Serambi Peradaban: Dari Rumah Maiyah, Sekolah Negarawan Membaca Pemikiran Cak Nun sebagai Jalan Menuju Perdamaian

muslimX
By muslimX
8 Min Read

YOGYAKARTA — Perdamaian dunia sering kali dibicarakan melalui bahasa politik, diplomasi, ekonomi, dan kepentingan antarnegara. Namun, ada jalan lain yang tidak kalah penting, yakni kebudayaan. Dari kebudayaan manusia belajar mengenal dirinya, memahami orang lain, dan menemukan nilai yang dapat mempertemukan perbedaan. Gagasan inilah yang kembali menjadi bahan refleksi dalam “Serambi Peradaban: Nusantara-Persia” yang digelar Sekolah Negarawan di Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta, pada Kamis (24/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dengan pengalaman kebudayaan Persia. Hadir dalam pertemuan tersebut Senior Advisor Sekolah Negarawan Adil Amrullah atau Cak Dil, Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, Atase Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia Dr. Yahya Jahangiri, serta CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya.

Pertemuan di Rumah Maiyah menjadi menarik karena mempertemukan dua ruang yang berbeda tetapi memiliki titik temu. Di satu sisi terdapat pengalaman kebudayaan Nusantara yang tumbuh dari masyarakat. Di sisi lain terdapat tradisi Persia yang memiliki sejarah panjang dalam ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dan spiritualitas.

Dari perjumpaan tersebut muncul satu pertanyaan besar: dapatkah kebudayaan menjadi jalan untuk membangun perdamaian yang lebih mendalam di tengah dunia yang semakin mudah terhubung, tetapi pada saat yang sama juga semakin mudah terpecah?

Kebudayaan Sebelum Politik

Salah satu gagasan yang mengemuka dalam “Serambi Peradaban” adalah pentingnya menempatkan kebudayaan sebagai bagian mendasar dalam membangun hubungan antarmanusia dan antarbangsa.

Dalam pemikiran Cak Nun, kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan seni atau tradisi. Kebudayaan menyentuh cara manusia memahami kehidupan, membangun hubungan sosial, memperlakukan sesama, dan menentukan arah kehidupan bersama. Karena itu, politik dan ketatanegaraan tidak dapat sepenuhnya dilepaskan dari kebudayaan masyarakat yang menjadi tempat keduanya tumbuh.

Ketika hubungan antarnegara hanya dibangun melalui kepentingan ekonomi dan kalkulasi politik, hubungan tersebut dapat berubah ketika kepentingan mengalami perubahan. Kebudayaan menawarkan ruang yang berbeda. Ia mempertemukan manusia melalui pengalaman, nilai, sejarah, dan identitas yang lebih dalam.

Bukan berarti politik dan ekonomi tidak penting. Keduanya tetap menjadi bagian dari hubungan antarnegara. Namun, perjumpaan kebudayaan dapat memberikan dimensi manusiawi yang membuat hubungan tersebut tidak berhenti pada kepentingan transaksional.

Rumah Maiyah dan Pertemuan Dua Peradaban

Rumah Maiyah Kadipiro memiliki konteks tersendiri dalam pertemuan tersebut. Tempat ini selama bertahun-tahun menjadi ruang berlangsungnya berbagai percakapan tentang kebudayaan, masyarakat, agama, kehidupan, dan persoalan bangsa.

Karena itu, “Serambi Peradaban: Nusantara-Persia” tidak hanya dapat dibaca sebagai sebuah acara pertukaran kebudayaan. Ia juga menjadi simbol perjumpaan antara pengalaman lokal dan cakrawala global.

Kehadiran Dr. Yahya Jahangiri memberikan dimensi lain dalam pertemuan tersebut. Tradisi Nusantara dan Persia dipertemukan bukan untuk mencari siapa yang lebih unggul, melainkan untuk menemukan kemungkinan percakapan di antara keduanya.

Ada banyak hal yang dapat diperbincangkan ketika dua peradaban bertemu. Mulai dari bagaimana ilmu pengetahuan ditempatkan dalam kehidupan masyarakat, bagaimana kebudayaan diwariskan kepada generasi berikutnya, bagaimana spiritualitas memengaruhi cara manusia memandang kehidupan, hingga bagaimana masyarakat membangun tata kelola yang sesuai dengan nilai yang mereka yakini.

Pertemuan semacam ini menunjukkan bahwa dialog antarperadaban tidak harus dimulai dari keseragaman. Perbedaan justru dapat menjadi pintu untuk saling memahami.

Musik, Kebudayaan, dan Bahasa yang Dipahami Manusia

Hadirnya KiaiKanjeng dalam rangkaian “Serambi Peradaban” juga memperlihatkan bahwa dialog kebudayaan tidak selalu harus berlangsung dalam bahasa akademik.

Musik memiliki kemampuan untuk menjangkau ruang yang kadang sulit ditembus oleh bahasa politik. Orang dapat berbeda negara, bahasa, agama, atau latar belakang sejarah, tetapi tetap dapat menemukan pengalaman emosional melalui seni.

Dalam konteks tersebut, kebudayaan menjadi bahasa yang lebih luas. Ia memungkinkan manusia berjumpa sebelum terlebih dahulu memperdebatkan perbedaan.

Cara pandang ini relevan ketika dunia menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan. Ketegangan antarbangsa tidak selalu lahir karena manusia tidak memiliki informasi tentang satu sama lain. Sering kali persoalannya adalah karena manusia tidak benar-benar mengenal pihak lain secara utuh.

Mengenal kebudayaan berarti mengenal manusia di balik identitas sebuah bangsa. Dari sana, prasangka memiliki kesempatan untuk digantikan oleh pemahaman.

Dari 12 Negara, Mencari Ruang Dialog

Apa yang dilakukan Sekolah Negarawan di Kadipiro juga tidak berdiri sendiri. Selama dua tahun terakhir, lembaga tersebut melakukan perjalanan dan riset lapangan ke 12 negara untuk menelusuri jejak pemikiran serta kiprah Cak Nun di ruang internasional.

Perjalanan tersebut mencakup kawasan Eropa Barat, Finlandia, Estonia, Turkiye, Timur Tengah, Iran, hingga Asia Tenggara. Setiap tempat menghadirkan pengalaman sosial dan kebudayaan yang berbeda.

Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk menguji gagasan melalui perjumpaan langsung. Pemikiran tidak hanya ditempatkan sebagai teks yang selesai dibaca, tetapi dibawa bertemu dengan kenyataan yang berbeda-beda.

Pengalaman di luar negeri kemudian dipertemukan kembali dengan perjalanan di dalam negeri. Diseminasi pemikiran kenegaraan tersebut telah menjangkau berbagai daerah, dari Medan di bagian barat Indonesia hingga Ternate dan Tidore di Maluku Utara.

Perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sendiri memiliki banyak ruang kebudayaan yang dapat menjadi sumber pengetahuan. Nusantara tidak hanya menjadi objek pembicaraan tentang kebudayaan, tetapi juga dapat menjadi sumber gagasan untuk berdialog dengan dunia.

Dari Nusantara untuk Dunia

Kehadiran Dr. Yahya Jahangiri dalam forum tersebut memberikan makna penting bagi upaya mempertemukan Nusantara dan Persia. Apresiasi terhadap langkah Sekolah Negarawan dalam menggali pemikiran Cak Nun sekaligus membuka ruang komunikasi dengan kebudayaan lain menunjukkan bahwa warisan pemikiran lokal dapat menjadi bahan dialog internasional.

Namun, membawa gagasan Nusantara ke dunia tidak berarti menjadikan semua persoalan memiliki satu jawaban yang sama. Justru sebaliknya, kekayaan sebuah peradaban dapat terlihat ketika ia mampu memasuki ruang dialog tanpa kehilangan identitasnya.

Indonesia memiliki sejarah panjang perjumpaan kebudayaan. Berbagai tradisi, agama, bahasa, dan pengalaman sejarah hidup berdampingan dalam ruang yang sama. Pengalaman tersebut merupakan modal penting untuk membangun cara pandang tentang hubungan antarbangsa yang tidak hanya didasarkan pada kepentingan, tetapi juga penghormatan terhadap manusia.

Perdamaian yang Berakar pada Pengenalan

“Serambi Peradaban” pada akhirnya membawa pembicaraan pada sesuatu yang lebih besar daripada hubungan Indonesia dan Iran. Ia menyentuh pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat hidup bersama di tengah dunia yang penuh perbedaan.

Perdamaian tidak cukup hanya dijaga melalui kesepakatan politik. Perdamaian juga membutuhkan manusia yang mampu memahami bahwa bangsa lain memiliki sejarah, pengalaman, keyakinan, dan kebudayaan yang layak dihormati.

Dari perspektif tersebut, pemikiran Cak Nun yang dibawa Sekolah Negarawan menjadi bagian dari sebuah ikhtiar untuk membuka ruang dialog. Bukan dengan menghapus perbedaan, tetapi dengan mempertemukan perbedaan dalam percakapan yang lebih manusiawi.

Dari 12 negara yang menjadi bagian dari perjalanan riset, dari Medan hingga Ternate dan Tidore, lalu kembali ke Rumah Maiyah Kadipiro, terdapat satu benang merah yang dapat dibaca: gagasan tentang bangsa tidak harus berhenti di batas geografisnya sendiri.

Nusantara dapat berbicara kepada dunia. Persia dapat berdialog dengan Nusantara. Eropa dapat menjadi ruang belajar. Dan kebudayaan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan semuanya.

Pada akhirnya, perdamaian mungkin tidak selalu dimulai dari meja perundingan. Ia dapat dimulai dari sebuah perjumpaan sederhana, ketika manusia bersedia mengenal manusia lain lebih dalam. Dari sanalah kebudayaan menemukan perannya, bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai jalan untuk membangun masa depan bersama.

Share This Article