muslimx.id — Membicarakan masa depan petani Indonesia pada dasarnya adalah membicarakan masa depan pangan dan kehidupan bangsa. Selama manusia masih membutuhkan makanan, selama itu pula keberadaan petani memiliki arti yang sangat penting. Namun, dalam kehidupan modern, petani seringkali hanya dilihat sebagai bagian dari rantai produksi, sementara persoalan tentang siapa yang menjaga keberlangsungan profesi tersebut justru kurang mendapat perhatian.
Petani tidak hanya menghasilkan beras, sayuran, buah-buahan, dan berbagai kebutuhan pangan. Di balik pekerjaan mereka terdapat ketahanan keluarga, kehidupan desa, perputaran ekonomi lokal, dan keberlangsungan sistem pangan nasional. Ketika petani kehilangan tanah, kehilangan pasar, kehilangan kesejahteraan, atau tidak memiliki penerus, persoalannya pada akhirnya tidak berhenti di pedesaan. Dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Petani Bukan Sekadar Pekerja di Sektor Pertanian
Cara pandang terhadap petani perlu diperluas. Petani bukan sekadar pekerja yang menghasilkan komoditas untuk dijual di pasar. Mereka berada pada titik awal dari sebuah proses panjang yang berakhir di meja makan masyarakat.
Ketika seseorang membeli beras di pasar, misalnya, perhatian sering berhenti pada harga yang harus dibayar. Padahal sebelum beras tersebut sampai ke tangan konsumen, ada proses panjang yang melibatkan petani, tanah, air, benih, tenaga kerja, distribusi, dan berbagai risiko yang harus ditanggung.
Karena itu, kesejahteraan petani tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan kelompok tertentu saja. Ketika kehidupan petani semakin sulit, keberlangsungan sistem pangan juga ikut menghadapi persoalan.
Jika Petani Tidak Memiliki Masa Depan, Siapa yang Menanam Pangan?
Pertanyaan paling mendasar dalam membicarakan masa depan pertanian sebenarnya sederhana: siapa yang akan menanam pangan pada masa mendatang?
Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika generasi muda tidak melihat pertanian sebagai pekerjaan yang memiliki masa depan. Jika bertani dianggap tidak memberikan kepastian ekonomi, tidak memiliki ruang pengembangan, terlalu berat, dan tidak memberikan penghargaan sosial yang layak, maka semakin sedikit anak muda yang bersedia meneruskannya.
Regenerasi petani karena itu tidak cukup dilakukan dengan meminta anak muda kembali ke sawah. Mereka perlu melihat bahwa pertanian dapat menjadi profesi yang bermartabat, produktif, dan memiliki peluang berkembang.
Pertanian juga harus mampu memberi ruang bagi generasi baru untuk membawa ilmu, teknologi, kreativitas, dan model usaha yang berbeda. Dengan begitu, regenerasi tidak sekadar mengganti petani tua dengan petani muda, tetapi menghadirkan generasi pertanian yang lebih kuat.
Menjaga Petani Berarti Menjaga Ekosistem Kehidupan
Petani tidak hidup sendirian. Di sekitar pertanian terdapat kehidupan masyarakat desa, pedagang, penggilingan, pengangkut, pelaku usaha pangan, pasar tradisional, hingga industri pengolahan.
Karena itu, ketika pertanian melemah, yang terancam bukan hanya pendapatan petani. Ekosistem ekonomi yang tumbuh di sekitarnya juga dapat ikut kehilangan sumber penghidupan.
Di sinilah pentingnya melihat pertanian sebagai ekosistem. Petani membutuhkan akses terhadap lahan, modal, pengetahuan, teknologi, infrastruktur, pasar, dan perlindungan dari berbagai risiko. Tidak adil apabila seluruh beban produksi diberikan kepada petani, sementara keuntungan dan nilai tambah terbesar justru terkonsentrasi jauh dari mereka.
Membangun pertanian berarti membangun mata rantai yang memungkinkan petani memperoleh posisi yang layak di dalamnya.
Perspektif Islam: Pangan dan Kehidupan adalah Amanah
Dalam perspektif Islam, kehidupan manusia memiliki nilai yang tinggi. Karena itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia tidak semestinya dipandang hanya melalui ukuran keuntungan.
Allah berfirman dalam QS Al-Ma’idah ayat 32 bahwa siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya. Ayat tersebut memberikan perspektif penting bahwa menjaga kehidupan merupakan perkara yang memiliki nilai moral yang besar.
Dalam konteks pertanian, menjaga petani berarti ikut menjaga salah satu mata rantai kehidupan. Tanah yang subur, air yang terjaga, pangan yang tersedia, dan petani yang mampu hidup layak merupakan bagian dari amanah yang harus dikelola dengan baik.
Islam juga mengajarkan bahwa kekayaan dan sumber daya tidak boleh hanya berputar di antara kelompok tertentu. Karena itu, pembangunan pertanian seharusnya tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan bahwa manusia yang bekerja di dalamnya memperoleh keadilan dan penghargaan.
Partai X: Masa Depan Bangsa Tidak Bisa Dipisahkan dari Masa Depan Petani
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa perhatian terhadap petani harus ditempatkan sebagai bagian dari agenda masa depan bangsa, bukan sekadar kebijakan sektoral.
“Kalau kita berbicara tentang masa depan bangsa, kita tidak bisa mengabaikan masa depan petani. Petani adalah bagian dari fondasi kehidupan. Ketika petani kehilangan masa depan, persoalannya bukan hanya tentang profesi yang berkurang, tetapi tentang siapa yang akan memastikan pangan masyarakat tetap tersedia,” ujar Prayogi.
Menurutnya, petani perlu ditempatkan sebagai subjek pembangunan. Mereka bukan hanya penerima program, melainkan pelaku utama yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kebutuhan nyata di lapangan.
Karena itu, pembangunan pertanian harus bergerak dari sekadar meningkatkan produksi menuju penguatan ekosistem. Petani perlu memiliki akses terhadap pengetahuan, teknologi, pembiayaan, pasar, dan nilai tambah dari hasil pertanian mereka sendiri.
Menghargai Petani Sebelum Krisis Pangan Datang
Sering kali manusia baru menyadari pentingnya sesuatu ketika sesuatu tersebut mulai hilang. Demikian pula dengan petani. Selama makanan tersedia di pasar, keberadaan petani mudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Namun, ketika jumlah petani semakin berkurang, lahan semakin terbatas, biaya produksi meningkat, atau generasi muda tidak lagi tertarik meneruskan pertanian, masyarakat baru akan menyadari bahwa pangan tidak muncul begitu saja di pasar.
Pangan berasal dari proses panjang yang dimulai dari tanah dan tangan manusia.
Karena itu, penghargaan terhadap petani tidak seharusnya berhenti pada seremoni atau slogan. Penghargaan harus diwujudkan melalui sistem yang membuat petani mampu hidup layak dari pekerjaannya. Anak petani harus melihat bahwa meneruskan profesi orang tuanya bukan berarti mewarisi kesulitan, tetapi memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Masa Depan Petani adalah Masa Depan Bangsa
Pada akhirnya, masa depan petani Indonesia tidak dapat dipisahkan dari masa depan masyarakat Indonesia sendiri. Bangsa yang ingin memiliki ketahanan pangan harus memiliki petani yang kuat. Bangsa yang ingin membangun ekonomi desa harus menjaga sektor pertaniannya. Dan bangsa yang ingin menyiapkan generasi mendatang harus memastikan bahwa mereka tetap memiliki sistem pangan yang berkelanjutan.
Petani tidak meminta untuk dipandang sebagai pahlawan setiap hari. Yang lebih penting adalah memastikan pekerjaan mereka memiliki martabat, penghasilan yang layak, perlindungan yang memadai, dan masa depan yang jelas.
Sebab di balik setiap piring makanan ada proses panjang yang sering tidak terlihat. Ada tanah yang dirawat, ada benih yang ditanam, ada musim yang ditunggu, ada risiko yang ditanggung, dan ada manusia yang bekerja agar manusia lainnya dapat makan.
Maka menjaga petani sesungguhnya bukan hanya menjaga sebuah profesi. Menjaga petani berarti menjaga pangan. Menjaga pangan berarti menjaga kehidupan. Dan menjaga kehidupan berarti menjaga masa depan bangsa.