Hutan Kadriorg Jadi Inspirasi Penataan Kota Berkelanjutan bagi Indonesia

muslimX
By muslimX
7 Min Read

TALLINN, ESTONIA – Ruang hijau merupakan bagian penting dari pembangunan kota modern karena berperan dalam menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Prinsip tersebut dipelajari secara langsung oleh para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan saat mengunjungi Hutan Kota Kadriorg yang mengelilingi Istana Kadriorg di Tallinn, Estonia. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana ruang hijau dapat dipertahankan di tengah perkembangan perkotaan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Pepohonan yang rindang menghadirkan suasana alami di tengah aktivitas kota yang padat. Pengalaman tersebut menjadi bahan pembelajaran mengenai pentingnya menyeimbangkan pembangunan infrastruktur dengan pelestarian alam dan pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan penelusuran diikuti oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Mereka berjalan kaki sejauh beberapa kilometer untuk mengamati kondisi lingkungan serta pemanfaatan ruang publik di kawasan Hutan Kadriorg. Perjalanan tersebut dipandu oleh diaspora Indonesia, Wiwik H, bersama komunitas warga lokal Estonia. Para peserta memperoleh gambaran mengenai cara masyarakat memanfaatkan kawasan hutan sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Pengamatan langsung ini diharapkan dapat memperkaya gagasan pengelolaan ruang publik yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia.

Hutan Kota sebagai Bagian dari Kebutuhan Warga

Kawasan taman dan hutan Kadriorg dipertahankan sebagai lingkungan alami yang tidak hanya berfungsi untuk memperindah kota. Warga Tallinn memanfaatkan kawasan tersebut untuk berlari pada pagi hari, bersepeda, berjalan santai, hingga membaca buku di bawah naungan pohon oak dan chestnut yang telah tumbuh selama ratusan tahun. Keberadaan pepohonan dan ruang terbuka memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati lingkungan yang lebih teduh dan tenang. Ruang hijau juga menjadi tempat bagi warga untuk beristirahat dari kesibukan sehari-hari tanpa harus selalu menggunakan fasilitas komersial. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan alami dapat menjadi bagian penting dari fasilitas publik yang mendukung kualitas hidup masyarakat.

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra memandang pengelolaan lingkungan di Tallinn sebagai contoh penerapan konsep khalifah fil ardh, yaitu tanggung jawab manusia untuk memelihara bumi. Pandangan ini sejalan dengan filosofi kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang menjadi salah satu pilar kurikulum Sekolah Negarawan. Dalam kerangka tersebut, pembangunan perlu memperhatikan tanggung jawab menjaga lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat. Udara bersih, air yang jernih, dan ruang terbuka yang sehat merupakan kebutuhan mendasar yang harus diperhatikan dalam perencanaan kota. Hutan kota karena itu tidak semestinya dipandang sekadar sebagai lahan yang menunggu pembangunan, melainkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Ruang Hijau Mendukung Kesehatan dan Kehidupan Sosial

Dalam dialog dengan warga lokal, Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan mempelajari kebiasaan masyarakat Estonia yang menjadikan kegiatan berjalan di alam atau nature walk sebagai salah satu cara untuk mengelola stres. Aktivitas tersebut memberikan kesempatan bagi warga untuk menjauh sejenak dari rutinitas dan menikmati suasana lingkungan yang lebih tenang. Diaspora Indonesia Wiwik H menyoroti pentingnya ruang publik yang sehat dan dapat diakses secara luas oleh masyarakat. Ketersediaan tempat untuk beristirahat, berolahraga, dan berinteraksi dapat membantu mengurangi tekanan kehidupan sehari-hari. Ruang publik yang terawat juga berpotensi mendukung hubungan sosial yang lebih baik dengan menyediakan tempat pertemuan yang terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat.

Pengelolaan ruang hijau perlu disertai upaya pemerataan akses agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Taman dan hutan kota yang nyaman dapat mendorong warga melakukan kegiatan positif serta membangun rasa memiliki terhadap lingkungan. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan juga dapat membantu mempertahankan fungsi ruang publik dalam jangka panjang. Pemerintah daerah dapat menjadikan kebutuhan warga sebagai pertimbangan utama dalam menentukan lokasi, luas, dan pemeliharaan ruang hijau. Dengan demikian, ruang terbuka tidak hanya menjadi unsur penataan kota, tetapi juga menjadi fasilitas bersama yang mendukung kesehatan dan kehidupan sosial.

Teknologi untuk Memantau Kualitas Lingkungan

Selain mengamati fungsi sosial dan ekologis Hutan Kadriorg, CEO Enygma Erick Karya mempelajari potensi penggunaan teknologi dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Perhatian diarahkan pada pemanfaatan sensor Internet of Things atau IoT dan mahadata atau big data untuk memantau kualitas udara, kelembapan tanah, serta kondisi kesehatan pohon. Teknologi tersebut dapat membantu menyediakan informasi mengenai keadaan lingkungan secara lebih terukur. Data yang terkumpul dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan kebutuhan perawatan dan mengenali perubahan kondisi kawasan hijau. Pendekatan ini membuka peluang untuk mengembangkan kota cerdas yang tidak hanya meningkatkan efisiensi layanan, tetapi juga mendukung pelestarian alam.

Pengalaman tersebut menjadi inspirasi bagi pengembangan ekosistem kota cerdas Enygma di Indonesia. Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence dapat dimanfaatkan untuk mendukung analisis lingkungan dan audit ekologis, selain penggunaannya dalam pelayanan administrasi. Pemantauan berbasis data dapat membantu pengelola memahami perubahan kualitas udara, kondisi tanah, dan kesehatan vegetasi. Namun, penggunaan teknologi perlu disertai pengelolaan data yang baik, pemeliharaan perangkat, serta evaluasi berkala agar hasilnya dapat dimanfaatkan secara tepat. Integrasi teknologi dan pelestarian alam diharapkan dapat mendukung tata ruang yang lebih responsif terhadap kebutuhan lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan kota cerdas dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kualitas hidup masyarakat.

Membawa Pelajaran Internasional untuk Pembangunan Indonesia

Penelusuran Hutan Kota Kadriorg menjadi bagian dari perjalanan pembelajaran Ekosistem Sekolah Negarawan yang telah menjangkau 12 negara di dunia. Berbagai pengalaman lintas negara memberikan kesempatan untuk mempelajari pengelolaan lingkungan, kesejahteraan masyarakat, tata ruang, dan nilai kebudayaan. Pembelajaran mengenai keselarasan alam di kawasan Baltik melengkapi pengalaman dari Finlandia, Turkiye, Timur Tengah, Persia atau Iran, serta Nusantara. Setiap wilayah menghadirkan pengalaman yang dapat dikaji untuk menemukan pendekatan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkaya gagasan peradaban yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Bagi Indonesia, pengalaman dari Tallinn memberikan pelajaran mengenai pentingnya menempatkan ruang hijau sebagai bagian utama dari perencanaan pembangunan kota. Pemerintah daerah dapat memperkuat perlindungan kawasan alami, memperluas akses terhadap taman dan ruang terbuka, serta memanfaatkan teknologi untuk mendukung pemantauan lingkungan. Upaya tersebut perlu disertai perawatan berkelanjutan dan pelibatan masyarakat agar ruang publik tetap terjaga. Keberhasilan pembangunan tidak cukup dinilai dari pertumbuhan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga perlu memperhatikan kesehatan warga, kualitas lingkungan, dan kenyamanan hidup. Melalui pertukaran pengalaman internasional, Ekosistem Sekolah Negarawan terus mengembangkan gagasan yang diharapkan memberi manfaat bagi Indonesia, dari Medan hingga Ternate dan Tidore.

Share This Article