muslimx.id — Krisis kesadaran manusia pada zaman sekarang tidak selalu terlihat dalam bentuk ketidaktahuan. Justru persoalan yang lebih dalam muncul ketika manusia sebenarnya sudah mengetahui apa yang benar, tetapi pengetahuan tersebut tidak selalu membuatnya melakukan kebenaran. Manusia tahu bahwa berbohong itu buruk, tetapi tetap berbohong. Manusia memahami bahwa mengambil hak orang lain adalah kesalahan, tetapi tetap melakukannya ketika memiliki kesempatan.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan kesadaran bukanlah sesuatu yang sama. Pengetahuan berada pada wilayah pikiran, sementara kesadaran menuntut sesuatu yang lebih jauh: kemampuan untuk membawa apa yang diketahui ke dalam sikap dan tindakan. Seseorang dapat mengetahui banyak nasihat tentang kebaikan, tetapi jika pengetahuan itu tidak memengaruhi perilakunya, maka pengetahuan tersebut belum sepenuhnya menjadi kesadaran.
Mengetahui Tidak Sama dengan Menyadari
Manusia modern hidup dalam situasi yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Informasi mengenai hampir semua persoalan tersedia dengan mudah. Nasihat agama, pengetahuan kesehatan, pendidikan lingkungan, etika sosial, hingga berbagai informasi mengenai kehidupan dapat ditemukan dalam hitungan detik.
Namun, akses informasi yang luas tidak otomatis menghasilkan perubahan perilaku. Orang dapat membaca berkali-kali tentang bahaya sampah bagi lingkungan, tetapi tetap membuang sampah sembarangan. Orang dapat mengetahui pentingnya menjaga kesehatan, tetapi tetap menjalani kebiasaan yang merugikan tubuh. Seseorang juga dapat memahami pentingnya menghormati orang lain, tetapi masih mudah menghina ketika berhadapan dengan perbedaan.
Di sinilah letak persoalannya. Mengetahui berarti memiliki informasi tentang sesuatu, sedangkan menyadari berarti memahami makna dan konsekuensi dari sesuatu tersebut sehingga ia memengaruhi tindakan. Kesadaran membuat manusia tidak berhenti pada kalimat “saya tahu”, tetapi bergerak menuju pertanyaan, “kalau saya tahu, apa yang harus saya lakukan?”
Islam Tidak Memisahkan Ilmu dari Amal
Dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang tinggi. Namun, ilmu tidak dimaksudkan untuk berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu seharusnya membawa manusia kepada pengenalan yang lebih baik terhadap Allah, dirinya sendiri, dan kehidupan di sekitarnya. Karena itu, pengetahuan memiliki konsekuensi moral.
Seseorang yang mengetahui bahwa amanah adalah sesuatu yang harus dijaga tentu memiliki tanggung jawab untuk menjalankannya. Seseorang yang mengetahui bahwa kezaliman dilarang seharusnya memiliki dorongan untuk menghindarinya. Pengetahuan yang benar semestinya melahirkan tindakan yang sesuai dengan kebenaran tersebut.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan manusia agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ash-Shaff ayat 2–3:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa kesenjangan antara perkataan dan perbuatan bukan persoalan kecil. Manusia dituntut untuk memiliki keselarasan antara apa yang diyakini, apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan.
Ketika Pengetahuan Kalah oleh Kepentingan
Salah satu alasan manusia tidak bertindak sesuai pengetahuannya adalah karena kepentingan. Seseorang mungkin mengetahui bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya adalah salah, tetapi ketika kesempatan datang dan keuntungan pribadi terlihat besar, pengetahuan tersebut dapat dikalahkan oleh keinginan.
Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Orang mengetahui bahwa berkata kasar dapat menyakiti orang lain, tetapi tetap melakukannya karena sedang marah. Seseorang memahami bahwa menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya dapat merugikan orang lain, tetapi tetap membagikannya karena ingin menjadi orang pertama yang mengetahui sebuah berita.
Artinya, persoalan kesadaran sering kali bukan terletak pada tidak adanya pengetahuan, tetapi pada lemahnya kemampuan mengendalikan diri ketika pengetahuan tersebut berhadapan dengan kepentingan, emosi, kebiasaan, dan tekanan lingkungan. Kesadaran membuat manusia mampu berhenti sejenak sebelum mengikuti dorongan tersebut.
Mengapa Manusia Tahu tetapi Tetap Melakukan Kesalahan?
Manusia memiliki kemampuan untuk memahami sesuatu sekaligus memiliki kelemahan dalam mengendalikan dirinya. Karena itu, mengetahui bahwa sesuatu itu salah tidak otomatis menghilangkan keinginan untuk melakukannya. Kesadaran membutuhkan latihan yang terus-menerus agar manusia mampu menempatkan nilai di atas dorongan sesaat.
Dalam kehidupan sosial, masalah menjadi lebih rumit ketika kesalahan mulai dianggap biasa. Seseorang yang awalnya merasa tidak nyaman ketika melanggar aturan dapat perlahan kehilangan rasa bersalah ketika melihat orang lain melakukan hal yang sama. Jika lingkungan terus memberikan pembenaran, batas antara benar dan salah dapat menjadi semakin kabur.
Krisis kesadaran kemudian berkembang menjadi budaya. Sesuatu yang seharusnya membuat manusia merasa bersalah justru dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan. Pada tahap ini, pengetahuan tentang benar dan salah masih ada, tetapi kekuatan moralnya semakin melemah.
Partai X: Kesadaran Membutuhkan Keberanian untuk Melawan Kebiasaan
Kesadaran tidak selalu membuat kehidupan menjadi mudah. Justru terkadang manusia yang sadar harus berani melakukan sesuatu yang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Ketika banyak orang membenarkan tindakan tertentu, seseorang yang memilih tetap memegang prinsip dapat dianggap aneh atau terlalu idealis.
Namun, kesadaran memang membutuhkan keberanian. Manusia perlu mampu mengatakan tidak ketika sesuatu bertentangan dengan nilai yang diyakininya. Ia perlu berani mengakui kesalahan meskipun pengakuan tersebut membuat dirinya terlihat tidak sempurna. Ia juga perlu mampu memperbaiki perilaku meskipun tidak ada orang yang memberikan penghargaan.
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa persoalan terbesar masyarakat bukan sekadar kurangnya pengetahuan, tetapi semakin lebarnya jarak antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan.
“Kalau manusia hanya berhenti pada pengetahuan, maka informasi sebanyak apa pun tidak otomatis mengubah masyarakat. Kesadaran muncul ketika seseorang bersedia menjadikan pengetahuannya sebagai dasar untuk mengambil keputusan, termasuk ketika keputusan itu tidak menguntungkan dirinya,” ujar Prayogi.
Menurutnya, ukuran kemajuan manusia tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak informasi yang dikuasai, tetapi dari bagaimana informasi tersebut membentuk perilaku dan tanggung jawab.
Penutup: Dari Pengetahuan Menuju Kesadaran
Krisis kesadaran manusia pada akhirnya dapat dilihat dari jarak antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan. Masyarakat mungkin telah mengetahui banyak hal tentang kebaikan, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu menjadi kekuatan yang mengarahkan perilaku.
Karena itu, manusia perlu membangun kebiasaan untuk menghubungkan pengetahuan dengan tindakan. Setiap kali mengetahui sesuatu yang benar, manusia perlu bertanya bagaimana kebenaran itu diterapkan dalam kehidupannya. Setiap kali memahami bahwa sesuatu itu salah, ia perlu memiliki keberanian untuk menghindarinya, bahkan ketika lingkungan memberikan pembenaran.
Sebab pengetahuan seharusnya tidak membuat manusia sekadar mampu berbicara tentang kebaikan. Pengetahuan seharusnya membuat manusia semakin mampu menjalankan kebaikan.
Pada akhirnya, krisis kesadaran manusia terjadi ketika manusia mengetahui banyak hal tetapi kehilangan hubungan antara pengetahuan, nilai, dan tindakan. Islam mengajarkan bahwa ilmu memiliki tanggung jawab moral. Apa yang diketahui seharusnya membentuk cara manusia berpikir, apa yang diyakini seharusnya memengaruhi sikap, dan apa yang dikatakan seharusnya tercermin dalam perbuatan.
Bangsa tidak akan cukup hanya dengan manusia-manusia yang pintar berbicara tentang kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian. Bangsa membutuhkan manusia yang mampu menjalankan nilai tersebut ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada yang memuji, dan bahkan ketika berbuat benar harus membuatnya mengorbankan kepentingan pribadi.
Sebab ukuran kesadaran bukan seberapa banyak kebenaran yang diketahui manusia, tetapi seberapa jauh kebenaran itu hidup dalam perilakunya.