muslimx.id – Khutbah Jumat edisi 14 Agustus 2026 mengangkat persoalan ancaman kekuasaan tanpa akuntabilitas, ketika kewenangan yang besar tidak diiringi dengan tanggung jawab, pengawasan, dan keberpihakan kepada keadilan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi sarana untuk melayani masyarakat dapat berubah menjadi alat kepentingan pribadi atau kelompok apabila tidak dikendalikan oleh nilai amanah. Dalam kehidupan berbangsa, kekuasaan membutuhkan batas dan pertanggungjawaban agar tidak melahirkan kesewenang-wenangan. Ketika pemegang kekuasaan tidak lagi merasa harus mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakannya kepada rakyat, maka risiko munculnya ketidakadilan semakin besar. Islam mengajarkan bahwa setiap amanah, termasuk kepemimpinan dan kewenangan, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Kekuasaan bukanlah hak mutlak seseorang, melainkan titipan yang harus digunakan untuk menjaga hak manusia dan mewujudkan kemaslahatan bersama.
Islam Mengajarkan Kekuasaan sebagai Amanah
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa amanah harus diberikan kepada orang yang mampu menjaganya dan harus dijalankan dengan prinsip keadilan. Kekuasaan dalam Islam bukan simbol keistimewaan, melainkan tanggung jawab besar untuk melindungi masyarakat.
Penjelasan ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab terhadap manusia yang dipimpinnya, tetapi juga kepada Allah SWT. Setiap keputusan yang merugikan rakyat, setiap hak yang diabaikan, dan setiap bentuk ketidakadilan akan menjadi catatan pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Hadis tentang Pemimpin dan Tanggung Jawabnya
Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa tidak ada kekuasaan yang bebas dari pertanggungjawaban. Seorang pemimpin harus menyadari bahwa jabatan bukan hanya tentang kewenangan untuk memutuskan, tetapi juga kewajiban untuk menjaga kepentingan orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya.
Ketika pemimpin menggunakan kekuasaan tanpa memperhatikan amanah, maka kekuasaan tersebut dapat berubah menjadi sumber kezaliman. Sebaliknya, pemimpin yang memahami tanggung jawab akan selalu berusaha menghadirkan keadilan dan mendengar suara masyarakat.
Bahaya Kekuasaan yang Tidak Diawasi
Kekuasaan tanpa akuntabilitas dapat menimbulkan berbagai dampak buruk dalam kehidupan masyarakat.
1. Munculnya Penyalahgunaan Wewenang
Ketika seseorang memiliki kewenangan besar tanpa pengawasan yang kuat, peluang terjadinya penyimpangan semakin meningkat. Kekuasaan dapat digunakan untuk mempertahankan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan tertentu. Islam mengingatkan bahwa jabatan bukan sarana untuk mendapatkan keuntungan pribadi, melainkan amanah yang harus dijaga.
2. Keadilan Mulai Dikesampingkan
Keadilan menjadi korban ketika keputusan hanya didasarkan pada kepentingan tertentu. Masyarakat yang seharusnya mendapatkan perlindungan justru dapat kehilangan haknya apabila hukum dan kebijakan tidak lagi berpihak kepada kebenaran.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.”
(QS. An-Nisa: 135)
Ayat ini mengajarkan bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa melihat kedudukan seseorang. Tidak boleh ada hukum yang berbeda karena pengaruh kekuasaan atau kepentingan.
3. Hilangnya Kepercayaan Rakyat
Kepercayaan masyarakat merupakan fondasi penting dalam kehidupan bernegara. Ketika rakyat melihat kekuasaan tidak memiliki tanggung jawab dan sulit dikoreksi, maka hubungan antara pemimpin dan masyarakat menjadi semakin jauh. Hilangnya kepercayaan dapat melemahkan persatuan sosial dan membuat masyarakat merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Islam Menolak Kesewenang-wenangan dalam Kepemimpinan
Islam memberikan perhatian besar terhadap bahaya kesombongan akibat kekuasaan. Seorang pemimpin tidak boleh merasa lebih tinggi dari rakyat yang dipimpinnya.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan bahwa pemimpin harus dekat dengan masyarakat, mendengar keluhan mereka, dan memastikan hak-hak mereka terlindungi.
Kekuasaan yang benar bukanlah kekuasaan yang membuat seseorang bebas dari kritik, tetapi kekuasaan yang siap menerima nasihat dan evaluasi demi kebaikan bersama.
Membangun Kekuasaan yang Berkeadilan dan Bertanggung Jawab
Agar kekuasaan tidak berubah menjadi sumber ketidakadilan, diperlukan beberapa prinsip:
Menanamkan Nilai Amanah
Setiap pemimpin harus memahami bahwa jabatan adalah titipan Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Memperkuat Pengawasan
Kekuasaan harus memiliki mekanisme pengawasan agar keputusan tetap berada dalam koridor keadilan dan kepentingan masyarakat.
Mengutamakan Kepentingan Publik
Pemimpin harus menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
Membuka Ruang Kritik dan Musyawarah
Islam mengajarkan pentingnya musyawarah. Kritik yang membangun bukan ancaman, tetapi cara menjaga agar kekuasaan tetap berada di jalan yang benar.
Kekuasaan yang Amanah Membawa Keberkahan
Sejarah Islam menunjukkan bahwa pemimpin yang adil selalu menempatkan rakyat sebagai tanggung jawab utama. Mereka tidak melihat jabatan sebagai kehormatan semata, tetapi sebagai beban amanah yang harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian.
Kekuasaan yang disertai akuntabilitas akan melahirkan kepercayaan, sedangkan kekuasaan tanpa pertanggungjawaban berpotensi melahirkan ketidakadilan.
Karena itu, masyarakat harus terus menjaga nilai amanah, kejujuran, dan keadilan agar kekuasaan tetap menjadi sarana menghadirkan kebaikan bagi seluruh umat.
Penutup dan Doa
Khutbah Jumat edisi 14 Agustus 2026 mengingatkan bahwa ancaman kekuasaan tanpa akuntabilitas dapat menyebabkan keadilan dikesampingkan dan hak masyarakat terabaikan. Islam mengajarkan bahwa setiap kekuasaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada manusia maupun kepada Allah SWT. Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang memiliki kekuasaan besar, tetapi mereka yang mampu menjaga amanah, menegakkan keadilan, dan menggunakan kewenangannya untuk kemaslahatan masyarakat.
Ya Allah, jadikanlah para pemimpin kami orang-orang yang amanah, adil, dan takut kepada-Mu. Jauhkan negeri kami dari kekuasaan yang zalim dan keputusan yang merugikan rakyat. Berikanlah kekuatan kepada kami untuk menjaga kebenaran, menyampaikan nasihat dengan bijaksana, dan memperjuangkan keadilan. Satukan hati kami dalam kebaikan, limpahkan keberkahan kepada negeri kami, dan lindungi kami dari segala bentuk kezaliman. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.