muslimx.id — Krisis budaya merawat sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar fasilitas yang rusak, lingkungan yang kotor, atau program pembangunan yang tidak berkelanjutan. Di balik semua itu terdapat pertanyaan tentang karakter: apakah manusia hanya ingin memiliki dan menggunakan, atau juga memiliki kesediaan untuk menjaga? Apakah bangsa hanya ingin dikenal karena kemampuannya membangun, atau juga mampu menunjukkan kedewasaan dalam mempertahankan apa yang telah dibangun?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pembangunan membutuhkan biaya, waktu, tenaga, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Sebuah sekolah tidak muncul begitu saja. Sebuah rumah sakit dibangun melalui proses panjang. Jalan, jembatan, taman, ruang publik, institusi, dan berbagai program sosial merupakan hasil dari kerja banyak orang. Jika semua itu kemudian dibiarkan rusak karena lemahnya budaya merawat, maka persoalannya bukan lagi sekadar kerusakan benda. Ada kegagalan dalam menjaga amanah yang telah diwariskan.
Bangsa yang Membangun Harus Belajar Menjaga
Selama bertahun-tahun, pembangunan sering dipahami sebagai aktivitas menciptakan sesuatu yang baru. Ukuran keberhasilan mudah terlihat melalui jumlah proyek, panjang jalan, jumlah gedung, besarnya investasi, atau banyaknya program yang diluncurkan.
Cara pandang tersebut tidak sepenuhnya salah. Pembangunan memang membutuhkan penciptaan sesuatu yang baru. Namun, pembangunan akan kehilangan makna apabila tidak diikuti dengan kemampuan mempertahankan hasilnya.
Bayangkan sebuah taman dibangun dengan fasilitas lengkap tetapi beberapa tahun kemudian menjadi kotor dan rusak, sekolah telah direnovasi tetapi fasilitasnya tidak dipelihara, sebuah ruang publik dibangun dengan desain modern tetapi akhirnya tidak nyaman digunakan karena tidak ada budaya menjaga.
Situasi seperti itu menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan membangun dan kemampuan merawat.
Bangsa membutuhkan keduanya. Kemampuan membangun menunjukkan kreativitas dan kapasitas. Kemampuan merawat menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kedewasaan.
Tanpa budaya merawat, pembangunan akan terus berputar dalam siklus yang melelahkan. Sesuatu dibangun, kemudian rusak, diperbaiki, rusak lagi, lalu dibangun kembali. Anggaran terus dikeluarkan untuk mengulang pekerjaan yang seharusnya dapat diminimalkan melalui pemeliharaan.
Karena itu, budaya merawat bukan penghambat pembangunan. Justru budaya merawat merupakan cara agar pembangunan menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
Amanah Tidak Berhenti pada Saat Sesuatu Diterima
Islam memberikan konsep amanah yang sangat kuat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mu’minun ayat 8:
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa amanah bukan hanya sesuatu yang diterima, tetapi sesuatu yang harus dipelihara.
Dalam kehidupan sehari-hari, amanah dapat hadir dalam berbagai bentuk. Orang tua memiliki amanah untuk mendidik anak. Guru memiliki amanah untuk mendidik murid. Pemimpin memiliki amanah untuk mengurus masyarakat. Masyarakat memiliki amanah untuk menjaga lingkungan dan fasilitas bersama.
Dengan demikian, budaya merawat memiliki hubungan langsung dengan amanah. Ketika seseorang menerima sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang, ia tidak boleh hanya mengambil manfaatnya. Ia juga harus memastikan sesuatu tersebut tidak rusak karena perilakunya.
Konsep ini sangat relevan dengan kehidupan berbangsa. Jalan yang digunakan masyarakat merupakan amanah sosial. Lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya merupakan amanah ekologis. Institusi negara merupakan amanah publik. Kepercayaan masyarakat merupakan amanah moral.
Ketika amanah dipahami secara mendalam, seseorang akan berhenti bertanya hanya tentang “apa yang saya dapatkan?” dan mulai bertanya “apa yang harus saya jaga?” Perubahan pertanyaan tersebut merupakan salah satu tanda kedewasaan moral.
Merawat Lingkungan adalah Merawat Kehidupan
Budaya merawat juga harus diarahkan kepada lingkungan. Kerusakan lingkungan sering kali terjadi bukan karena satu tindakan besar, tetapi akibat akumulasi tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Sampah yang dibuang sembarangan, penggunaan sumber daya secara berlebihan, kerusakan ruang hijau, pencemaran sungai, dan berbagai bentuk eksploitasi lingkungan merupakan persoalan yang pada akhirnya kembali kepada manusia.
Islam mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di bumi. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 56:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik.”
Ayat tersebut memberikan prinsip bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap bumi yang ditempatinya. Kemajuan teknologi dan pembangunan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, budaya merawat harus menjadi bagian dari pembangunan. Pembangunan yang baik bukan hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan apakah lingkungan masih mampu menopang kehidupan generasi berikutnya.
Merawat lingkungan berarti memahami bahwa bumi bukan hanya milik generasi sekarang. Ada hak generasi yang belum lahir untuk menikmati udara yang bersih, air yang layak, ruang hijau, dan lingkungan yang sehat.
Merawat Institusi agar Tidak Kehilangan Nilai
Budaya merawat juga berlaku bagi institusi. Sebuah lembaga dapat dibangun dengan aturan yang baik, struktur yang rapi, dan sumber daya manusia yang berkualitas. Tetapi semua itu tidak menjamin institusi akan tetap sehat jika nilai-nilai di dalamnya tidak dijaga.
Institusi dapat melemah ketika integritas dikompromikan. Kepercayaan publik dapat hilang ketika transparansi ditinggalkan. Profesionalisme dapat menurun ketika kepentingan pribadi lebih dominan daripada kepentingan lembaga.
Karena itu, merawat institusi berarti menjaga nilai yang menjadi alasan mengapa institusi tersebut dibangun.
Dalam kehidupan bernegara, institusi tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada figur. Pemimpin dapat berganti, pejabat dapat berpindah, tetapi sistem harus tetap mampu berjalan. Institusi yang sehat adalah institusi yang memiliki budaya menjaga aturan, nilai, dan tujuan jangka panjang.
Merawat institusi juga berarti berani memperbaikinya ketika terdapat masalah. Kritik tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman. Justru kritik dapat menjadi mekanisme agar institusi tidak mengalami kerusakan yang lebih besar.
Dengan demikian, budaya merawat bukan budaya menutup mata. Merawat berarti peduli dan bersedia melakukan perbaikan.
Merawat Hubungan Sosial dan Kepercayaan
Ada pula sesuatu yang tidak dapat dibangun dengan beton, tetapi sangat menentukan kekuatan bangsa: kepercayaan.
Kepercayaan antara masyarakat dan pemerintah, antara warga dengan warga, antara pekerja dengan organisasi, antara pemimpin dan bawahannya, serta antara generasi tua dan generasi muda merupakan modal sosial yang sangat berharga.
Kepercayaan membutuhkan waktu panjang untuk dibangun, tetapi dapat hilang dalam waktu singkat. Karena itu, hubungan sosial membutuhkan perawatan.
Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia. Dalam banyak hadis, beliau mendorong umat Islam untuk memperkuat silaturahmi, saling membantu, menjaga hak sesama, dan menghindari tindakan yang merusak persaudaraan.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak dapat hanya dibangun melalui aturan formal. Ada hubungan manusia yang harus terus dirawat agar kehidupan bersama tidak berubah menjadi hubungan yang dingin dan transaksional.
Merawat hubungan berarti mau mendengar, menghormati perbedaan, menepati janji, menjaga ucapan, meminta maaf ketika salah, dan tidak mudah menghancurkan kepercayaan hanya karena perbedaan kepentingan.
Bangsa yang kehilangan budaya merawat hubungan akan mudah mengalami fragmentasi sosial. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki kemampuan merawat kepercayaan akan lebih kuat menghadapi berbagai krisis.
Partai X Budaya Merawat Harus Menjadi Karakter
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa persoalan budaya merawat perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa. Menurutnya, kemampuan membangun tanpa kemampuan menjaga dapat membuat hasil pembangunan tidak bertahan lama.
“Kita sering mengukur keberhasilan dari kemampuan membangun sesuatu yang baru. Padahal, keberhasilan pembangunan juga harus dilihat dari kemampuan kita menjaga apa yang sudah dibangun agar tetap memberikan manfaat,” ujarnya.
Menurut Prayogi, budaya merawat tidak boleh hanya dibebankan kepada pemerintah. Pemerintah memiliki kewajiban untuk membangun sistem pemeliharaan yang baik, tetapi masyarakat juga harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap fasilitas dan lingkungan yang digunakan bersama.
“Pemerintah tidak mungkin menjadi satu-satunya pihak yang menjaga semuanya. Masyarakat harus memiliki rasa memiliki. Kalau setiap orang merasa bahwa sesuatu yang digunakan bersama adalah tanggung jawab bersama, maka biaya sosial dan ekonomi akibat kerusakan dapat ditekan,” katanya.
Penutup: Dari Budaya Membangun Menuju Budaya Merawat
Krisis budaya merawat sebenarnya merupakan kesempatan untuk mengevaluasi cara bangsa memahami pembangunan. Selama ini pembangunan sering dipandang sebagai proses menghasilkan sesuatu. Ke depan, pembangunan perlu dipahami sebagai proses menjaga manfaat.
Membangun sekolah bukan hanya mendirikan bangunan, tetapi memastikan pendidikan di dalamnya terus berkembang, rumah sakit bukan hanya menyediakan gedung, tetapi memastikan pelayanan terus berkualitas, taman bukan hanya menata ruang, tetapi menjaga agar masyarakat dapat terus menikmati ruang tersebut, dan institusi bukan hanya membuat struktur, tetapi menjaga integritasnya.
Dengan cara pandang tersebut, pembangunan menjadi lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Budaya merawat juga mengajarkan kesabaran. Tidak semua keberhasilan dapat dilihat dalam waktu singkat. Ada sesuatu yang harus dijaga selama bertahun-tahun sebelum manfaatnya benar-benar terasa.
Inilah yang sering hilang dalam budaya yang terlalu mengejar hasil instan. Keinginan untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat dapat membuat proses perawatan dianggap membosankan. Padahal, banyak hal berharga dalam kehidupan justru membutuhkan konsistensi.
Keluarga membutuhkan perawatan. Persahabatan membutuhkan perawatan. Lingkungan membutuhkan perawatan. Institusi membutuhkan perawatan. Bahkan iman juga membutuhkan penjagaan agar tidak melemah.
Karena itu, budaya merawat sesungguhnya merupakan budaya tentang kesetiaan terhadap sesuatu yang dianggap bernilai.