Sekolah Negarawan Bangun Jembatan Diplomasi Kebudayaan Indonesia-Iran

muslimX
By muslimX
6 Min Read

muslimx.id Hubungan antara Indonesia dan Iran tidak hanya dapat dibangun melalui jalur diplomasi formal. Di antara dua bangsa yang memiliki sejarah, tradisi, dan kekayaan intelektual yang panjang, kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan yang membuat masyarakat saling mengenal lebih dekat. Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan ramah tamah Delegasi Sekolah Negarawan dengan Konselor Kebudayaan Republik Islam Iran, Dr. Yahya Jahangiri, di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, Jumat, 5 September.

Pertemuan tersebut dihadiri Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, SH, MH, CTP, Adv, serta Direktur International Affairs untuk Urusan Iran Abdullah Assegaf, S.Sos., M.Hub.Int. Pertemuan menjadi bagian dari tindak lanjut setelah Delegasi Sekolah Negarawan menyelesaikan kunjungan selama kurang lebih dua pekan ke Iran dalam misi pengembangan hubungan pendidikan dan kebudayaan.

Kebudayaan Membuka Ruang Perjumpaan

Dalam pertemuan tersebut, delegasi diterima langsung oleh Dr. Yahya Jahangiri. Suasana pertemuan berlangsung informal dan penuh keakraban, tetapi momentum tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk membicarakan peluang pengembangan hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Iran.

Kedua pihak melihat pentingnya memperkuat hubungan people to people, yakni hubungan yang tumbuh langsung di antara masyarakat kedua negara. Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan sekadar penerima manfaat dari hubungan antarnegara, tetapi juga sebagai aktor yang dapat membangun kedekatan melalui pendidikan, kebudayaan, literasi, seni, sejarah, dan berbagai bentuk pertukaran pengalaman.

Diplomasi kebudayaan memiliki karakter yang berbeda dengan diplomasi formal. Jika hubungan antarnegara sering dibangun melalui institusi dan perjanjian, kebudayaan membuka ruang yang lebih cair karena masyarakat dapat berinteraksi melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Indonesia dan Iran Memiliki Banyak Ruang untuk Belajar

Indonesia dan Iran memiliki latar sejarah yang berbeda, tetapi keduanya memiliki kekayaan tradisi intelektual dan kebudayaan yang panjang. Perbedaan tersebut justru dapat menjadi modal untuk membangun pertukaran pengetahuan dan pengalaman.

Hubungan kebudayaan tidak harus selalu berbicara tentang pertunjukan seni atau festival. Pendidikan, sejarah pemikiran, tradisi keilmuan, literasi, perfilman, kepemudaan, hingga pertukaran gagasan dapat menjadi bagian dari diplomasi kebudayaan yang mempertemukan masyarakat kedua negara.

Ketika masyarakat diberi ruang untuk mengenal bangsa lain secara langsung, banyak prasangka yang sebelumnya terbentuk dari jarak dapat berubah menjadi pemahaman. Dari sinilah kebudayaan memiliki kekuatan sebagai jembatan, karena ia mempertemukan manusia sebelum mempertemukan kepentingan.

Pengalaman Dua Pekan di Iran

Gagasan tersebut juga tidak lahir tanpa pengalaman langsung. Selama kurang lebih dua pekan berada di Iran, Delegasi Sekolah Negarawan melakukan berbagai kunjungan dan pertemuan dengan lingkungan pendidikan serta kebudayaan di negara tersebut.

Perjalanan tersebut memberikan kesempatan untuk melihat Iran bukan hanya sebagai sebuah negara, tetapi sebagai masyarakat dengan tradisi intelektual dan kebudayaan yang memiliki perjalanan sejarah panjang. Berbagai pertemuan selama kunjungan juga membuka jejaring yang dapat dikembangkan lebih lanjut setelah delegasi kembali ke Indonesia.

Karena itu, pertemuan di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menjadi ruang penting untuk membawa pengalaman tersebut ke dalam konteks yang lebih luas. Apa yang ditemukan selama berada di Iran dapat menjadi bahan untuk merancang bentuk interaksi baru antara masyarakat Indonesia dan Iran.

Hubungan Tidak Cukup dengan Dokumen

Sekolah Negarawan memandang bahwa hubungan yang kuat tidak cukup dibangun melalui dokumen kerja sama. Kesepakatan kelembagaan memang penting, tetapi hubungan tersebut membutuhkan pertemuan yang terus berlangsung agar komunikasi tidak berhenti setelah sebuah agenda selesai.

Program kebudayaan dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kesinambungan tersebut. Melalui berbagai kegiatan, masyarakat Indonesia dapat memperoleh kesempatan mengenal Iran secara lebih dekat, sementara masyarakat Iran juga dapat memahami Indonesia melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan masyarakatnya.

Pendekatan tersebut sekaligus memberikan makna yang lebih luas bagi kerja sama internasional. Hubungan antarbangsa tidak hanya berbicara tentang kepentingan strategis, tetapi juga tentang kemampuan manusia untuk membangun persahabatan di tengah perbedaan.

Membangun Jembatan dari Masyarakat

Pertemuan dengan Konselor Kebudayaan Iran memperkuat gagasan bahwa kebudayaan dapat menjadi salah satu jembatan penting dalam hubungan Indonesia-Iran. Semakin banyak ruang perjumpaan yang dibangun, semakin besar pula kesempatan bagi kedua masyarakat untuk memahami sejarah, nilai, pengalaman, dan cara pandang satu sama lain.

Bagi Sekolah Negarawan, langkah tersebut menjadi bagian dari proses yang lebih panjang. Pendidikan dan kebudayaan dapat berjalan beriringan untuk menciptakan hubungan yang tidak hanya bersifat institusional, tetapi juga tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, diplomasi kebudayaan bukan sekadar upaya memperkenalkan satu bangsa kepada bangsa lainnya. Ia merupakan proses membangun kepercayaan melalui perjumpaan manusia, karena hubungan yang bertahan lama biasanya lahir dari kemampuan untuk saling mengenal dan saling menghargai.

Dari Jakarta, perjalanan Sekolah Negarawan ke Iran memasuki babak berikutnya. Bukan lagi sekadar tentang apa yang telah dipelajari selama berada di Iran, tetapi bagaimana pengalaman tersebut diteruskan menjadi jembatan baru bagi masyarakat Indonesia dan Iran untuk belajar, berdialog, dan membangun hubungan yang lebih dekat.

Share This Article