Belajar dari Paris, Sekolah Negarawan Mencari Arah Indonesia di Era Teknologi

muslimX
By muslimX
7 Min Read

PARIS — Sejarah dan teknologi sering kali ditempatkan dalam dua ruang yang berbeda. Sejarah berbicara tentang masa lalu, sementara teknologi identik dengan masa depan. Namun, perjalanan Sekolah Negarawan ke Paris justru memperlihatkan bahwa keduanya dapat dipertemukan dalam satu pertanyaan penting: bagaimana sebuah bangsa menggunakan pengalaman masa lalunya untuk membangun masa depan tanpa kehilangan jati dirinya?

Paris memberikan gambaran yang menarik tentang pertemuan tersebut. Di kota ini, modernitas tidak hadir dengan cara menghapus masa lalu. Berbagai lapisan sejarah justru tetap menjadi bagian dari wajah kota dan hidup berdampingan dengan perkembangan kehidupan modern.

Kawasan sepanjang Sungai Seine, misalnya, memperlihatkan perkembangan Paris dari Abad Pertengahan hingga abad ke-20. Di kawasan tersebut berdiri berbagai penanda penting sejarah dan peradaban Prancis, mulai dari Notre-Dame, Louvre, Les Invalides, Champs-Élysées hingga Menara Eiffel. Paris seolah menunjukkan bahwa sebuah kota dapat bergerak menuju masa depan tanpa harus memutus hubungan dengan masa lalunya.

Modernitas Tidak Harus Menghapus Sejarah

Pelajaran tersebut menjadi penting ketika dikaitkan dengan Indonesia yang sedang memasuki fase transformasi teknologi yang sangat cepat. Digitalisasi pemerintahan, kecerdasan buatan, ekonomi digital, fintech, smart city, otomatisasi, hingga perkembangan teknologi data akan semakin memengaruhi kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut membuka peluang besar, tetapi sekaligus menghadirkan pertanyaan mengenai arah yang ingin dituju.

Pertanyaan bagi Indonesia karena itu tidak cukup hanya tentang seberapa cepat teknologi diadopsi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah untuk apa teknologi tersebut digunakan dan siapa yang mendapatkan manfaat dari kemajuan tersebut. Teknologi seharusnya memperkuat manusia dan institusi, bukan justru membuat pembangunan kehilangan nilai kemanusiaan yang menjadi dasar kehidupan berbangsa.

Di sinilah pendidikan kenegaraan menghadapi tantangan baru. Negarawan masa depan tidak cukup hanya memahami politik dan pemerintahan, tetapi juga harus memahami teknologi, data, kecerdasan buatan, serta perubahan model ekonomi yang sedang berlangsung. Namun kemampuan tersebut tetap harus berjalan bersama pemahaman tentang sejarah, kebudayaan, etika, dan kehidupan masyarakat.

Sebab teknologi tanpa nilai dapat kehilangan arah. Sebaliknya, nilai yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dapat kehilangan daya untuk menjawab persoalan baru. Keduanya harus dipertemukan agar kemajuan teknologi tidak hanya menghasilkan masyarakat yang semakin canggih, tetapi juga negara yang semakin matang.

Notre-Dame dan Pelajaran tentang Warisan

Paris memberikan contoh lain melalui Notre-Dame. Bangunan tersebut bukan sekadar peninggalan arsitektur, tetapi merupakan bagian dari sejarah, kebudayaan, dan kehidupan spiritual masyarakat. Ketika kebakaran melanda Notre-Dame pada 2019, perhatian terhadap bangunan tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya masih memiliki arti penting bagi masyarakat modern.

Proses restorasi Notre-Dame kemudian menjadi gambaran mengenai bagaimana sebuah masyarakat berusaha mempertahankan warisan masa lalu sekaligus mengerjakannya dengan kemampuan teknologi dan pengetahuan masa kini. Dari sini terlihat bahwa menjaga sejarah bukan berarti menolak modernitas. Justru teknologi dapat menjadi instrumen untuk merawat sesuatu yang memiliki nilai bagi generasi sebelumnya agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pelajarannya sederhana, tetapi penting bagi pembangunan Indonesia. Kemajuan tidak harus berarti melupakan masa lalu. Inovasi tidak selalu berarti menghapus yang lama, sementara modernisasi tidak seharusnya membuat sebuah bangsa kehilangan identitasnya.

Teknologi Harus Memperkuat Karakter Bangsa

Indonesia memiliki tantangan yang serupa dalam skala yang jauh lebih besar. Negeri ini memiliki warisan sejarah dan kebudayaan yang sangat beragam, tetapi pada saat yang sama sedang menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Karena itu, Indonesia tidak membutuhkan masa depan yang sekadar meniru negara lain. Yang dibutuhkan adalah masa depan yang mampu memanfaatkan teknologi global dengan tetap berakar pada karakter dan pengalaman bangsa sendiri.

Teknologi harus dapat berjalan bersama semangat gotong royong. Digitalisasi pemerintahan harus berjalan bersama keadilan dan pelayanan kepada masyarakat. Kecerdasan buatan harus dikembangkan bersama etika dan tanggung jawab. Pertumbuhan ekonomi digital harus menghasilkan manfaat yang lebih luas, bukan hanya menciptakan konsentrasi keuntungan pada kelompok tertentu.

Begitu pula pembangunan smart city tidak cukup hanya berbicara tentang sensor, kamera, jaringan internet, atau sistem digital. Kota yang benar-benar cerdas adalah kota yang mampu menggunakan teknologi untuk membuat kehidupan warganya menjadi lebih baik. Teknologi harus membantu pemerintah memahami kebutuhan masyarakat, mempercepat pelayanan, membuka akses, dan menciptakan ruang kehidupan yang lebih manusiawi.

Negarawan Harus Mampu Membaca Dua Zaman

Dalam konteks inilah perjalanan Sekolah Negarawan di Paris memiliki makna yang lebih luas. Pembelajaran kenegaraan tidak cukup dilakukan dengan membaca teori politik atau mempelajari sistem pemerintahan. Seorang calon negarawan perlu melihat secara langsung bagaimana sebuah bangsa memperlakukan sejarahnya, mengembangkan teknologinya, dan membangun hubungan antara keduanya dalam kehidupan masyarakat.

Negarawan generasi baru harus mampu berdiri di antara dua dunia. Ia perlu memahami warisan yang membentuk identitas bangsa sekaligus membaca perubahan teknologi yang akan menentukan masa depan. Ia harus mampu melihat bahwa teknologi hanyalah alat, sementara arah penggunaannya tetap bergantung pada nilai, visi, dan keberanian manusia dalam mengambil keputusan.

Cara berpikir semacam ini menjadi semakin penting karena perubahan teknologi tidak akan menunggu kesiapan sebuah negara. Kecerdasan buatan, otomatisasi, ekonomi digital, dan perkembangan data akan terus bergerak. Negara yang tidak mampu beradaptasi dapat tertinggal, tetapi negara yang hanya mengejar teknologi tanpa membangun nilai juga dapat kehilangan arah.

Mencari Wajah Indonesia Masa Depan

Perjalanan Sekolah Negarawan ke Paris pada akhirnya bukan hanya tentang melihat apa yang telah dibangun Eropa. Perjalanan tersebut membuka ruang untuk melihat kembali Indonesia dan bertanya tentang wajah bangsa yang ingin dibangun pada masa depan.

Indonesia memiliki modal sejarah, kebudayaan, sumber daya manusia, dan pengalaman sosial yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana semua modal tersebut dipertemukan dengan kemampuan teknologi agar tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga memperkuat kedaulatan dan kualitas kehidupan masyarakat.

Masa depan Indonesia tidak seharusnya menjadi masa depan yang tercerabut dari akar sejarahnya. Sebaliknya, masa depan harus menjadi kelanjutan dari perjalanan bangsa yang mampu mengambil pelajaran dari masa lalu, memanfaatkan teknologi masa kini, dan mempersiapkan kehidupan generasi yang akan datang.

Pada akhirnya, teknologi dapat membuat negara bergerak lebih cepat, tetapi nilai menentukan ke mana negara tersebut bergerak. Sejarah memberikan identitas, teknologi menyediakan instrumen, sementara manusia menentukan arah.

Karena itu, tantangan negarawan generasi baru bukan sekadar membangun Indonesia yang lebih digital dan lebih canggih. Tantangannya jauh lebih besar, yaitu membangun Indonesia yang cerdas dalam menggunakan teknologi, kuat dalam menjaga identitas, berdaulat dalam menentukan arah, dan tetap berkeadaban dalam menghadapi masa depan.

Share This Article