muslimx.id — Kota ramah manusia tidak hanya ditentukan oleh gedung yang tinggi, jalan yang lebar, atau pusat ekonomi yang semakin ramai. Ada bagian lain dari kota yang sering dianggap sederhana, tetapi justru sangat menentukan kualitas kehidupan masyarakat: trotoar, taman, ruang terbuka, tempat duduk, jalur pejalan kaki, dan ruang publik.
Fasilitas tersebut mungkin tidak selalu menghasilkan keuntungan ekonomi secara langsung. Tidak seperti gedung perkantoran atau pusat perbelanjaan, taman tidak selalu dapat dihitung berdasarkan jumlah transaksi. Trotoar juga tidak menghasilkan investasi dalam pengertian yang sama dengan kawasan industri. Namun bagi masyarakat, ruang-ruang tersebut memiliki nilai yang jauh lebih mendasar karena menjadi tempat manusia menjalani kehidupan sehari-hari.
Kota yang ramah manusia harus memberikan ruang kepada warganya untuk berjalan, berhenti, beristirahat, bermain, berbicara, dan berinteraksi. Sebab kota bukan hanya tempat orang bekerja dan mencari penghasilan. Kota juga merupakan ruang tempat kehidupan sosial tumbuh.
Trotoar Bukan Sekadar Pelengkap Jalan
Trotoar seringkali dipandang sebagai bagian kecil dari sistem transportasi. Padahal bagi masyarakat yang berjalan kaki, trotoar merupakan bagian penting dari keselamatan dan kenyamanan hidup.
Ketika trotoar terputus, dipenuhi kendaraan, digunakan sebagai tempat berjualan tanpa penataan, atau tidak tersedia di kawasan tertentu, kelompok yang paling terdampak adalah mereka yang tidak menggunakan kendaraan pribadi. Anak-anak, lansia, pekerja, pelajar, dan masyarakat yang mengandalkan transportasi umum harus menghadapi lingkungan yang tidak selalu aman untuk berjalan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota terkadang masih terlalu berorientasi pada kendaraan. Jalan dirancang agar kendaraan dapat bergerak cepat, sementara manusia yang berjalan kaki justru harus menyesuaikan diri dengan ruang yang tersisa.
Padahal kota ramah manusia seharusnya dimulai dari pertanyaan sederhana: apakah seseorang dapat berjalan dari satu tempat ke tempat lain dengan aman dan nyaman?
Jika jawabannya belum, maka masih ada bagian dari pembangunan kota yang perlu diperbaiki.
Ruang Publik Bukan Ruang yang Sia-Sia
Taman dan ruang terbuka terkadang dianggap sebagai bagian tambahan dalam pembangunan kota. Ketika lahan semakin bernilai tinggi, ruang terbuka bahkan dapat dipandang sebagai kesempatan ekonomi yang hilang.
Cara pandang tersebut perlu dikoreksi. Ruang publik memiliki manfaat yang tidak selalu dapat diukur melalui transaksi ekonomi. Taman dapat menjadi tempat anak bermain, keluarga menghabiskan waktu bersama, masyarakat berolahraga, lansia beristirahat, atau warga sekadar menikmati udara terbuka.
Ruang publik juga memiliki fungsi sosial. Ia mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang tanpa harus bertanya berapa besar penghasilan mereka. Orang kaya dan sederhana dapat duduk di taman yang sama. Anak-anak dapat bermain dalam ruang yang sama. Masyarakat dapat bertemu tanpa harus menjadi konsumen sebuah pusat perbelanjaan.
Karena itu, ruang publik merupakan bagian dari kehidupan kota. Semakin sedikit ruang semacam itu, semakin besar kemungkinan kehidupan perkotaan bergerak menuju pola yang semakin individual.
Islam Mengenal Prinsip Kemanfaatan Bersama
Dalam Islam, kehidupan sosial tidak dibangun hanya berdasarkan kepentingan pribadi. Ada konsep kemaslahatan yang menempatkan manfaat bersama sebagai sesuatu yang penting.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”
Prinsip tersebut memiliki relevansi kuat ketika berbicara tentang pembangunan ruang kota. Sebuah kebijakan pembangunan seharusnya tidak menciptakan kenyamanan bagi satu kelompok dengan mengorbankan keselamatan kelompok lainnya.
Jalan yang nyaman bagi kendaraan tetapi berbahaya bagi pejalan kaki perlu dievaluasi. Pembangunan kawasan komersial yang menghilangkan seluruh ruang terbuka juga perlu dipertimbangkan dampaknya. Begitu pula fasilitas umum yang hanya dapat diakses kelompok tertentu perlu dilihat kembali dari perspektif keadilan sosial.
Islam tidak melarang pembangunan dan pemanfaatan ruang untuk kepentingan ekonomi. Namun pembangunan harus tetap mempertimbangkan manfaat yang lebih luas dan tidak menimbulkan mudharat bagi masyarakat.
Kota yang Baik Memberi Kesempatan untuk Berhenti
Kehidupan kota modern sering kali dibangun berdasarkan kecepatan. Orang harus cepat berangkat, cepat bekerja, cepat berpindah tempat, dan cepat menyelesaikan berbagai urusan. Dalam keadaan seperti itu, ruang untuk berhenti menjadi semakin penting.
Taman, bangku kota, jalur pedestrian, alun-alun, dan ruang terbuka memberikan kesempatan kepada manusia untuk keluar sejenak dari ritme kehidupan yang terlalu cepat. Seorang ibu dapat menemani anaknya bermain. Seorang lansia dapat menikmati pagi. Pekerja dapat beristirahat. Anak muda dapat bertemu dengan teman. Masyarakat dapat berinteraksi tanpa harus selalu berada dalam ruang komersial.
Hal-hal sederhana tersebut sebenarnya merupakan bagian dari kualitas hidup. Kota yang hanya menyediakan tempat untuk bekerja dan bertransaksi akan terasa seperti mesin ekonomi. Sebaliknya, kota yang menyediakan ruang untuk hidup akan terasa sebagai tempat tinggal.
Inilah perbedaan penting antara kota yang sekadar berkembang dan kota ramah manusia.
Ruang Kota Harus Bisa Dinikmati Masyarakat Biasa
Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah akses. Ruang publik akan kehilangan maknanya jika keberadaannya hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
Masyarakat biasa membutuhkan ruang yang dapat digunakan tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Anak-anak membutuhkan taman yang aman. Keluarga membutuhkan tempat berkumpul. Pedagang kecil membutuhkan lingkungan ekonomi yang tertata. Lansia membutuhkan fasilitas yang mudah dijangkau.
Karena itu, pembangunan kota perlu melihat ruang publik sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat, bukan sekadar ornamen untuk memperindah wajah kota.
Kota yang manusiawi bukan kota yang seluruh ruangnya menghasilkan uang. Ada ruang yang memang sengaja dipertahankan agar manusia dapat hidup dengan lebih sehat, berinteraksi, dan merasa memiliki kota tersebut.
Partai X: Ruang Publik Menunjukkan kepada Siapa Kota Dibangun
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menilai bahwa keberadaan ruang publik dapat menjadi salah satu indikator sederhana untuk melihat apakah pembangunan kota benar-benar memperhatikan masyarakat.
“Kadang kita terlalu sibuk menghitung nilai investasi sebuah kawasan, tetapi lupa menghitung nilai sosial dari ruang yang digunakan masyarakat untuk berjalan, bermain, berinteraksi, dan beristirahat,” ujar Rinto.
Menurutnya, kota harus memiliki keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan sosial. Pembangunan pusat bisnis tetap diperlukan, tetapi ruang publik tidak boleh selalu dikorbankan ketika nilai ekonomi sebuah lahan meningkat.
“Kalau setiap ruang hanya dinilai berdasarkan berapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan, pada akhirnya masyarakat tidak memiliki tempat untuk hidup bersama. Kota menjadi produktif, tetapi kehilangan sisi manusianya,” katanya.
Rinto menilai bahwa pemerintah perlu melihat trotoar, taman, dan ruang terbuka sebagai bagian dari investasi sosial jangka panjang. Masyarakat yang memiliki ruang untuk berjalan, berolahraga, bermain, dan berinteraksi akan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik.
Penutup: Kota Ramah Manusia Dimulai dari Ruang yang Sederhana
Pada akhirnya, kota ramah manusia tidak selalu membutuhkan proyek yang spektakuler. Kadang ia dimulai dari trotoar yang tidak terputus, taman yang terawat, tempat duduk yang cukup, jalur yang aman untuk lansia, ruang bermain anak, dan ruang publik yang dapat digunakan semua orang.
Hal-hal tersebut terlihat sederhana, tetapi justru bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Kota yang baik adalah kota yang memperhatikan pengalaman warganya ketika menjalani hari, bukan hanya tampilan kota ketika dilihat dari kejauhan.
Islam mengajarkan bahwa pembangunan harus diarahkan kepada kebaikan dan tidak menimbulkan mudarat. Karena itu, ruang kota seharusnya dikelola dengan mempertimbangkan kepentingan bersama. Ada hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang aman, nyaman, dan layak.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pembangunan kota bukan hanya ketika gedung-gedung semakin tinggi dan jalan semakin besar. Keberhasilan itu juga terlihat ketika seorang anak dapat bermain dengan aman, lansia dapat berjalan tanpa takut, sebuah keluarga dapat berkumpul, dan masyarakat biasa memiliki ruang untuk sekadar duduk dan menikmati kotanya sendiri.
Kota yang demikian mungkin tidak selalu paling megah.
Tetapi ia adalah kota yang mengerti bahwa ruang terbaik dalam sebuah kota pada akhirnya bukan untuk bangunan, melainkan untuk kehidupan manusia.