Dari Grand-Place hingga Royal Palace, Sekolah Negarawan Membaca Wajah Negara dan Rakyat

muslimX
By muslimX
7 Min Read

BRUSSEL — Brussel memiliki cara yang menarik untuk memperlihatkan bagaimana sebuah negara membangun hubungan antara rakyat dan institusinya. Di satu sisi terdapat Grand-Place yang sejak lama menjadi ruang kehidupan masyarakat, perdagangan, pertemuan, dan aktivitas warga. Di sisi lain berdiri Royal Palace of Brussels yang menghadirkan wajah kenegaraan, simbol institusi, dan keberlanjutan negara.

Pada September 2025, dua ruang tersebut menjadi bagian dari perjalanan belajar delegasi Sekolah Negarawan. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya, serta perwakilan Eropa Imam Syafiih Kamil mengamati bagaimana sejarah dan tata ruang Brussel menyimpan pelajaran mengenai hubungan antara rakyat, kota, dan negara.

Perjalanan dari Grand-Place menuju Royal Palace akhirnya tidak sekadar menjadi perjalanan menyusuri pusat kota. Ada pertanyaan yang lebih besar yang muncul dari sana: seperti apa sebuah negara seharusnya hadir di tengah rakyatnya, dan bagaimana kewibawaan negara dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat?

Grand-Place dan Ketangguhan Rakyat

Grand-Place merupakan salah satu ruang bersejarah yang memperlihatkan kuatnya hubungan antara kota dan kehidupan masyarakat. Kawasan ini tidak hanya dikenal karena bangunan-bangunan bersejarahnya, tetapi juga karena sejak berabad-abad lalu menjadi ruang perdagangan dan aktivitas warga.

Sejarah kawasan tersebut juga menyimpan cerita tentang kehancuran dan pembangunan kembali. Pada 1695, Grand-Place mengalami kerusakan berat akibat bombardemen dalam Perang Sembilan Tahun. Setelah itu, bangunan-bangunan di kawasan tersebut dibangun kembali dan secara bertahap membentuk wajah arsitektur yang dikenal hingga sekarang.

Bagi Sekolah Negarawan, kisah tersebut menghadirkan pelajaran mengenai ketangguhan masyarakat. Sebuah kota tidak hanya bertahan karena bangunan yang kokoh, tetapi juga karena masyarakat memiliki kemampuan untuk memulihkan kehidupan setelah mengalami kehancuran. Ketika sebuah komunitas memiliki rasa memiliki terhadap kotanya, ruang publik tidak sekadar menjadi tempat untuk beraktivitas, tetapi juga menjadi bagian dari ingatan bersama.

Di sinilah Grand-Place menjadi lebih dari sekadar objek wisata. Ia menunjukkan bahwa sejarah sebuah kota juga dibentuk oleh aktivitas masyarakat biasa yang menjalankan perdagangan, bekerja, berkumpul, dan membangun kehidupan dari waktu ke waktu.

Royal Palace dan Wajah Institusi Negara

Dari ruang publik yang ramai, perjalanan berlanjut menuju Royal Palace of Brussels. Suasana yang ditemui berbeda. Bangunan tersebut menghadirkan simbol institusi monarki konstitusional Belgia dan menjadi salah satu ruang penting dalam kehidupan kenegaraan.

Perbedaan karakter antara Grand-Place dan Royal Palace justru menjadi menarik untuk diamati. Grand-Place memperlihatkan kehidupan masyarakat yang bergerak secara dinamis, sementara Royal Palace menghadirkan simbol negara yang lebih formal dan representatif. Keduanya berada dalam satu kota, tetapi memiliki fungsi dan makna yang berbeda.

Bagi calon negarawan, perbedaan tersebut mengingatkan bahwa negara membutuhkan institusi yang memiliki kewibawaan, sekaligus membutuhkan masyarakat yang memiliki ruang untuk hidup dan berkembang. Negara tidak dapat hanya dibangun melalui simbol kekuasaan, sebagaimana kehidupan rakyat juga tidak dapat dilepaskan dari keberadaan institusi yang menjaga keteraturan bersama.

Keseimbangan itulah yang menjadi salah satu hal menarik dari perjalanan Sekolah Negarawan di Brussel. Ruang rakyat dan ruang negara tidak harus saling meniadakan. Keduanya dapat menjadi bagian dari satu ekosistem kehidupan kota.

Ketika Tata Kota Berbicara tentang Cara Bernegara

Erick Karya melihat hubungan antara ruang publik dan ruang kenegaraan tersebut dari perspektif pembangunan kota. Baginya, tata ruang tidak pernah sepenuhnya netral. Cara sebuah kota menempatkan pusat pemerintahan, ruang publik, kawasan budaya, dan pusat aktivitas masyarakat turut mencerminkan cara sebuah negara memandang kehidupan warganya.

Kota yang baik bukan hanya kota yang memiliki gedung pemerintahan megah atau infrastruktur modern. Ia juga membutuhkan ruang yang memungkinkan masyarakat bertemu, berdagang, berkegiatan, menikmati kebudayaan, dan membangun hubungan sosial. Ruang semacam itu membuat kota tidak kehilangan kehidupan di balik pembangunan fisiknya.

Pelajaran tersebut menjadi relevan ketika Indonesia terus mengembangkan berbagai pusat pertumbuhan baru. Pembangunan kota tidak cukup berhenti pada jalan, gedung, kawasan pemerintahan, dan teknologi. Sebuah kota juga membutuhkan karakter, memori, ruang interaksi, serta tempat bagi masyarakat untuk merasakan bahwa kota tersebut merupakan bagian dari kehidupan mereka.

Pelajaran untuk Kota Masa Depan Indonesia

Pengalaman di Brussel membawa delegasi Sekolah Negarawan pada pertanyaan yang lebih dekat dengan Indonesia. Ketika negara membangun kota-kota baru, termasuk Ibu Kota Nusantara, apa yang sebenarnya sedang dibangun? Apakah hanya pusat pemerintahan yang modern, atau sebuah ekosistem kota yang mampu mempertemukan institusi negara dengan kehidupan masyarakat?

Pertanyaan tersebut penting karena kota pada akhirnya bukan sekadar kumpulan bangunan. Ia adalah tempat manusia bekerja, tinggal, bertemu, membangun keluarga, menjalankan usaha, merawat kebudayaan, dan menciptakan ingatan bersama. Karena itu, keberhasilan pembangunan sebuah kota tidak hanya dapat dilihat dari kemegahan infrastrukturnya, tetapi juga dari kehidupan yang tumbuh di dalamnya.

Brussel memberikan gambaran bahwa simbol negara dan ruang rakyat dapat hadir dalam satu lanskap. Negara tetap memiliki tempat untuk menunjukkan kewibawaannya, sementara masyarakat juga memiliki ruang untuk mengekspresikan kehidupan sosial dan ekonominya. Dari sini, pembangunan kota dapat dilihat bukan hanya sebagai proyek fisik, tetapi sebagai upaya membangun hubungan antara manusia dan negara.

Negarawan Harus Memahami Keduanya

Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan dari Grand-Place menuju Royal Palace pada akhirnya adalah perjalanan membaca dua wajah negara. Grand-Place mengingatkan tentang masyarakat yang menjadi denyut kehidupan kota, sementara Royal Palace mengingatkan tentang pentingnya institusi dan keberlanjutan negara.

Seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami bagaimana kekuasaan bekerja di tingkat institusi. Ia juga perlu memahami bagaimana rakyat menjalani kehidupan sehari-hari, apa yang membuat mereka merasa memiliki ruang hidupnya, serta bagaimana kebijakan negara dapat diterjemahkan menjadi kehidupan yang nyata.

Dari Brussel, pelajaran itu terasa sederhana tetapi mendasar. Negara membutuhkan institusi yang kuat, tetapi kekuatan institusi akan kehilangan makna jika tidak berhubungan dengan kehidupan masyarakat. Sebaliknya, masyarakat membutuhkan ruang untuk tumbuh, tetapi kehidupan bersama juga membutuhkan institusi yang mampu menjaga keteraturan dan keberlanjutan.

Pada akhirnya, kota yang baik bukanlah kota yang hanya menunjukkan kebesaran negara atau hanya merayakan aktivitas rakyat. Kota yang matang adalah kota yang mampu mempertemukan keduanya dalam hubungan yang sehat. Bagi Sekolah Negarawan, keseimbangan antara rakyat dan negara itulah yang menjadi salah satu pelajaran penting dari Brussel untuk membaca arah pembangunan Indonesia.

Share This Article