Krisis Pemimpin Berkualitas dan Lemahnya Pendidikan Politik Generasi Muda

muslimX
By muslimX
3 Min Read

muslimx.id — Membicarakan krisis pemimpin berkualitas tidak cukup hanya mengkritik figur yang sudah berada di panggung kekuasaan. Persoalan utamanya justru berada di hulu: bagaimana generasi muda dipersiapkan menjadi pemimpin?

Jika proses pembinaan sejak awal lemah, maka regenerasi kepemimpinan akan kehilangan arah.

Pendidikan sebagai Fondasi Kepemimpinan

Dalam Islam, kualitas kepemimpinan selalu diawali dari kualitas ilmu dan karakter. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Ayat ini menegaskan bahwa kapasitas ilmu adalah pembeda utama kualitas manusia. Pemimpin tanpa ilmu dan pemahaman mendalam tentang tata kelola negara berisiko mengambil keputusan tanpa dasar yang kuat. Namun ilmu saja tidak cukup. Ia harus disertai akhlak.

Amanah dan Seleksi Kepemimpinan

Al-Qur’an juga memberi parameter penting dalam memilih dan membentuk pemimpin:

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja adalah yang kuat lagi terpercaya (al-qawiy al-amin).” (QS. Al-Qashash: 26)

Kuat berarti kompeten dan memiliki kapasitas. Terpercaya berarti berintegritas dan amanah. Dua syarat ini jarang dibentuk secara instan. Ia lahir dari proses pendidikan, pembinaan, dan pengalaman organisasi yang panjang.

Ketika pendidikan politik generasi muda tidak diarahkan untuk membangun dua kualitas ini, maka krisis pemimpin berkualitas menjadi keniscayaan.

Lemahnya Literasi dan Pembinaan Karakter

Banyak generasi muda terlibat dalam politik, tetapi tidak semuanya mendapatkan pendidikan ideologis dan etis yang memadai.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab moral yang berat. Tanpa pembinaan kesadaran amanah sejak muda, jabatan mudah dipersepsikan sebagai prestise, bukan tanggung jawab.

Partai X: Lemahnya Pendidikan Politik

Adil Amrullah, yang kerap disapa Cak Dil dari Sekolah Negarawan, menilai bahwa akar persoalan regenerasi kepemimpinan terletak pada lemahnya pendidikan politik berbasis nilai.

“Kita terlalu fokus pada hasil, tetapi kurang serius membangun proses. Padahal pemimpin yang kuat lahir dari pendidikan karakter dan disiplin intelektual sejak muda,” ujarnya.

Menurut Cak Dil, krisis pemimpin berkualitas hanya bisa diatasi jika generasi muda dibekali dengan literasi kebangsaan, pemahaman konstitusi, dan kesadaran amanah.

“Kalau sejak awal mereka tidak ditanamkan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab di hadapan rakyat dan di hadapan Allah, maka orientasinya mudah bergeser,” tegasnya.

Penutup: Menata Ulang Arah Pembinaan

Solusi dari krisis pemimpin berkualitas bukan hanya mengganti figur, tetapi memperbaiki sistem pendidikan dan kaderisasi generasi muda.

Islam telah memberi panduan: pemimpin harus kuat dan terpercaya. Dan dua kualitas itu hanya bisa lahir dari proses panjang pembinaan ilmu dan akhlak. Jika hulu diperbaiki, maka hilir akan mengikuti.

Dan dari generasi yang ditempa dengan nilai Qur’ani dan tanggung jawab moral, akan lahir pemimpin yang bukan hanya cakap memimpin, tetapi juga takut menyalahgunakan kekuasaan.

Share This Article