Sekolah Negarawan Belajar Memanusiakan Penumpang: Ketika Transportasi Publik Menjadi Ukuran Martabat Rakyat

muslimX
By muslimX
8 Min Read

TALLINN, ESTONIA — Memanusiakan manusia seharusnya menjadi prinsip dasar pelayanan publik. Negara tidak cukup hanya menyediakan sarana transportasi, membangun pelabuhan, atau menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain. Negara juga perlu memastikan bahwa masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut dengan aman, nyaman, dan bermartabat. Prinsip inilah yang menjadi bahan refleksi para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan ketika menempuh perjalanan laut dari Helsinki, Finlandia, menuju Tallinn, Estonia, menggunakan kapal feri Eckerö Line.

Perjalanan sekitar dua setengah jam tersebut diikuti Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Di tengah pelayaran, mereka mengamati bagaimana fasilitas kapal, kebersihan, keselamatan, dan tata ruang dapat membentuk pengalaman penumpang. Pengalaman itu kemudian menjadi cermin untuk melihat tantangan pelayanan transportasi laut di Indonesia.

Pelayanan Publik Bukan Sekadar Memindahkan Orang

Kapal feri Eckerö Line menawarkan berbagai fasilitas yang menunjang perjalanan, mulai dari kafe, restoran, toko, ruang bermain anak, hingga kabin untuk beristirahat. Kebersihan dan penataan ruang juga menjadi bagian dari pengalaman penumpang selama berada di kapal.

Fasilitas semacam itu memperlihatkan bahwa perjalanan laut dapat dirancang bukan hanya sebagai proses berpindah tempat, tetapi juga sebagai pengalaman yang lebih nyaman. Penumpang tetap membutuhkan ruang untuk beristirahat, memperoleh makanan, bergerak dengan leluasa, dan merasa aman selama perjalanan.

Bagi Indonesia, pembelajaran ini relevan karena transportasi laut memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat kepulauan. Kapal menghubungkan keluarga, menggerakkan perdagangan, mendukung kegiatan wisata, serta membuka akses terhadap pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Ketika transportasi menjadi kebutuhan sehari-hari, kualitas layanan tidak bisa dipandang sebagai urusan tambahan. Kebersihan, kepastian informasi, fasilitas yang layak, dan keselamatan merupakan bagian dari tanggung jawab pengelola transportasi. Masyarakat tidak seharusnya dipaksa menerima pelayanan yang buruk hanya karena pilihan transportasi yang tersedia terbatas.

Kenyamanan Bukan Hak Istimewa Orang Kaya

Rinto Setiyawan, Wakil Direktur Sekolah Negarawan, melihat penataan fasilitas kapal Eckerö sebagai pelajaran tentang pentingnya memperhatikan kebutuhan manusia dalam penyelenggaraan layanan publik. Perjalanan yang melelahkan dapat terasa lebih ringan ketika penumpang memperoleh ruang yang bersih, tertata, dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Di Indonesia, pengalaman penyeberangan antarpulau sangat beragam. Sebagian layanan telah berkembang, sementara sebagian lainnya masih menghadapi tantangan dalam fasilitas, kapasitas, kebersihan, dan konsistensi pelayanan. Karena itu, evaluasi perlu dilakukan berdasarkan kondisi setiap rute, bukan dengan menganggap seluruh layanan penyeberangan memiliki persoalan yang sama.

Meski demikian, ada prinsip yang berlaku secara universal: keselamatan dan perlakuan yang manusiawi tidak boleh menjadi hak istimewa yang hanya dinikmati oleh penumpang berdaya beli tinggi.

Fasilitas premium memang dapat disediakan sebagai pilihan komersial. Namun, standar keselamatan, informasi yang jelas, kebersihan dasar, dan pelayanan yang layak harus menjadi fondasi bagi semua penumpang. Kualitas pelayanan publik semestinya tidak ditentukan semata-mata oleh kemampuan seseorang membayar lebih mahal.

Memuliakan Manusia sebagai Dasar Kepemimpinan

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra menghubungkan pengalaman tersebut dengan pemikiran kenegaraan budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, terutama mengenai pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan bernegara.

Prinsip memuliakan manusia menuntut agar setiap kebijakan dinilai bukan hanya berdasarkan angka anggaran atau keberhasilan administratif, tetapi juga berdasarkan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Sebuah layanan mungkin terlihat berhasil di atas kertas, tetapi belum tentu memenuhi kebutuhan warga yang menggunakannya.

Dalam perspektif Islam, menjaga keselamatan dan menghormati martabat manusia merupakan bagian penting dari tanggung jawab sosial. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 70 bahwa manusia telah dimuliakan oleh-Nya. Pesan ini memberikan landasan moral bahwa manusia tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai angka statistik, objek pelayanan, atau sumber pendapatan.

Dalam transportasi laut, prinsip tersebut berarti keselamatan jiwa harus ditempatkan di atas kepentingan untuk mempercepat keberangkatan atau menekan biaya operasional. Kapal harus memenuhi persyaratan keselamatan, awak harus menjalankan prosedur yang berlaku, dan penumpang harus memperoleh informasi yang memadai.

Memuliakan manusia tidak selalu berarti menyediakan fasilitas mewah. Sering kali, kemuliaan itu justru hadir melalui hal-hal mendasar: kapal yang laik laut, jaket pelampung yang tersedia, petugas yang bertanggung jawab, serta pengelola yang tidak mengabaikan keluhan penumpang.

Teknologi untuk Mencegah Kelalaian

Pengalaman di kawasan Baltik juga membuka pembahasan tentang peran teknologi dalam memperbaiki tata kelola transportasi. Erick Karya, CEO Enygma, menyoroti potensi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung pemantauan kelayakan dan keselamatan transportasi publik.

Sistem digital dapat membantu mengintegrasikan data pemeriksaan kapal, jadwal pemeliharaan, hasil inspeksi, kelengkapan peralatan keselamatan, dan laporan kerusakan. Analisis data dapat digunakan untuk mengenali indikasi risiko lebih awal sehingga pemeriksaan dan perbaikan dapat dilakukan sebelum masalah berkembang menjadi insiden.

Dalam sistem yang dirancang dengan baik, data tersebut juga dapat membantu memastikan bahwa persyaratan keselamatan telah diperiksa sebelum keberangkatan. Jika ditemukan ketidaksesuaian yang berisiko, sistem dapat memberikan peringatan dan mendukung petugas berwenang untuk menunda pelayaran sesuai prosedur.

Namun, AI tidak dapat menjamin keselamatan dengan sendirinya. Data yang tidak akurat, sensor yang gagal, atau sistem yang tidak diperbarui dapat menghasilkan kesimpulan keliru. Karena itu, teknologi harus disertai inspeksi fisik, verifikasi petugas, audit berkala, dan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

Tujuan penerapan AI bukan menggantikan tanggung jawab manusia, melainkan membantu mencegah kelalaian dan memperkuat pengawasan. Teknologi baru bernilai ketika keselamatan masyarakat benar-benar menjadi prioritas dalam penggunaannya.

Belajar dari Finlandia, Berbenah untuk Indonesia

Pengalaman menaiki feri Eckerö Line merupakan bagian dari perjalanan pembelajaran Ekosistem Sekolah Negarawan di berbagai negara. Perbandingan tersebut dapat memperluas cara pandang tentang pelayanan publik, tetapi penerapannya di Indonesia tetap perlu mempertimbangkan kondisi geografis, kemampuan investasi, kebutuhan penumpang, dan karakter setiap jalur pelayaran.

Indonesia tidak harus meniru seluruh fasilitas kapal Eropa. Yang lebih mendesak adalah memastikan bahwa setiap pengembangan layanan bertolak dari kebutuhan nyata masyarakat. Pemeriksaan keselamatan harus konsisten, fasilitas dasar harus berfungsi, informasi perjalanan harus mudah dipahami, dan pengaduan penumpang harus ditindaklanjuti.

Perbaikan juga memerlukan pembagian tanggung jawab yang tegas antara regulator, operator, dan petugas di lapangan. Regulasi yang baik tidak cukup jika pengawasan lemah, sementara teknologi yang canggih tidak banyak membantu jika rekomendasinya diabaikan.

Pada akhirnya, mutu transportasi publik mencerminkan cara sebuah negara memperlakukan warganya. Kapal bukan hanya alat untuk menyeberangi lautan, melainkan bagian dari sistem yang menentukan apakah masyarakat dapat menjalani perjalanan dengan aman dan layak.

Negara yang memuliakan rakyatnya tidak harus menyediakan kemewahan bagi semua orang, tetapi wajib memastikan bahwa tidak seorang pun dipaksa mempertaruhkan keselamatannya demi memperoleh layanan dasar. Dari perjalanan Helsinki menuju Tallinn, Sekolah Negarawan membawa pulang pelajaran bahwa kemajuan transportasi bukan semata-mata tentang kapal yang lebih besar atau teknologi yang lebih canggih, melainkan tentang sistem yang menempatkan keselamatan, kenyamanan dasar, dan martabat manusia sebagai prioritas.

Share This Article