Dari Paris, Sekolah Negarawan Bertanya: Indonesia Seperti Apa yang Akan Kita Wariskan?

muslimX
By muslimX
9 Min Read

PARIS — Pada akhirnya, setiap perjalanan akan membawa seseorang kembali kepada pertanyaan tentang rumah. Bukan hanya rumah sebagai tempat untuk pulang, tetapi rumah dalam pengertian yang lebih besar, yaitu bangsa dan negara tempat sebuah generasi menitipkan masa depan generasi berikutnya. Dari perjalanan Sekolah Negarawan menyusuri Paris, pertanyaan itu kemudian menemukan bentuk yang lebih mendasar: Indonesia seperti apa yang ingin kita wariskan kepada anak cucu kita?

Pertanyaan tersebut muncul ketika melihat bagaimana Paris memperlakukan sejarahnya. Louvre, Notre-Dame, Les Invalides, Champs-Élysées, hingga Menara Eiffel tidak sekadar hadir sebagai objek wisata yang berdiri sendiri. Berbagai tempat tersebut menjadi bagian dari lapisan sejarah dan perkembangan Paris yang terbentuk selama berabad-abad, menunjukkan bahwa sebuah kota dapat membawa masa lalunya ke dalam kehidupan modern tanpa harus kehilangan wajahnya.

Di Paris, sejarah tidak hanya tersimpan di dalam buku. Ia hadir dalam arsitektur, museum, monumen, jalan, ruang publik, dan berbagai simbol yang terus hidup di tengah masyarakat. Masa lalu tidak dibiarkan menjadi cerita yang selesai, tetapi ditempatkan sebagai bagian dari identitas yang ikut membentuk kehidupan hari ini.

Bangsa Besar Bukan Hanya yang Memiliki Sejarah

Pelajaran tersebut penting bagi Indonesia. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki masa lalu yang panjang atau sejarah yang gemilang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membaca pengalaman masa lalunya, mengambil pelajaran darinya, lalu mengubahnya menjadi visi untuk membangun masa depan.

Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk melakukan itu. Sejarah Nusantara, ribuan pulau, keragaman budaya, tradisi masyarakat, kekayaan intelektual, Pancasila, hingga pengalaman panjang membangun negara bangsa merupakan bagian dari modal peradaban yang tidak sedikit. Persoalannya bukan apakah Indonesia memiliki warisan, tetapi apakah generasi hari ini mampu mengelola dan meneruskannya menjadi kekuatan bagi generasi mendatang.

Warisan yang tidak dikelola dapat berubah menjadi sekadar kenangan. Sejarah yang tidak dipahami dapat kehilangan makna. Kebudayaan yang tidak diwariskan dengan cara yang relevan dapat semakin jauh dari generasi muda. Karena itu, pembangunan Indonesia tidak cukup hanya berbicara tentang apa yang ingin dicapai hari ini, tetapi juga tentang apa yang ingin ditinggalkan setelah satu generasi selesai menjalankan perannya.

Indonesia Ingin Menjadi Negara Maju untuk Apa?

Dalam perdebatan tentang masa depan Indonesia, pertanyaan mengenai negara maju sering muncul. Pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, digitalisasi, teknologi, investasi, dan daya saing global memang penting bagi perjalanan sebuah bangsa. Namun menjadi negara maju seharusnya tidak berhenti sebagai target angka atau ukuran ekonomi.

Pertanyaan yang lebih penting adalah untuk siapa kemajuan tersebut dibangun dan nilai apa yang menjadi dasarnya. Apakah kemajuan membuat masyarakat semakin memiliki kesempatan untuk hidup layak? Apakah teknologi membuat pelayanan publik semakin mudah? Apakah pertumbuhan ekonomi menciptakan kesejahteraan yang lebih merata? Dan yang paling mendasar, apakah seluruh proses tersebut membuat manusia Indonesia menjadi lebih berdaya, berpendidikan, berkarakter, dan memiliki masa depan yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat konsep kemajuan menjadi lebih luas. Negara tidak cukup hanya menjadi semakin kaya, semakin digital, atau semakin modern. Negara juga harus semakin mampu menjaga martabat manusia, memperkuat institusi, menghadirkan keadilan, dan memastikan bahwa kemajuan tidak hanya dinikmati oleh sebagian kelompok.

Di Sinilah Negarawan Dibutuhkan

Cara berpikir seperti itu membawa kita kepada makna seorang negarawan. Negarawan tidak hanya bekerja untuk menyelesaikan persoalan yang sudah terlihat, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membaca persoalan yang mungkin muncul di masa depan. Ia tidak hanya memikirkan kepentingan generasinya, tetapi juga mempertimbangkan kehidupan generasi yang belum memiliki suara dalam menentukan kebijakan hari ini.

Karena itu, seorang negarawan tidak boleh hanya menghitung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan kualitas manusia. Ia tidak cukup hanya membangun infrastruktur, tetapi juga harus membangun institusi yang kuat. Ia tidak cukup mengejar kemajuan teknologi, tetapi harus memastikan teknologi digunakan untuk memperkuat kehidupan masyarakat dan tetap berada dalam kerangka nilai kemanusiaan.

Negarawan pada akhirnya adalah seseorang yang mampu melihat negara sebagai proyek lintas generasi. Ia memahami bahwa keputusan yang dibuat hari ini dapat menentukan ruang hidup masyarakat puluhan tahun mendatang. Karena itu, ukuran keberhasilan kepemimpinan tidak selalu dapat dilihat dalam satu periode pemerintahan, sebab sebagian hasil dari keputusan hari ini baru akan dirasakan oleh generasi yang belum lahir.

Paris Bukan untuk Ditiru, tetapi untuk Dipelajari

Dalam konteks tersebut, perjalanan internasional seperti yang dilakukan Sekolah Negarawan memiliki arti penting sebagai bagian dari pendidikan kepemimpinan. Perjalanan bukan sekadar aktivitas untuk melihat tempat baru, tetapi kesempatan untuk membandingkan cara berbagai bangsa membaca sejarah, membangun institusi, mengelola kota, dan menyiapkan masa depan.

Membandingkan bukan berarti mencari siapa yang lebih baik. Setiap bangsa memiliki sejarah, tantangan, karakter masyarakat, dan jalan perkembangannya sendiri. Prancis memiliki pengalaman yang panjang dalam membentuk negaranya, sementara Indonesia juga memiliki perjalanan yang tidak kalah kompleks dalam membangun negara kepulauan yang sangat beragam.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk belajar. Paris dapat memberikan perspektif tentang bagaimana sejarah ditempatkan dalam kehidupan modern, tetapi Indonesia tetap harus menemukan bentuknya sendiri. Belajar dari bangsa lain bukan berarti kehilangan identitas, melainkan memperluas cara pandang agar kita dapat melihat persoalan bangsa sendiri dengan lebih jernih.

Indonesia Memiliki Warisan yang Jauh Lebih Luas

Jika Paris mampu menjadikan sejarah sebagai bagian dari identitas kota, Indonesia memiliki peluang yang bahkan jauh lebih luas. Borobudur, Prambanan, kota-kota tua, pesantren, jejak kerajaan Nusantara, tradisi maritim, seni, bahasa, dan kebudayaan daerah merupakan bagian dari kekayaan yang dapat membentuk narasi besar tentang Indonesia.

Namun kekayaan tersebut tidak akan otomatis menjadi kekuatan. Ia membutuhkan pengetahuan, pengelolaan, pendidikan, dan generasi yang mampu menerjemahkan warisan masa lalu ke dalam bahasa masa depan. Warisan sejarah tidak cukup hanya dijaga secara fisik, tetapi juga harus dihidupkan melalui pendidikan, kebudayaan, teknologi, ekonomi kreatif, dan kehidupan masyarakat.

Di sinilah pendidikan negarawan menemukan relevansinya. Seorang negarawan bukan hanya orang yang mengetahui bagaimana negara bekerja, tetapi juga seseorang yang mampu mengajukan pertanyaan tentang ke mana negara harus pergi. Ia harus mampu melihat hubungan antara masa lalu, keputusan hari ini, dan kehidupan generasi yang akan datang.

Negara Seperti Apa yang Ingin Kita Wariskan?

Perjalanan ke Paris pada akhirnya bukan hanya perjalanan untuk melihat Eropa. Ia menjadi kesempatan untuk melihat kembali Indonesia dari jarak yang berbeda. Dari kejauhan, sebuah bangsa terkadang dapat melihat dirinya sendiri dengan lebih jernih, melihat kekuatan yang dimiliki, kekurangan yang harus diperbaiki, sekaligus peluang yang belum sepenuhnya dikembangkan.

Karena itu, pertanyaan terbesar setelah perjalanan tersebut bukanlah berapa banyak tempat yang telah dikunjungi atau berapa banyak pengetahuan yang berhasil dikumpulkan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang akan kita lakukan dengan pengetahuan tersebut ketika kembali ke Indonesia.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibentuk oleh apa yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Bangsa juga ditentukan oleh apa yang dipilih oleh generasi hari ini untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Maka pertanyaan tentang masa depan Indonesia pada akhirnya kembali kepada kita: negara seperti apa yang ingin kita wariskan? Negara yang hanya lebih kaya, atau negara yang juga lebih adil? Negara yang lebih canggih, atau negara yang tetap berkarakter? Negara yang kuat secara ekonomi, atau negara yang juga kuat dalam institusi, pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakatnya?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan satu kebijakan atau satu pemerintahan. Jawabannya membutuhkan cara berpikir yang panjang, kepemimpinan yang matang, dan generasi yang memahami bahwa membangun negara bukan sekadar pekerjaan untuk hari ini.

Sebab bangsa yang mengetahui ke mana ia hendak pergi akan lebih mudah menentukan apa yang harus dibangun hari ini. Dan seorang negarawan adalah mereka yang mampu melihat masa depan tersebut bahkan ketika generasi yang akan menikmatinya belum lahir.

Share This Article