YOGYAKARTA — Perdamaian antarbangsa tidak selalu harus dimulai dari meja perundingan. Ia dapat tumbuh dari ruang kebudayaan, dari perjumpaan manusia, bahkan dari musik yang mempertemukan dua tradisi yang berbeda. Gagasan tersebut terasa dalam “Serambi Peradaban: Nusantara-Persia” yang digelar di Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta, pada 24 September 2026. Dalam forum tersebut, Gamelan Kiai Kanjeng, Sekolah Negarawan, dan Atase Kebudayaan Republik Islam Iran bertemu dalam sebuah dialog yang menempatkan kebudayaan sebagai jembatan antarbangsa.
Atase Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia, Dr. Yahya Jahangiri, hadir dalam pertemuan tersebut untuk berbagi perspektif mengenai hubungan sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan antara Iran dan Nusantara. Kehadirannya disambut oleh Senior Advisor Sekolah Negarawan Adil Amrullah atau Cak Dil, Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya.
Pertemuan tersebut memiliki suasana yang berbeda dari forum dialog kebudayaan pada umumnya. Musik Gamelan Kiai Kanjeng menjadi bagian dari atmosfer perjumpaan. Alunan musik tidak hanya menjadi pengisi acara, tetapi turut menciptakan ruang yang lebih cair sehingga percakapan mengenai kebudayaan dan peradaban berlangsung dalam suasana yang dekat dengan masyarakat.
Ketika Musik Membuka Ruang Perjumpaan
Musik memiliki kemampuan untuk mempertemukan manusia tanpa terlebih dahulu menanyakan dari mana mereka berasal. Seseorang dapat menikmati sebuah nada meskipun tidak memahami seluruh latar sejarah yang melahirkannya.
Karakter tersebut menjadi penting dalam Serambi Peradaban. Gamelan Kiai Kanjeng membawa tradisi musikal Nusantara ke dalam ruang dialog dengan kebudayaan Persia. Pertemuan itu tidak diarahkan untuk menghapus perbedaan, tetapi untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing kebudayaan untuk saling mengenal.
Rumah Maiyah Kadipiro kemudian menjadi ruang yang mempertemukan musik, pemikiran, dan percakapan kebudayaan. Di tempat tersebut, diskusi mengenai hubungan Nusantara dan Persia tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman menikmati seni secara bersama.
Dalam konteks hubungan antarbangsa, pengalaman semacam ini memiliki arti penting. Sebuah bangsa dapat mengenal bangsa lain bukan hanya melalui pemberitaan atau narasi politik, tetapi melalui kebudayaan yang hidup di tengah masyarakatnya.
Kiai Kanjeng dan Jejak Kebudayaan Cak Nun
Bagi Sekolah Negarawan, keterlibatan Gamelan Kiai Kanjeng memiliki hubungan erat dengan pemikiran Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang menjadi salah satu fondasi kajian lembaga tersebut.
Cak Nun dan Kiai Kanjeng selama bertahun-tahun dikenal melalui berbagai ruang perjumpaan yang mempertemukan masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Musik menjadi salah satu medium yang memungkinkan perbedaan tersebut berada dalam satu ruang tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Pengalaman itulah yang kemudian menjadi relevan ketika Sekolah Negarawan mempertemukan Kiai Kanjeng dengan Atase Kebudayaan Iran. Musik ditempatkan sebagai bagian dari proses membangun komunikasi kebudayaan.
Prayogi R. Saputra melihat keterlibatan Kiai Kanjeng dalam forum tersebut tidak semata-mata sebagai unsur artistik. Kehadiran musik menjadi bagian dari pendekatan kebudayaan yang ingin mempertemukan pemikiran, masyarakat, dan peradaban dalam suasana yang lebih terbuka.
Dari Napak Tilas 12 Negara
Dialog Nusantara-Persia di Kadipiro juga merupakan bagian dari perjalanan panjang Sekolah Negarawan dalam menelusuri jejak pemikiran dan kiprah Cak Nun di berbagai negara.
Selama dua tahun terakhir, Sekolah Negarawan melakukan perjalanan ke 12 negara yang mencakup Eropa Barat, Finlandia, Estonia, Turkiye, kawasan Timur Tengah, Iran, hingga Asia Tenggara. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk melihat bagaimana pemikiran yang tumbuh dari pengalaman Nusantara dapat ditempatkan dalam percakapan dengan tradisi peradaban lain.
Rinto Setiyawan menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Pengalaman lapangan yang diperoleh dari berbagai negara kemudian dibawa kembali ke Indonesia untuk didiskusikan dan dipertemukan dengan konteks masyarakat Nusantara.
Perjalanan itu tidak berhenti di luar negeri. Sekolah Negarawan juga melakukan diseminasi hasil kajiannya di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Medan di bagian barat hingga Ternate dan Tidore di kawasan timur.
Dari perjalanan tersebut, terbentuk sebuah pola belajar yang menarik. Dunia digunakan sebagai ruang untuk melihat Indonesia dari perspektif yang lebih luas, sementara Indonesia tetap menjadi tempat untuk menguji kembali gagasan yang diperoleh dari perjalanan tersebut.
Nusantara dan Persia dalam Satu Ruang
Kehadiran Dr. Yahya Jahangiri memberikan dimensi lain dalam pertemuan tersebut. Tradisi Persia memiliki sejarah panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, sastra, spiritualitas, dan seni. Nusantara pun memiliki pengalaman kebudayaan yang tidak kalah beragam.
Ketika keduanya dipertemukan, yang muncul bukan sekadar pertukaran kesenian. Ada kesempatan untuk membicarakan nilai-nilai yang berada di balik kebudayaan tersebut.
Bagaimana manusia memandang ilmu? Bagaimana spiritualitas ditempatkan dalam kehidupan? Bagaimana masyarakat mempertahankan identitas ketika berhadapan dengan perubahan zaman? Bagaimana kebudayaan dapat menjadi kekuatan yang mempertemukan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat dialog Nusantara-Persia menjadi lebih luas daripada sekadar pertukaran budaya.
Ta’aruf sebagai Jalan Mengenal Peradaban
Dalam perspektif Dr. Yahya Jahangiri, perjumpaan melalui musik dapat mempermudah proses ta’aruf, yakni saling mengenal. Konsep tersebut memiliki makna yang penting dalam hubungan antarbudaya karena mengenal bangsa lain berarti memberikan kesempatan untuk memahami manusia di balik identitas sebuah negara.
Hubungan antarbangsa akan lebih mudah dibangun ketika masyarakat tidak hanya mengenal negara lain melalui kepentingan politik atau ekonomi. Mereka juga perlu mengenal kebudayaan, sejarah, tradisi, dan cara pandang masyarakatnya.
Musik dalam konteks tersebut menjadi bahasa yang sederhana tetapi memiliki daya jangkau luas. Ia tidak memerlukan kesamaan bahasa untuk dapat dinikmati. Ia juga tidak menuntut kesamaan pengalaman untuk dapat dirasakan.
Dari sanalah kebudayaan dapat menjadi pintu awal bagi percakapan yang lebih besar.
Kebudayaan sebagai Jalan Perdamaian
Cak Dil dan Erick Karya melihat perjumpaan antara Kiai Kanjeng, Sekolah Negarawan, dan Atase Kebudayaan Iran sebagai ruang yang relevan untuk generasi muda. Di tengah dunia yang semakin terhubung melalui teknologi, kemampuan mengenal kebudayaan lain justru menjadi semakin penting.
Generasi muda tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi secara digital, tetapi juga kemampuan memahami perbedaan manusia. Teknologi dapat membuat seseorang terhubung dengan orang di belahan dunia lain dalam hitungan detik. Namun, kedekatan teknologi belum tentu otomatis menghasilkan kedekatan budaya.
Karena itu, ruang seperti Serambi Peradaban memiliki relevansi tersendiri. Ia mempertemukan teknologi modern dengan pengalaman kebudayaan yang telah tumbuh jauh sebelum era digital.
Dari Rumah Maiyah Kadipiro, Gamelan Kiai Kanjeng menghadirkan suara Nusantara. Dari Iran hadir pengalaman peradaban Persia. Sekolah Negarawan membawa kajian mengenai kenegaraan dan kebangsaan. Ketiganya bertemu dalam satu ruang dialog.
Perjumpaan tersebut menunjukkan bahwa perdamaian dapat dibangun melalui banyak jalan. Politik memiliki jalannya sendiri. Diplomasi formal memiliki mekanismenya. Namun, kebudayaan menawarkan jalan yang lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Sebab, sebelum menjadi warga sebuah negara, manusia terlebih dahulu adalah manusia. Dan ketika manusia bersedia saling mengenal melalui kebudayaan, selalu ada ruang untuk menemukan kesamaan di tengah perbedaan.