Hak Generasi yang Belum Lahir dalam Islam: Membangun Indonesia Tanpa Menghabiskan Masa Depan

muslimX
By muslimX
9 Min Read

muslimx.id  — Hak generasi yang belum lahir pada akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar: Indonesia seperti apa yang sedang kita siapkan untuk anak cucu? Pertanyaan ini penting karena pembangunan hari ini tidak pernah berhenti pada satu generasi. Setiap jalan yang dibangun, sumber daya yang digunakan, kebijakan yang dibuat, lingkungan yang dijaga atau dirusak, hingga manusia yang dididik akan menjadi bagian dari kondisi yang diwariskan kepada mereka.

Membangun Indonesia tentu merupakan tanggung jawab generasi sekarang. Namun, pembangunan tidak boleh dilakukan dengan cara menghabiskan seluruh modal yang seharusnya menjadi milik bersama lintas generasi. Kemajuan yang hanya dinikmati hari ini tetapi meninggalkan kerusakan panjang bukanlah kemajuan yang utuh. Sebaliknya, pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang sekaligus menjaga kesempatan hidup generasi mendatang merupakan bentuk tanggung jawab yang lebih matang.

Indonesia Bukan Hanya Milik Generasi Hari Ini

Salah satu kesalahan dalam melihat pembangunan adalah menganggap bahwa sumber daya yang tersedia saat ini sepenuhnya dapat digunakan untuk memenuhi kepentingan generasi sekarang. Hutan, laut, tanah, energi, ruang kota, dan berbagai kekayaan alam seolah-olah hanya merupakan persediaan yang harus dimanfaatkan sebanyak mungkin. Padahal, Indonesia bukan hanya milik mereka yang hidup hari ini.

Generasi yang belum lahir memang tidak dapat ikut menentukan kebijakan. Mereka tidak memiliki suara dalam pemilu dan tidak dapat menyampaikan keberatan ketika sebuah sumber daya dieksploitasi secara berlebihan. Namun, ketidakhadiran mereka tidak berarti hak mereka boleh diabaikan. Mereka tetap memiliki kepentingan atas lingkungan yang sehat, sumber daya yang cukup, pendidikan yang baik, serta negara yang memiliki kemampuan untuk melindungi kehidupan mereka.

Karena itu, setiap generasi sebenarnya hanya menerima amanah untuk mengelola negeri dalam satu periode kehidupan. Apa yang diterima dari generasi sebelumnya seharusnya tidak dihabiskan begitu saja, tetapi dikelola agar tetap memberikan manfaat bagi mereka yang datang setelahnya.

Kemajuan Tidak Boleh Dibayar dengan Masa Depan

Indonesia membutuhkan pembangunan. Masyarakat membutuhkan pekerjaan, infrastruktur, pelayanan publik, energi, perumahan, pendidikan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Karena itu, menjaga masa depan bukan berarti menghentikan pembangunan atau menolak pemanfaatan sumber daya.

Persoalannya adalah bagaimana pembangunan dilakukan. Pembangunan yang baik tidak hanya bertanya berapa keuntungan yang dapat diperoleh hari ini, tetapi juga berapa biaya sosial, ekonomi, dan ekologis yang harus ditanggung pada masa depan. Sebuah proyek mungkin terlihat berhasil karena mampu menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat, tetapi keberhasilannya patut dipertanyakan apabila kemudian meninggalkan pencemaran, kerusakan ruang hidup, ketimpangan, atau beban keuangan yang panjang.

Di sinilah pentingnya cara pandang jangka panjang. Negara tidak boleh terjebak dalam kebutuhan untuk selalu menunjukkan hasil cepat. Sebab generasi yang belum lahir tidak membutuhkan pemerintah masa lalu yang sekadar berhasil menciptakan banyak proyek. Mereka membutuhkan warisan negara yang sehat, manusia yang berkualitas, lingkungan yang terjaga, dan sistem yang mampu bekerja dengan baik.

Menjaga Sumber Daya Berarti Menjaga Kehidupan

Sumber daya alam sering diperlakukan sebagai komoditas ekonomi. Padahal, di balik tanah terdapat pangan dan tempat tinggal. Ketika sumber daya tersebut rusak atau habis, yang hilang bukan hanya nilai ekonominya, tetapi juga bagian dari kehidupan manusia.

Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Tanggung jawab tersebut menuntut keseimbangan antara pemanfaatan dan penjagaan. Allah mengingatkan dalam QS Al-A’raf ayat 56 agar manusia tidak membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.

Pesan tersebut sangat relevan dengan tantangan pembangunan modern. Kemajuan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan daya dukung kehidupan. Pemanfaatan sumber daya harus mempertimbangkan keberlanjutan, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada generasi sekarang tetapi dapat terus dirasakan oleh generasi yang akan datang.

Partai X: Jangan Mewariskan Negeri yang Lebih Berat

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Diana Isnaini, mengatakan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya dilihat dari capaian generasi sekarang, tetapi juga dari kondisi yang diterima oleh generasi berikutnya.

“Jangan sampai kita merasa berhasil membangun Indonesia hanya karena hari ini terlihat lebih maju, sementara anak cucu kita harus menghadapi lingkungan yang rusak, sumber daya yang semakin terbatas, kualitas manusia yang tertinggal, dan beban negara yang semakin berat,” ujar Diana.

Menurutnya, generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap keputusan besar memiliki pertimbangan lintas generasi. Pembangunan harus menghasilkan sesuatu yang dapat dipelihara dan dikembangkan, bukan sekadar sesuatu yang terlihat berhasil dalam waktu singkat.

“Kita harus meninggalkan Indonesia yang memiliki lebih banyak kesempatan, bukan lebih banyak masalah. Kita boleh menggunakan sumber daya hari ini, tetapi jangan sampai menghilangkan kesempatan generasi berikutnya untuk hidup layak,” katanya.

Warisan Terbaik adalah Kemampuan untuk Melanjutkan

Masa depan tidak dapat dijamin hanya dengan meninggalkan kekayaan. Sebuah bangsa juga harus meninggalkan kemampuan kepada generasi berikutnya untuk mengelola kehidupan. Karena itu, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, akhlak, institusi yang kuat, dan budaya masyarakat yang sehat merupakan bagian dari warisan nasional.

Jika generasi sekarang berhasil membangun sekolah tetapi tidak memperbaiki kualitas pendidikan, maka bangunan tersebut tidak cukup. Apabila negara memiliki teknologi tetapi manusianya kehilangan integritas, maka teknologi dapat digunakan untuk kepentingan yang merusak. Jika ekonomi tumbuh tetapi ketimpangan semakin dalam, maka pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menjadi kesejahteraan.

Warisan yang baik adalah ketika generasi berikutnya menerima modal yang memungkinkan mereka melanjutkan pembangunan dengan kondisi yang lebih baik. Mereka tidak harus memulai dari nol dan tidak pula menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memperbaiki kesalahan yang seharusnya dapat dicegah oleh generasi sebelumnya.

Penutup: Membangun dengan Kesadaran sebagai Amanah

Dalam perspektif Islam, kehidupan bukan sekadar kesempatan untuk mengambil sebanyak-banyaknya dari dunia. Ada amanah yang melekat pada setiap kekuasaan, ilmu, harta, dan sumber daya yang dimiliki manusia. Karena itu, pertanyaan mengenai masa depan pada dasarnya adalah pertanyaan mengenai amanah.

Apa yang kita lakukan terhadap lingkungan hari ini akan menjadi bagian dari kehidupan anak cucu. Cara kita mengelola negara akan menentukan ruang gerak mereka. Cara kita mendidik anak-anak akan membentuk masyarakat yang mereka tempati. Bahkan cara kita memperlakukan kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan akan menjadi budaya yang mungkin mereka warisi tanpa pernah mengetahui siapa yang pertama kali membentuknya.

Karena itu, membangun Indonesia tanpa menghabiskan masa depan bukanlah gagasan yang terlalu ideal. Justru itulah bentuk pembangunan yang seharusnya. Negara harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang tanpa menutup pintu kehidupan bagi generasi berikutnya.

Pada akhirnya, hak generasi yang belum lahir mengingatkan bahwa sejarah sebuah bangsa tidak berhenti pada satu generasi. Kita datang setelah generasi sebelumnya dan suatu saat akan meninggalkan negeri ini kepada generasi berikutnya. Yang menjadi pertanyaan bukan hanya apa yang berhasil kita ambil selama hidup, tetapi apa yang berhasil kita jaga.

Indonesia yang benar-benar maju bukan Indonesia yang menghabiskan seluruh kekayaannya untuk menunjukkan kemajuan hari ini. Indonesia yang maju adalah Indonesia yang mampu membangun tanpa menghancurkan, memanfaatkan tanpa menghabiskan, dan berkembang tanpa mencabut hak mereka yang belum lahir.

Sebab anak cucu kelak tidak dapat meminta kembali hutan yang sudah hilang, tanah yang sudah rusak, waktu pendidikan yang sudah terlewat, atau kesempatan hidup yang telah dirampas oleh keputusan masa lalu. Mereka hanya dapat menerima apa yang kita tinggalkan. Karena itu, tugas generasi hari ini bukan sekadar membangun Indonesia untuk dirinya sendiri, tetapi memastikan bahwa negeri ini tetap menjadi rumah yang layak bagi mereka yang akan datang.

Share This Article