: 78–79)

Ayat ini menunjukkan bahwa dosa sosial tidak hanya lahir dari pelaku, tetapi juga dari mereka yang tidak mau mencegah.

Ketidakberpihakan yang Merusak

Netralitas palsu sering dibungkus dengan alasan damai tidak mau memperkeruh suasana, tidak mau ikut campur, tidak mau terlibat. Namun jika sikap itu membuat ketidakadilan terus berjalan, maka dampaknya merusak kehidupan bersama.

Akibat dari sikap netral terhadap kezaliman: pelaku merasa aman, korban merasa sendirian, masyarakat kehilangan standar moral.

Islam tidak mengajarkan keberanian yang serampangan, tetapi juga tidak membenarkan kepasifan yang disengaja.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa respon moral sesuai kemampuan adalah kewajiban, bukan pilihan tambahan.

Dosa Sosial dan Tanggung Jawab Kolektif

Banyak orang memahami dosa hanya sebagai pelanggaran pribadi. Padahal ada juga dosa sosial kerusakan yang terjadi karena kegagalan bersama menjaga kebaikan.

Ketika ketidakadilan terjadi luas dan orang memilih netral demi kenyamanan, kerusakan menjadi sistemik. Di titik ini, netralitas palsu bukan sekadar kelemahan tetapi ikut menyumbang kerusakan.

Allah SWT berfirman:

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu…” (QS. Al-Anfal: 25)

Artinya, dampak kerusakan sosial bisa mengenai semua termasuk yang diam.

Umat sebagai Saksi Kebenaran

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Islam menyebut umat beriman sebagai umat saksi-saksi atas kebenaran. Menjadi saksi berarti jelas secara moral: mengatakan attach yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah.

Allah SWT berfirman:

“Agar kamu menjadi saksi atas manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Kesaksian tidak harus keras, tidak harus kasar tetapi harus jelas. Tidak mengaburkan kebenaran demi rasa aman. Diam sering dianggap tidak memilih. Padahal diam adalah pilihan dan memiliki konsekuensi.

Penutup: Doa dan Harapan

Tidak semua netralitas itu salah. Tetapi netral terhadap kezaliman adalah sikap yang berbahaya. Islam memerintahkan hikmah dalam bersikap, namun tetap mewajibkan keberpihakan pada keadilan.

Adil memang tidak selalu nyaman. Bersikap memang tidak selalu aman. Tetapi diam di hadapan kesalahan bukan sikap orang beriman.

Ya Allah, jadikan kami hamba yang berani berkata benar dengan hikmah. Jauhkan kami dari sikap diam yang membiarkan kezaliman. Ya Allah, kuatkan kami untuk membela keadilan sesuai kemampuan kami.
Perbaiki keadaan masyarakat dan negeri kami dengan kebenaran dan amanah.

Rabbana taqabbal minna, innaka Antas-Sami’ul ‘Alim.

آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِين.

Share This Article