Menyusuri Champs-Élysées, Sekolah Negarawan Membaca Wajah Peradaban Paris

muslimX
By muslimX
9 Min Read

PARIS — Jika sebuah kota ingin dipahami, jangan hanya melihat gedung pemerintahannya. Lihat pula jalan-jalannya, ruang publiknya, bangunan bersejarahnya, serta bagaimana masyarakat menggunakan ruang bersama dalam kehidupan sehari-hari. Dari sana, karakter sebuah kota dan bahkan cara sebuah masyarakat membangun peradabannya dapat dibaca.

Perspektif tersebut menjadi bagian dari pengalaman delegasi Sekolah Negarawan ketika mengunjungi Paris pada September 2025. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya menyusuri sejumlah kawasan dan situs penting yang menjadi bagian dari wajah sejarah serta kebudayaan Paris.

Salah satu yang menarik adalah Champs-Élysées. Menyusuri salah satu jalan paling terkenal di Paris tersebut bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi juga kesempatan untuk melihat bagaimana sejarah, kebudayaan, ekonomi, arsitektur, dan kehidupan masyarakat dapat bertemu dalam satu ruang. Dari sebuah jalan, sebuah kota dapat dibaca sebagai cermin dari peradaban yang membentuknya.

Kota adalah Cermin Masyarakat

Sebuah kota sesungguhnya merupakan cermin dari masyarakat yang membangunnya. Arsitektur memperlihatkan bagaimana manusia memandang ruang, jalan menunjukkan hubungan antarkawasan, museum memperlihatkan apa yang dianggap penting untuk diwariskan, sedangkan monumen menunjukkan peristiwa atau nilai yang ingin terus diingat.

Lebih jauh lagi, ruang publik memperlihatkan bagaimana masyarakat berinteraksi. Apakah ruang tersebut terbuka bagi semua orang, apakah masyarakat merasa aman menggunakannya, dan apakah ruang itu mampu menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok sosial merupakan pertanyaan yang tidak hanya berkaitan dengan tata kota, tetapi juga dengan kualitas kehidupan bersama.

Karena itu, seorang negarawan perlu memiliki kemampuan membaca kota. Kota bukan hanya persoalan jalan, gedung, transportasi, atau pembangunan fisik. Kota adalah ruang sosial tempat kebijakan negara bertemu dengan kehidupan nyata masyarakat.

Champs-Élysées dan Kehidupan Publik

Champs-Élysées memperlihatkan bagaimana sebuah jalan dapat berkembang menjadi bagian dari identitas sebuah kota sekaligus memiliki makna yang lebih luas dalam kehidupan publik Prancis. Kawasan ini menghubungkan sejumlah ruang penting di Paris dan menjadi bagian dari berbagai aktivitas masyarakat serta peristiwa publik yang berlangsung dari waktu ke waktu.

Di kawasan tersebut, kehidupan masa lalu dan kehidupan kontemporer berjalan berdampingan. Masyarakat beraktivitas, wisatawan datang dari berbagai negara, kegiatan ekonomi berkembang, berbagai perayaan berlangsung, sementara jejak sejarah tetap menjadi bagian dari lanskap kota.

Pertemuan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa ruang publik tidak pernah hanya memiliki fungsi teknis. Sebuah jalan dapat menjadi ruang ekonomi, ruang sosial, ruang budaya, sekaligus ruang yang membawa memori sejarah sebuah bangsa.

Bagi pendidikan kenegarawanan, hal ini memberikan pelajaran penting bahwa ruang publik merupakan bagian dari kehidupan bersama dan karena itu harus dikelola dengan visi yang lebih besar daripada sekadar pembangunan fisik. Ketika sebuah ruang dirancang dan dirawat dengan baik, masyarakat bukan hanya mendapatkan tempat untuk beraktivitas, tetapi juga mendapatkan pengalaman tentang bagaimana mereka hidup sebagai bagian dari sebuah komunitas dan bangsa.

Negara Tidak Hanya Berada di Istana

Cara pandang tersebut penting bagi Indonesia. Negara sering kali dibayangkan melalui institusi formal seperti presiden, kementerian, parlemen, pemerintah daerah, dan berbagai lembaga negara lainnya. Padahal, kehidupan bernegara berlangsung jauh lebih luas daripada aktivitas yang terjadi di dalam gedung pemerintahan.

Negara juga hadir ketika seorang warga berjalan di trotoar, menggunakan taman kota, mengunjungi museum, membawa anaknya ke ruang publik, atau berkumpul bersama masyarakat lainnya. Pengalaman sehari-hari tersebut merupakan bagian dari pengalaman warga negara dalam merasakan kualitas kehadiran negara.

Karena itu, kualitas sebuah negara tidak hanya dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi atau megahnya gedung pemerintahan. Ia juga dapat dilihat dari bagaimana ruang bersama dikelola, apakah kota memberikan tempat yang layak bagi masyarakat, dan apakah pembangunan membuat warga merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama.

Dalam perspektif ini, tata kota memiliki hubungan erat dengan kenegarawanan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami bagaimana membuat kebijakan, tetapi juga perlu memahami bagaimana kebijakan tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat di jalan, di taman, di sekolah, di pasar, dan di berbagai ruang publik lainnya.

Kota yang Memiliki Cerita

Paris memiliki kemampuan menarik dalam menjadikan kotanya sebagai bagian dari narasi peradaban. Bangunan, jalan, monumen, museum, dan kawasan bersejarah tidak berdiri sebagai bagian yang terpisah, tetapi saling terhubung menjadi cerita yang lebih besar tentang perjalanan masyarakat Prancis.

Cerita tersebut mencakup berbagai lapisan sejarah, mulai dari kerajaan, revolusi, republik, perang, seni, kebudayaan hingga modernitas. Seorang yang berjalan di Paris karena itu tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga berhadapan dengan jejak berbagai zaman yang membentuk kota tersebut.

Di sinilah kekuatan sebuah kota sebagai ruang pendidikan dapat terlihat. Sejarah tidak selalu harus disampaikan melalui buku teks. Ia dapat ditemukan melalui bangunan yang dilewati, nama jalan yang dibaca, monumen yang ditemui, museum yang dikunjungi, dan ruang publik yang digunakan masyarakat.

Kota pada akhirnya dapat menjadi sebuah narasi yang hidup. Ketika sejarah dan kebudayaan berhasil dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak hanya tinggal di sebuah kota, tetapi juga memahami cerita yang membentuk tempat tersebut.

Indonesia Memiliki Potensi yang Sama

Indonesia memiliki kekayaan kota yang tidak kalah besar. Yogyakarta memiliki jejak kerajaan dan kebudayaan yang panjang, Jakarta menyimpan lapisan sejarah kolonial sekaligus perjuangan kemerdekaan, Surabaya memiliki warisan sejarah kepahlawanan, Semarang memiliki kawasan Kota Lama, sementara Malang memiliki warisan arsitektur dan sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan kotanya.

Bahkan kota-kota kecil di berbagai daerah memiliki cerita yang tidak kalah penting. Persoalannya bukan semata-mata apakah Indonesia memiliki sejarah, melainkan apakah sejarah tersebut telah disusun menjadi narasi kota yang dapat dipahami dan dirasakan masyarakat.

Di sinilah pekerjaan pembangunan kota seharusnya tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur. Sejarah dapat dihubungkan dengan pendidikan dan pariwisata, kebudayaan dapat dikembangkan bersama ekonomi kreatif, sementara ruang publik dapat dirancang sebagai tempat masyarakat bertemu dan berinteraksi. Teknologi juga dapat digunakan untuk membuat sejarah lebih mudah dipahami oleh generasi muda tanpa menghilangkan kedalaman makna yang ada di baliknya.

Jika hal tersebut dilakukan secara serius, kota tidak hanya menjadi tempat tinggal. Kota dapat menjadi ruang pendidikan yang membuat warganya mengenal identitas, memahami sejarah, sekaligus melihat kemungkinan masa depan.

Dari Jalan-Jalan Paris Menuju Jalan Indonesia

Perjalanan Sekolah Negarawan di Paris memberikan perspektif bahwa belajar tentang negara tidak selalu harus dilakukan di ruang seminar. Kadang-kadang pembelajaran justru muncul ketika seseorang berjalan, melihat bagaimana sebuah kota bekerja, membaca apa yang ada di sekelilingnya, membandingkannya dengan kondisi di tanah air, kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar.

Dari Champs-Élysées, pertanyaan tersebut akhirnya kembali kepada Indonesia. Sudahkah kota-kota kita menjadi ruang yang mampu menceritakan siapa kita sebagai bangsa? Sudahkah sejarah, kebudayaan, ruang publik, dan kehidupan ekonomi dihubungkan menjadi sebuah narasi yang membuat masyarakat memahami kotanya sendiri?

Pertanyaan tersebut penting karena membangun kota pada akhirnya bukan hanya tentang membuatnya terlihat modern. Kota juga harus memiliki identitas, memiliki ingatan, dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk membangun hubungan sosial yang sehat.

Bagi seorang negarawan, kemampuan membaca kota merupakan bagian dari kemampuan membaca bangsa. Sebab di balik jalan, bangunan, ruang publik, dan aktivitas masyarakat terdapat gambaran tentang bagaimana sebuah negara memperlakukan warganya dan bagaimana sebuah masyarakat membayangkan masa depannya.

Mungkin itulah pelajaran yang dapat dibawa pulang dari Champs-Élysées: membangun peradaban tidak hanya berarti mendirikan gedung dan jalan, tetapi juga memastikan setiap ruang yang dibangun memiliki cerita, identitas, dan makna bagi masyarakat yang menggunakannya.

Share This Article