muslimx.id — Membahas krisis pemimpin berkualitas tidak bisa berhenti pada kritik individu. Masalah ini bersifat sistemik dan melibatkan tiga aktor utama: partai politik, negara, dan masyarakat. Jika salah satu gagal menjalankan perannya, maka regenerasi kepemimpinan akan pincang.
Negara yang kuat tidak hanya membutuhkan sistem pemilu yang baik, tetapi juga sistem pembinaan pemimpin yang berkelanjutan.
Tanggung Jawab Partai Politik
Partai politik seharusnya menjadi sekolah kaderisasi. Di sanalah nilai, ideologi, visi kebangsaan, dan integritas ditanamkan secara konsisten.
Namun jika partai lebih mengutamakan elektabilitas jangka pendek dibanding pembinaan jangka panjang, maka kualitas kader menjadi taruhannya.
Krisis pemimpin berkualitas seringkali berakar pada: proses rekrutmen yang tidak berbasis merit, minimnya pendidikan politik berjenjang, lemahnya evaluasi integritas kader, absennya pembinaan karakter.
Tanpa reformasi internal, partai akan terus menghasilkan pemimpin yang siap bertarung, tetapi belum tentu siap memimpin.
Peran Negara dalam Regulasi
Negara memiliki tanggung jawab memastikan sistem pemerintahan berjalan sehat. Regulasi yang mendorong transparansi, akuntabilitas, dan pendidikan politik harus ditegakkan.
Jika negara membiarkan praktik pragmatis dan transaksional berkembang, maka sistem akan semakin menjauh dari cita-cita demokrasi substantif.
Reformasi kelembagaan menjadi penting agar proses kaderisasi tidak hanya bergantung pada kehendak pejabat, tetapi memiliki standar yang jelas dan terukur.
Tanggung Jawab Masyarakat
Masyarakat juga memegang peran penting. Publik yang hanya melihat popularitas tanpa menilai rekam jejak dan integritas turut memperkuat budaya instan.
Kesadaran kolektif untuk menghargai proses kaderisasi, pengalaman organisasi, dan konsistensi nilai akan mendorong lahirnya pemimpin yang lebih matang.
Krisis pemimpin berkualitas bukan hanya kegagalan pejabat, tetapi juga refleksi dari budaya masyarakat.
Partai X: Solusi Krisis Kepemimpinan
Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menegaskan bahwa solusi krisis kepemimpinan harus dimulai dari pembenahan sistem kaderisasi internal partai.
“Kalau partai tidak serius membangun sekolah kader, maka sulit berharap lahir pemimpin yang matang. Kemenangan pemilu penting, tetapi kualitas kepemimpinan jauh lebih menentukan masa depan bangsa,” ujarnya.
Menurut Erick Karya, krisis pemimpin berkualitas hanya bisa diatasi dengan komitmen jangka panjang.
“Proses kaderisasi harus konsisten, berjenjang, dan berbasis integritas. Kita tidak boleh terjebak pada logika instan yang justru melemahkan fondasi kepemimpinan nasional,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa partai, negara, dan masyarakat harus berjalan bersama dalam membangun ekosistem politik yang sehat.
Penutup: Membangun Ekosistem Kepemimpinan yang Sehat
Mengatasi krisis pemimpin berkualitas bukan pekerjaan satu pihak. Ia membutuhkan reformasi sistemik dan kesadaran kolektif.
Jika partai memperbaiki kaderisasi, negara memperkuat regulasi, dan masyarakat meningkatkan literasi, maka regenerasi kepemimpinan akan lebih kokoh.
Karena bangsa yang besar tidak hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih hari ini, tetapi oleh bagaimana ia menyiapkan pemimpin untuk esok hari.