Belajar dari Estonia, Menyatukan Kemajuan Digital dengan Kelestarian Alam

muslimX
By muslimX
7 Min Read

TALLINN, ESTONIA – Keberhasilan suatu kebijakan publik dapat dipahami melalui pengalaman masyarakat yang merasakan dampaknya secara langsung. Berangkat dari pemikiran tersebut, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan mengadakan dialog informal bersama warga lokal Estonia di Hutan Kota Kadriorg, Tallinn. Perbincangan ini mengangkat hubungan antara lingkungan yang sehat, kualitas hidup masyarakat, dan kebahagiaan nasional. Melalui pertemuan di ruang terbuka tersebut, para peserta menggali pandangan warga mengenai hubungan manusia dengan alam serta tanggung jawab negara dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Dialog lintas budaya ini diinisiasi oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Perbincangan berlangsung dalam suasana hangat dengan bantuan Wiwik H, diaspora Indonesia yang memahami konteks budaya Estonia. Kehadiran Wiwik membantu menjembatani komunikasi antara para pegiat Sekolah Negarawan dan masyarakat setempat. Warga lokal memperoleh kesempatan untuk menjelaskan nilai-nilai yang mereka pegang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pertukaran pandangan tersebut menjadi bagian dari upaya memahami pengalaman Estonia dalam merawat lingkungan sekaligus mengembangkan masyarakat digital.

Hutan sebagai Ruang Kehidupan dan Nilai Spiritual

Warga Estonia menjelaskan bahwa hutan memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan mereka dan bahkan dipandang sebagai semacam kuil kedua. Meskipun Estonia dikenal melalui perkembangan layanan digitalnya dengan konsep e-Estonia, masyarakatnya tetap memelihara ikatan dengan tanah, pepohonan, dan udara bersih. Mereka juga menjelaskan bahwa lebih dari 50 persen wilayah daratan Estonia dilindungi sebagai kawasan hutan dan rawa. Perlindungan tersebut menunjukkan perhatian terhadap keseimbangan ekosistem di tengah perkembangan ekonomi. Pengalaman ini memberikan gambaran bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap alam.

Menanggapi penjelasan warga, Prayogi R. Saputra melihat keterkaitan antara pengalaman Estonia dan pemikiran Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Ia mengangkat gagasan puasa ekologis sebagai kemampuan manusia menahan diri dari eksploitasi alam demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Menurut pandangan tersebut, kewarasan sebuah bangsa terlihat dari kemampuannya mempertimbangkan dampak pembangunan terhadap keberlangsungan kehidupan. Keuntungan ekonomi tidak dapat menggantikan udara bersih apabila hutan telah rusak akibat eksploitasi berlebihan. Oleh karena itu, menjaga lingkungan perlu ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama dalam membangun kesejahteraan masyarakat.

Ruang Publik yang Mendorong Kesetaraan

Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan menyoroti kesetaraan akses masyarakat terhadap ruang publik di Hutan Kota Kadriorg. Kawasan tersebut dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa pembagian jalur berdasarkan jabatan atau kedudukan sosial. Menteri, pengusaha perusahaan rintisan, hingga pekerja biasa dapat berjalan di jalur setapak yang sama dan menikmati lingkungan yang sama. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang publik dapat menjadi tempat perjumpaan yang menyatukan warga dari latar belakang berbeda. Kesetaraan dalam menikmati fasilitas bersama juga menjadi salah satu unsur penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

Wiwik H menambahkan bahwa keadilan dalam penyediaan ruang publik dapat mendukung tumbuhnya kepercayaan sosial antara masyarakat dan pemerintah. Ruang terbuka yang sehat memberi warga kesempatan untuk beristirahat, berinteraksi, dan menikmati lingkungan tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Ketersediaan fasilitas bersama juga membantu menciptakan ruang pertemuan yang dapat digunakan oleh beragam kelompok masyarakat. Ketika kebutuhan dasar terhadap lingkungan yang nyaman diperhatikan, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk merasakan manfaat pembangunan secara langsung. Karena itu, penataan kota perlu memperhatikan pemerataan akses terhadap ruang hijau sebagai bagian dari kualitas hidup warga.

Kecerdasan Buatan untuk Menjaga Kelestarian Lingkungan

Perpaduan antara perkembangan digital dan kelestarian alam di Estonia turut menarik perhatian CEO Enygma Erick Karya. Ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence dalam sistem tata kelola Enygma yang diusung Sekolah Negarawan perlu mendukung pengawasan terhadap daya dukung lingkungan. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu menilai kemampuan suatu wilayah dalam menopang aktivitas manusia dan pembangunan. Pemantauan jejak karbon serta pemetaan ruang terbuka hijau secara terukur dapat menjadi bagian dari pendekatan berbasis data. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi administrasi, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pengalaman Estonia menjadi bahan refleksi bagi Indonesia dalam mengembangkan tata kelola perkotaan yang lebih memperhatikan kebutuhan alam. Kecerdasan buatan dapat diarahkan untuk membantu mengidentifikasi perubahan tutupan hutan dan memantau ketersediaan ruang terbuka hijau. Data lingkungan yang dikelola secara baik dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun rencana pembangunan dan mengevaluasi dampaknya. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa perkembangan kawasan perkotaan tidak mengurangi ruang hijau yang dibutuhkan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, teknologi dapat menjadi sarana untuk mencegah kerusakan lingkungan dan menjaga keberadaan paru-paru kota bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Memperkaya Wawasan Kenegaraan dari Berbagai Negara

Dialog di Hutan Kota Kadriorg menjadi bagian dari rangkaian riset kenegaraan Ekosistem Sekolah Negarawan yang dihimpun melalui lawatan ke 12 negara. Berbagai pengalaman dari kawasan Baltik, Nordik, dan Eropa Barat dipelajari bersama nilai-nilai dari Timur Tengah, Persia, dan Asia Tenggara. Pertukaran pengetahuan tersebut menjadi upaya untuk memahami beragam pendekatan dalam membangun kehidupan bernegara yang memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Pengalaman dari negara lain dapat menjadi bahan pembelajaran dengan tetap mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan Indonesia. Dengan demikian, riset lintas negara diharapkan mampu memperkaya gagasan mengenai pembangunan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

Ekosistem Sekolah Negarawan terus mendorong diseminasi pengetahuan melalui dialog, pengamatan, dan pertukaran pengalaman lintas budaya. Pembelajaran dari Estonia memperkuat pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi, pemerataan ruang publik, dan perlindungan lingkungan. Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat dan pemangku kepentingan di berbagai wilayah Indonesia. Upaya pengembangan wawasan ini menjangkau berbagai daerah, mulai dari Medan hingga Ternate dan Tidore. Pada akhirnya, pembangunan yang bermakna tidak hanya diukur dari kemajuan digital dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga alam serta memastikan manfaatnya dirasakan oleh seluruh rakyat.

Share This Article