muslimx.id — Krisis kesadaran manusia tidak hanya terlihat dari cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri. Ia juga terlihat dari bagaimana seseorang memandang persoalan yang terjadi di sekitarnya. Ketika sebuah masalah muncul di lingkungan masyarakat, sering kali muncul pertanyaan sederhana: “Siapa yang harus menyelesaikannya?” Pertanyaan tersebut sebenarnya wajar. Namun, persoalan muncul ketika hampir semua orang merasa bahwa jawabannya selalu “orang lain”.
Sampah menumpuk dianggap urusan petugas kebersihan. Fasilitas umum rusak dianggap tugas pemerintah. Lingkungan tidak terawat dianggap tanggung jawab pengurus. Ketertiban terganggu dianggap persoalan aparat. Bahkan ketika melihat seseorang mengalami kesulitan, sebagian orang memilih berjalan melewatinya karena merasa tidak memiliki hubungan dengan persoalan tersebut. Sedikit demi sedikit, rasa memiliki terhadap kehidupan bersama mulai melemah.
Masyarakat Bukan Sekadar Sekumpulan Individu
Masyarakat bukan hanya sekumpulan orang yang tinggal di tempat yang sama, juga terbentuk dari hubungan, kepedulian, aturan, kebiasaan, dan tanggung jawab yang dijalankan bersama. Karena itu, kualitas sebuah lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau pemimpinnya, tetapi juga oleh perilaku manusia yang hidup di dalamnya.
Jika setiap orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, persoalan kecil dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Jalan menjadi kotor karena masing-masing merasa bukan tugasnya menjaga kebersihan. Lingkungan menjadi tidak nyaman karena setiap orang menunggu pihak lain bertindak. Fasilitas umum cepat rusak karena tidak ada rasa memiliki. Dalam keadaan seperti ini, masalah bukan lagi sekadar kurangnya fasilitas, tetapi hilangnya kesadaran bahwa sesuatu yang digunakan bersama juga harus dijaga bersama.
Kesadaran sosial membuat seseorang memahami bahwa kehidupan bersama membutuhkan kontribusi. Tidak semua persoalan memang harus diselesaikan oleh setiap orang, tetapi setiap orang memiliki bagian tertentu yang tidak dapat sepenuhnya dialihkan kepada orang lain.
Islam Mengajarkan Amanah dan Tanggung Jawab
Dalam Islam, manusia tidak ditempatkan sebagai makhluk yang bebas melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan akibatnya. Manusia memiliki amanah dalam kehidupannya. Amanah tersebut mencakup hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama manusia, serta tanggung jawab terhadap lingkungan tempat ia hidup.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30 tentang manusia yang dijadikan sebagai khalifah di bumi. Konsep tersebut mengandung pesan bahwa kehidupan di bumi bukan sesuatu yang boleh diperlakukan tanpa tanggung jawab. Manusia memiliki peran untuk menjaga, mengelola, dan menggunakan kehidupan dengan cara yang tidak menimbulkan kerusakan.
Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat bukan sekadar persoalan etika sosial. Ia juga berkaitan dengan kesadaran akan amanah. Menjaga kebersihan, tidak merusak fasilitas umum, membantu orang yang membutuhkan, serta tidak mengganggu kehidupan orang lain merupakan tindakan sederhana yang menunjukkan bahwa seseorang memahami dirinya sebagai bagian dari kehidupan yang lebih luas.
Mentalitas “Bukan Urusan Saya”
Salah satu bentuk krisis kesadaran manusia yang paling mudah ditemukan adalah mentalitas “bukan urusan saya”. Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi jika menjadi kebiasaan masyarakat, dampaknya dapat sangat besar. Ketika seseorang melihat persoalan tetapi memilih tidak peduli, orang berikutnya melakukan hal yang sama, dan akhirnya tidak ada yang merasa memiliki tanggung jawab.
Mentalitas ini dapat muncul dalam banyak situasi. Ketika melihat fasilitas umum dirusak, seseorang memilih diam, melihat lingkungan mulai kotor, ia menunggu petugas datang, saat mengetahui ada tetangga yang kesulitan, ia merasa tidak perlu ikut campur. Ketika melihat persoalan sosial berkembang, ia merasa bahwa semuanya merupakan tugas pemerintah.
Tentu tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh individu. Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab melalui kebijakan dan pelayanan publik. Aparat memiliki kewenangan tertentu. Lembaga masyarakat juga memiliki peran masing-masing. Namun, tanggung jawab institusi tidak berarti masyarakat kehilangan tanggung jawab moralnya. Kehidupan bersama membutuhkan keduanya berjalan beriringan.
Menunggu Orang Lain Memulai
Krisis kesadaran juga muncul dalam bentuk kebiasaan menunggu. Semua orang sebenarnya mengetahui bahwa sebuah persoalan perlu diperbaiki, tetapi tidak ada yang bersedia memulai. Masing-masing menunggu orang lain bergerak terlebih dahulu.
Padahal, banyak perubahan sosial justru bermula dari tindakan sederhana seseorang. Seseorang mulai membersihkan lingkungan, kemudian tetangganya ikut membantu. Mengajak warga menjaga fasilitas bersama, kemudian muncul kebiasaan baru. Berani menyampaikan persoalan secara baik-baik, lalu orang lain merasa memiliki ruang untuk ikut berbicara.
Kesadaran sosial tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk berhenti bertanya “siapa yang harus melakukan?” dan mulai bertanya “apa yang dapat saya lakukan?” Perubahan pertanyaan tersebut terlihat kecil, tetapi dapat mengubah cara manusia memandang kehidupan bersama.
Partai X: Tanggung Jawab Tidak Harus Menunggu Jabatan
Ada anggapan bahwa seseorang baru dapat memberikan kontribusi ketika memiliki jabatan atau kewenangan. Padahal, tanggung jawab sosial tidak selalu membutuhkan posisi formal. Seorang warga dapat menjaga lingkungan. Seorang guru dapat membentuk kebiasaan baik pada murid. Orang tua dapat mengajarkan kepedulian kepada anak. Anak muda dapat menghidupkan kegiatan di lingkungannya.
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, melihat bahwa masyarakat yang kuat tidak hanya dibentuk oleh institusi yang baik, tetapi juga oleh warga yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya.
“Kesadaran masyarakat tumbuh ketika manusia berhenti melihat dirinya sebagai penonton. Kita memang membutuhkan pemerintah dan lembaga yang bekerja dengan baik, tetapi masyarakat juga memiliki ruang untuk mengambil bagian. Jangan sampai semua persoalan publik dianggap sebagai sesuatu yang harus diselesaikan orang lain,” ujar Prayogi.
Menurutnya, rasa memiliki menjadi salah satu unsur penting dalam membangun masyarakat. Ketika seseorang merasa bahwa lingkungan di sekitarnya adalah bagian dari kehidupannya, ia akan lebih mudah terdorong untuk menjaga dan memperbaikinya.
Penutup: Kepedulian Dimulai dari Hal yang Dekat
Sering kali manusia membayangkan tanggung jawab sosial sebagai sesuatu yang besar. Membantu masyarakat miskin, menyelesaikan persoalan lingkungan, memperbaiki pendidikan, atau membangun perubahan sosial memang penting. Tetapi kesadaran tidak akan tumbuh jika manusia mengabaikan persoalan yang berada paling dekat dengan dirinya.
Menjaga kebersihan di depan rumah, tidak mengganggu jalan umum, menghormati tetangga, menggunakan fasilitas bersama dengan baik, membantu orang yang sedang kesulitan, dan tidak membuang sesuatu sembarangan adalah bentuk tanggung jawab yang sederhana. Dari kebiasaan tersebut terbentuk karakter masyarakat.
Jika manusia hanya berbicara tentang perubahan besar tetapi tidak mampu menjaga ruang kecil di sekitarnya, maka perubahan tersebut akan sulit memiliki fondasi. Masyarakat yang baik dibangun dari kebiasaan sehari-hari yang dilakukan berulang-ulang hingga menjadi budaya.