muslimx.id — Manusia dan kemanusiaan menjadi dua hal yang semakin penting untuk dibicarakan ketika kehidupan modern bergerak begitu cepat. Manusia berhasil menciptakan teknologi yang mampu mengubah cara bekerja, berkomunikasi, belajar, bahkan mengambil keputusan. Ilmu pengetahuan berkembang, pendidikan semakin mudah diakses, dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi dengan cara yang jauh lebih praktis dibandingkan masa lalu. Namun, di tengah semua kemajuan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah manusia juga semakin manusiawi?
Pertanyaan itu penting karena kemajuan tidak selalu berjalan searah dengan pertumbuhan kepedulian. Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi tetapi tetap merendahkan orang lain. Teknologi dapat membuat komunikasi berlangsung dalam hitungan detik, tetapi tidak selalu membuat manusia lebih mampu memahami perasaan sesamanya. Kehidupan dapat semakin nyaman, tetapi kepedulian terhadap orang yang mengalami kesulitan belum tentu ikut berkembang. Di sinilah kemajuan peradaban perlu kembali dihubungkan dengan makna menjadi manusia.
Ketika Kemajuan Hanya Diukur dari Apa yang Diciptakan
Kemajuan manusia selama ini sering dilihat dari kemampuan menciptakan sesuatu. Gedung semakin tinggi, kendaraan semakin cepat, teknologi semakin pintar, informasi semakin mudah diperoleh, dan produktivitas semakin meningkat. Ukuran-ukuran tersebut memang penting karena menunjukkan kemampuan manusia mengembangkan ilmu dan mengelola kehidupan.
Namun, persoalannya muncul ketika ukuran tersebut dianggap sudah cukup untuk menjelaskan keberhasilan manusia. Kemampuan menciptakan teknologi tidak otomatis menunjukkan kemampuan menghargai manusia lain. Kemampuan menguasai informasi tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. Bahkan pengetahuan yang luas dapat digunakan untuk memperbesar kepentingan pribadi apabila tidak disertai kesadaran moral.
Karena itu, kemajuan peradaban seharusnya tidak hanya bertanya apa yang berhasil diciptakan manusia, tetapi juga manusia seperti apa yang dihasilkan oleh kemajuan tersebut. Jika teknologi membuat kehidupan lebih cepat tetapi manusia semakin mudah mengabaikan penderitaan orang lain, maka ada sesuatu yang perlu dipertanyakan dari arah kemajuan itu sendiri.
Menjadi Manusia Lebih dari Sekadar Memiliki Kemampuan
Manusia memiliki kemampuan berpikir, mencipta, berkomunikasi, dan mengembangkan pengetahuan. Tetapi kemampuan tersebut belum otomatis membuat seseorang menjadi manusia yang matang. Ada dimensi lain yang menentukan kualitas manusia, yaitu bagaimana kemampuan tersebut digunakan dalam kehidupan bersama.
Menjadi manusia berarti mampu melihat orang lain sebagai manusia pula. Di dalam diri orang lain terdapat harapan, ketakutan, kesulitan, dan martabat yang harus dihargai. Karena itu, kualitas manusia tidak hanya terlihat ketika ia berhasil mencapai sesuatu, tetapi juga ketika ia berhadapan dengan orang yang tidak memiliki kekuatan yang sama dengannya.
Seseorang dapat memiliki jabatan tinggi, tetapi kualitas kemanusiaannya justru terlihat dari bagaimana ia memperlakukan bawahannya, memiliki kekayaan besar, tetapi kemanusiaannya terlihat dari apakah ia mampu melihat penderitaan orang lain. Seseorang dapat memiliki ilmu tinggi, tetapi kematangannya terlihat dari apakah ilmu tersebut membuatnya semakin rendah hati dan bermanfaat.
Ketika Manusia Semakin Mudah Saling Mengabaikan
Kemajuan teknologi memberikan kemampuan luar biasa kepada manusia untuk terhubung. Dalam beberapa detik seseorang dapat mengetahui apa yang terjadi di tempat yang sangat jauh. Namun, kedekatan informasi tidak selalu menghasilkan kedekatan emosional.
Manusia dapat melihat penderitaan orang lain melalui layar, membaca berbagai persoalan sosial, dan menyaksikan kesulitan seseorang tanpa benar-benar merasa perlu melakukan sesuatu. Bahkan ruang digital terkadang membuat manusia lebih mudah memberikan penilaian daripada memahami keadaan. Orang lain dapat dengan cepat diberi label, dihukum melalui komentar, atau direndahkan hanya berdasarkan potongan informasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kemanusiaan tidak selesai hanya dengan membuat manusia semakin terhubung. Hubungan membutuhkan empati. Informasi membutuhkan kebijaksanaan. Dan kemampuan berbicara membutuhkan tanggung jawab. Jika tidak, teknologi hanya mempercepat komunikasi tanpa memperdalam kemanusiaan.
Perspektif Islam: Manusia Memiliki Martabat
Islam memberikan dasar yang kuat untuk memahami hubungan antara manusia dan kemanusiaan. Al-Qur’an menyebut dalam QS Al-Isra ayat 70 bahwa Allah telah memuliakan anak cucu Adam. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki martabat yang tidak semestinya direndahkan atau diperlakukan sekadar sebagai alat.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika manusia memiliki kekuasaan, ilmu, atau kemampuan yang lebih besar daripada orang lain. Kemampuan seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih berhak merendahkan manusia lain. Sebaliknya, semakin besar kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya dengan benar.
Al-Qur’an juga mengingatkan dalam QS Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, sementara kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh asal-usul atau status sosial, melainkan ketakwaan. Pesan ini memperlihatkan bahwa perbedaan manusia seharusnya menjadi jalan untuk membangun hubungan, bukan alasan untuk merendahkan.
Kemajuan Harus Membawa Manusia Lebih Dekat kepada Sesama
Jika kemajuan hanya menghasilkan kemampuan untuk menguasai dunia, tetapi tidak membuat manusia mampu mengendalikan dirinya, maka kemajuan tersebut belum sepenuhnya menyentuh persoalan kemanusiaan. Manusia mungkin semakin mampu mengendalikan teknologi, tetapi tetap harus belajar mengendalikan keserakahan, kesombongan, dan ketidakpeduliannya.
Diana Isnaini, Anggota Majelis Tinggi Partai X, melihat bahwa persoalan manusia modern bukan hanya tentang kurangnya kemampuan, tetapi juga tentang bagaimana kemampuan tersebut diarahkan.
“Manusia hari ini memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Tetapi kemampuan itu harus diikuti dengan kesadaran bahwa manusia hidup bersama orang lain. Kemajuan seharusnya membuat kita semakin mampu membantu, menghargai, dan menjaga kehidupan sesama, bukan justru semakin mudah melihat orang lain hanya sebagai alat untuk mencapai kepentingan kita,” ujar Diana.
Menurutnya, ukuran kemajuan perlu diperluas. Masyarakat tidak cukup hanya bertanya seberapa maju teknologi dan ekonomi yang dimiliki, tetapi juga perlu melihat apakah kemajuan tersebut membuat hubungan sosial menjadi lebih sehat dan manusia semakin memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Mengembalikan Makna Kemajuan kepada Kemanusiaan
Pada akhirnya, persoalan manusia dan kemanusiaan membawa kita kembali kepada pertanyaan tentang ukuran keberhasilan. Manusia memang perlu terus mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan berbagai kemampuan lainnya. Tidak ada alasan untuk menolak kemajuan. Namun, kemajuan harus memiliki arah.
Ilmu seharusnya membuat manusia semakin memahami kehidupan. Teknologi seharusnya membantu manusia menyelesaikan persoalan, bukan menghilangkan kepedulian. Kekayaan seharusnya membuka ruang bagi kebermanfaatan. Kekuasaan seharusnya memperbesar tanggung jawab. Dan pendidikan seharusnya membuat manusia semakin mampu memahami dirinya sekaligus menghargai manusia lain.
Kemanusiaan pada akhirnya tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil dimiliki seseorang, tetapi dari bagaimana ia menggunakan apa yang dimilikinya. Pengetahuan, kekayaan, jabatan, dan teknologi adalah alat. Nilainya tergantung pada arah penggunaannya.
Karena itu, pertanyaan tentang masa depan manusia seharusnya tidak hanya berbunyi, “Seberapa maju kita nanti?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk melalui kemajuan itu?”
Sebab, peradaban yang semakin canggih belum tentu menjadi peradaban yang semakin manusiawi. Kemajuan baru memiliki makna ketika manusia tidak kehilangan kemampuan untuk melihat manusia lain sebagai sesama, menjaga martabatnya, memahami penderitaannya, dan menggunakan segala kemampuan yang dimiliki untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik.