Budaya Menormalisasi Ketidaknyamanan dalam Islam: Mengubah Kebiasaan Menerima Menjadi Budaya Memperbaiki

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id  — Budaya menormalisasi ketidaknyamanan tidak terbentuk dalam satu hari. Ia lahir dari kebiasaan yang terus berulang: jalan rusak yang dibiarkan terlalu lama, pelayanan yang lambat tetapi selalu dimaklumi, antrean panjang yang dianggap biasa, harga yang tidak transparan yang tidak pernah dipersoalkan, hingga fasilitas umum yang tidak terawat tetapi tetap digunakan karena masyarakat merasa tidak memiliki pilihan lain.

Pada awalnya masyarakat mungkin merasa terganggu. Namun setelah bertahun-tahun menghadapi keadaan yang sama, rasa terganggu itu perlahan berubah menjadi kebiasaan. Masyarakat belajar menyesuaikan diri, sementara persoalan yang seharusnya diperbaiki tetap berada di tempatnya. Pada titik tertentu, bukan hanya masalah yang menjadi biasa, tetapi juga sikap menerima masalah tersebut.

Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar bagaimana membuat masyarakat berhenti mengeluh. Tantangannya adalah bagaimana mengubah budaya menerima menjadi budaya memperbaiki.

Masyarakat Tidak Harus Terus-Menerus Menjadi Pihak yang Beradaptasi

Kemampuan masyarakat untuk beradaptasi merupakan sesuatu yang positif. Dalam banyak keadaan, masyarakat mampu menemukan jalan keluar ketika fasilitas terbatas, pelayanan tidak ideal, atau kondisi lingkungan belum mendukung. Namun kemampuan beradaptasi tidak boleh menjadi alasan bagi sistem untuk berhenti memperbaiki diri.

Jika jalan rusak membuat warga terbiasa memilih jalur tertentu, masyarakat memang telah beradaptasi. Jika pelayanan lambat membuat warga datang lebih pagi, mereka juga telah menemukan cara untuk bertahan. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah apakah keadaan tersebut memang harus terus dipertahankan.

Masyarakat seharusnya tidak hanya dilatih untuk menjadi kuat menghadapi kesulitan. Mereka juga perlu memiliki ruang untuk mengatakan bahwa kesulitan tersebut sebenarnya dapat dikurangi. Sebab masyarakat yang terus-menerus dipaksa beradaptasi terhadap keadaan buruk berisiko menganggap ketidaknyamanan sebagai bagian permanen dari kehidupan.

Kritik Harus Menjadi Bagian dari Budaya Perbaikan

Mengubah budaya menormalisasi ketidaknyamanan tidak berarti masyarakat harus menjadi gemar mengeluh. Justru yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menyampaikan kritik dengan cara yang bertanggung jawab. Kritik diperlukan agar persoalan yang selama ini dianggap biasa kembali terlihat sebagai persoalan.

Ketika fasilitas rusak, masyarakat dapat melaporkannya. Saat pelayanan tidak jelas, masyarakat dapat meminta penjelasan. Ketika sebuah prosedur menyulitkan tanpa alasan yang kuat, masyarakat dapat mempertahankan dan memberikan masukan. Sikap seperti ini tidak harus dilakukan dengan kemarahan atau penghinaan.

Islam sendiri mengajarkan pentingnya menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam kehidupan sosial, prinsip tersebut dapat diterjemahkan menjadi keberanian menjaga kualitas kehidupan bersama. Tentu semuanya harus dilakukan dengan ilmu, adab, dan cara yang tepat. Tujuannya bukan mempermalukan pihak tertentu, tetapi memastikan sesuatu yang buruk tidak terus dibiarkan.

Perbaikan Juga Membutuhkan Kesediaan untuk Mendengar

Budaya memperbaiki tidak mungkin dibangun hanya dengan meminta masyarakat lebih kritis. Pihak yang memiliki kewenangan juga harus memiliki kemampuan untuk mendengar. Kritik masyarakat akan kehilangan makna apabila setiap keluhan langsung dianggap sebagai gangguan, serangan, atau bentuk ketidakpuasan yang berlebihan.

Sebuah sistem yang sehat justru membutuhkan masukan dari orang yang menggunakannya. Masyarakat adalah pihak yang mengalami langsung apakah sebuah pelayanan mudah atau sulit, apakah fasilitas nyaman atau tidak, dan apakah sebuah kebijakan benar-benar bekerja sebagaimana yang direncanakan.

Dalam perspektif Islam, sikap mau menerima masukan juga merupakan bagian dari kerendahan hati. Tidak ada manusia atau lembaga yang sempurna. Ketika sebuah kesalahan diketahui, memperbaikinya bukan tanda kelemahan. Justru kesediaan mengakui kekurangan dan memperbaikinya menunjukkan tanggung jawab.

Partai X: Jangan Wariskan Ketidaknyamanan kepada Generasi Berikutnya

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, mengatakan bahwa persoalan yang perlu diubah bukan hanya kondisi fisik yang buruk, tetapi juga pola pikir yang menganggap keadaan tersebut tidak mungkin diperbaiki.

“Jangan sampai generasi berikutnya mewarisi kalimat yang sama: ‘Memang dari dulu begini.’ Kalau setiap generasi hanya belajar menerima masalah yang sama, kapan kita mulai memperbaikinya?” ujar Rinto.

Menurutnya, masyarakat dan penyelenggara kehidupan publik memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan. Masyarakat perlu berani menyampaikan persoalan, sedangkan pihak yang memiliki kewenangan perlu membangun mekanisme yang memungkinkan keluhan tersebut diterjemahkan menjadi evaluasi dan perbaikan.

Rinto menilai perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana seperti memperbaiki fasilitas yang rusak, memperjelas informasi, memangkas proses yang tidak diperlukan, menghargai waktu masyarakat, dan memastikan harga atau biaya disampaikan secara terbuka. Hal-hal kecil tersebut jika dilakukan secara konsisten dapat mengubah pengalaman masyarakat terhadap lingkungan di sekitarnya.

Islam Mengajarkan Perbaikan yang Berkelanjutan

Islam tidak mengenal sikap menyerah terhadap keadaan yang masih dapat diubah. Manusia diperintahkan untuk berikhtiar, menjaga amanah, dan menghindari kerusakan. Dalam QS Ar-Ra’d ayat 11, Allah SWT mengingatkan bahwa perubahan keadaan suatu kaum berkaitan dengan perubahan yang mereka lakukan terhadap diri dan keadaan mereka sendiri.

Ayat tersebut tidak berarti seluruh persoalan dapat berubah seketika. Namun ada pesan penting bahwa manusia tidak seharusnya menjadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Ada tanggung jawab untuk memperbaiki apa yang berada dalam kemampuan dan kewenangannya.

Karena itu, budaya memperbaiki bukan hanya persoalan pembangunan fisik. Ia merupakan bagian dari pembentukan karakter masyarakat. Masyarakat belajar bahwa mengeluhkan sesuatu harus disertai tanggung jawab. Pemimpin dan penyelenggara belajar bahwa kritik harus didengar. Pelaksana pelayanan belajar bahwa tugas bukan sekadar menyelesaikan prosedur. Dan setiap orang belajar bahwa sesuatu yang buruk tidak otomatis menjadi benar hanya karena sudah berlangsung lama.

Penutup: Tidak Semua Ketidaknyamanan Harus Diterima

Pada akhirnya, manusia memang tidak mungkin menciptakan kehidupan tanpa ketidaknyamanan. Ada antrian yang tidak dapat dihindari, keterbatasan fasilitas, kondisi alam yang sulit dikendalikan. Ada keadaan tertentu yang memang membutuhkan kesabaran.

Namun persoalannya adalah ketika masyarakat tidak lagi mampu membedakan antara ketidaknyamanan yang memang tidak dapat dihindari dan ketidaknyamanan yang sebenarnya merupakan akibat dari sesuatu yang tidak diperbaiki.

Perbedaan ini penting. Kesabaran dibutuhkan ketika menghadapi keterbatasan yang berada di luar kemampuan manusia. Tetapi ketika sebuah masalah dapat diperbaiki melalui kebijakan, pengelolaan, pelayanan, kedisiplinan, atau kepedulian, maka membiarkannya terus berlangsung bukanlah satu-satunya pilihan.

Budaya yang sehat bukan budaya yang menuntut segala sesuatu sempurna. Budaya yang sehat adalah budaya yang tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki.

Sebab pada akhirnya, budaya menormalisasi ketidaknyamanan bukan hanya tentang jalan yang rusak, antrian yang panjang, pelayanan yang lambat, atau harga yang tidak jelas. Ia berbicara tentang cara sebuah masyarakat memperlakukan masalah. Apakah masalah akan terus diwariskan dengan kalimat, “Memang sudah begitu,” atau justru dihadapi dengan keberanian untuk mengatakan, “Ini belum baik, dan kita bisa memperbaikinya.”

Di situlah perubahan bermula. Bukan ketika masyarakat tidak lagi merasakan ketidaknyamanan, tetapi ketika mereka tidak lagi menganggap ketidaknyamanan yang sebenarnya bisa diperbaiki sebagai sesuatu yang harus diterima selamanya.

Share This Article