muslimx.id — Hubungan antara dua bangsa tidak selalu dimulai dari meja diplomasi atau pertemuan para pejabat negara. Kadang, hubungan itu justru tumbuh dari ruang yang lebih sederhana: ruang kelas, perpustakaan, penelitian, diskusi, dan perjumpaan antarorang yang memiliki perhatian terhadap ilmu pengetahuan.
Semangat tersebut menjadi bagian dari pertemuan antara Sekolah Negarawan dan Nahjul Balaghah Institute di Isfahan, Iran. Pada 25 Agustus 2026, kedua institusi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai langkah awal membangun kerja sama pendidikan, penelitian, konferensi, serta pengembangan sains dan teknologi.
Penandatanganan dilakukan di Universitas Islam Azad Isfahan oleh Direktur Nahjul Balaghah Institute, Hujjatul Islam Ahmad Salek Kashani, bersama Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, PhD. Namun, yang lebih penting dari sebuah dokumen kerja sama adalah gagasan yang berada di baliknya.
Bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman dua bangsa?
Dari Kota Tua Isfahan Menuju Ruang Kolaborasi
Kerja sama tersebut lahir setelah Tim Sekolah Negarawan mengunjungi Nahjul Balaghah Institute yang berada di kawasan Kota Tua Isfahan. Kunjungan menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat lembaga yang memiliki perhatian terhadap kajian Nahjul Balaghah sekaligus membuka pembicaraan mengenai kemungkinan kolaborasi dengan institusi dari Indonesia.
Pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai berbagai bentuk kerja sama. Tidak hanya dalam bidang kajian keislaman. Tidak hanya dalam pendidikan. Tetapi juga dalam penelitian, konferensi, sains, teknologi, dan inovasi. Dari sebuah kunjungan, muncul gagasan tentang hubungan yang lebih panjang.
Ketika Skripsi Menjadi Ruang Pertemuan Dua Bangsa
Salah satu bentuk kerja sama yang mendapat perhatian adalah peluang pengembangan joint student theses. Gagasan ini membuka kemungkinan mahasiswa dari Indonesia dan Iran mengembangkan penelitian yang memiliki keterkaitan dengan kedua negara.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut dapat memberikan dimensi baru dalam proses akademik. Sebuah penelitian tidak lagi hanya melihat persoalan dari satu konteks nasional. Mahasiswa dapat membandingkan pengalaman Indonesia dengan Iran. Mempelajari perbedaan pendekatan. Melihat persamaan persoalan.
Dan menemukan kemungkinan solusi melalui perspektif yang lebih luas. Dengan demikian, tugas akhir tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan memperoleh gelar akademik. Ia dapat menjadi ruang perjumpaan intelektual.
Dari Penelitian Bersama hingga Konferensi
Kerja sama juga membuka peluang untuk mengembangkan joint research. Penelitian bersama memungkinkan akademisi dari kedua institusi mempertemukan pengalaman, metodologi, sumber pengetahuan, dan perspektif yang berbeda.
Indonesia dan Iran memiliki sejarah yang tidak sama. Keduanya memiliki struktur sosial, pengalaman politik, tradisi pendidikan, dan perkembangan kelembagaan yang berbeda.
Namun, justru perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan penelitian komparatif. Melalui penelitian bersama, sebuah persoalan dapat dilihat dari lebih dari satu sudut pandang. Sementara melalui konferensi bersama, hasil pemikiran tersebut dapat dipertemukan dengan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan praktisi yang lebih luas. Ilmu pengetahuan kemudian menjadi ruang dialog.
Ketika Tradisi Keilmuan Bertemu Teknologi
Menariknya, ruang kerja sama tidak berhenti pada bidang sosial-humaniora dan kajian keislaman. MoU juga membuka peluang kolaborasi di bidang sains dan teknologi, termasuk kemungkinan membangun jejaring dengan Science and Technology Park.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa kerja sama akademik masa kini tidak dapat lagi dibatasi oleh sekat-sekat disiplin secara kaku. Kajian tentang agama dan peradaban dapat berdampingan dengan teknologi. Penelitian sosial dapat bertemu dengan inovasi. Pemikiran dapat diterjemahkan menjadi model.
Dan pengetahuan dapat dikembangkan menjadi solusi. Perguruan tinggi pada akhirnya tidak hanya dituntut menjaga tradisi ilmu, tetapi juga menjawab tantangan masa depan.
Indonesia dan Iran: Berbeda Pengalaman, Bertemu dalam Ilmu
Indonesia dan Iran memiliki perjalanan sejarah yang berbeda. Keduanya berkembang dalam lingkungan sosial dan politik yang tidak sama. Namun, keduanya juga memiliki tradisi intelektual yang panjang serta masyarakat Muslim yang memiliki kekayaan pemikiran dan kebudayaan.
Perbedaan tersebut tidak harus menjadi jarak. Dalam dunia akademik, perbedaan justru dapat menjadi bahan untuk saling belajar. Indonesia dapat melihat pengalaman Iran. Iran dapat mempelajari pengalaman Indonesia. Keduanya dapat membandingkan institusi, pendidikan, kebijakan, teknologi, dan perkembangan masyarakat. Dari proses tersebut, pengetahuan baru dapat lahir.
Diplomasi yang Tumbuh dari Kampus
Kerja sama akademik memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar agenda institusi. Ia juga dapat menjadi bentuk people-to-people connection antara dua negara. Mahasiswa yang bertemu dengan mahasiswa dari negara lain akan membawa pulang pengalaman. Peneliti yang melakukan penelitian bersama akan membangun jejaring.
Akademisi yang berdiskusi akan saling mengenal cara berpikir. Dan institusi yang bekerja sama akan membuka kemungkinan kolaborasi yang lebih panjang. Inilah bentuk hubungan antarbangsa yang tumbuh dari bawah melalui pengetahuan. Diplomasi tidak hanya dilakukan oleh negara kepada negara. Ia juga dapat tumbuh melalui masyarakat akademik.
MoU Bukan Tujuan, tetapi Titik Awal
Penandatanganan MoU pada akhirnya bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru setelah dokumen ditandatangani, pekerjaan yang lebih penting dimulai. Kesepakatan perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang benar-benar dirasakan mahasiswa.
Penelitian bersama harus menghasilkan pengetahuan. Konferensi harus melahirkan pertukaran gagasan. Kolaborasi teknologi harus menghasilkan inovasi. Dan hubungan antarlembaga harus berkembang menjadi hubungan antarmanusia. Sebuah MoU akan memiliki makna ketika ia tidak hanya tersimpan sebagai dokumen, tetapi hidup dalam kegiatan yang terus berjalan
Dari Isfahan, Sebuah Jembatan Akademik Dibangun
Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan ke Iran bukan hanya tentang melihat institusi dari luar. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses belajar mengenai bagaimana pendidikan, pemikiran, kebudayaan, teknologi, dan peradaban berkembang dalam masyarakat lain.
Kerja sama dengan Nahjul Balaghah Institute memperluas perjalanan tersebut ke tahap berikutnya. Jika sebelumnya perjalanan menghasilkan pengalaman dan pengetahuan, maka kerja sama akademik membuka kemungkinan untuk menghasilkan pengetahuan secara bersama.
Dari skripsi menuju penelitian, penelitian menuju konferensi, konferensi menuju inovasi, inovasi menuju hubungan yang lebih kuat antara dua bangsa. Karena pada akhirnya, ilmu pengetahuan memiliki kemampuan yang tidak selalu dimiliki oleh politik. Ia dapat melewati batas geografis. Ia dapat mempertemukan perbedaan. Dan ia dapat membuat dua bangsa yang memiliki sejarah berbeda duduk bersama untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang sama.
Dari Isfahan, jembatan akademik Indonesia-Iran mulai dibangun. Kini tantangannya adalah memastikan jembatan itu tidak berhenti sebagai simbol, tetapi benar-benar dilalui oleh mahasiswa, peneliti, gagasan, dan inovasi dari kedua negara.