Bukan Sekadar Dongeng, Alifia Ariana Raih Juara 1 Lewat Cerita yang Mengajarkan Makna Persatuan dan Pancasila

muslimX
By muslimX
9 Min Read

MALANG — Kreativitas dan kemampuan literasi Kader Cilik Sekolah Negarawan, Alifia Ariana, berhasil mengantarkannya meraih prestasi membanggakan. Alifia memperoleh Juara 1 Lomba Menulis Cerita Fiksi Fase C dalam rangka peringatan Bulan Bahasa SD Unggulan Permata Jingga, Kabupaten Malang. Penghargaan tersebut diberikan pada 30 Oktober 2026 melalui karya berjudul Petualangan Seru di Negeri Dongeng. Karya tersebut dinilai berhasil menghadirkan cerita imajinatif yang memuat pesan pendidikan dan nilai kebangsaan. Prestasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa dunia literasi dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mengenal nilai Pancasila.

Imajinasi Dongeng yang Mengandung Pesan Pancasila

Dalam cerita Petualangan Seru di Negeri Dongeng, Alifia mengangkat perjalanan sejumlah tokoh untuk menemukan lima kepingan puzzle yang terpisah. Setiap kepingan memiliki gambar berbeda yang mewakili lima sila Pancasila. Kepingan pertama bergambar bintang sebagai lambang Ketuhanan Yang Maha Esa. Kepingan kedua menampilkan rantai emas yang melambangkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sementara itu, kepingan ketiga bergambar pohon beringin sebagai simbol Persatuan Indonesia.

Petualangan kemudian berlanjut dengan pencarian kepingan keempat bergambar kepala banteng. Simbol tersebut mewakili Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Kepingan kelima menampilkan gambar padi dan kapas sebagai lambang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Setelah seluruh kepingan ditemukan, para tokoh menyatukannya menjadi sebuah puzzle yang utuh. Rangkaian cerita tersebut membawa pesan bahwa kelima sila Pancasila memiliki hubungan erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Gagasan yang diangkat Alifia memperlihatkan cara sederhana dalam mengenalkan nilai kebangsaan kepada anak-anak. Pancasila tidak hanya diperkenalkan melalui hafalan simbol dan bunyi setiap sila. Nilai-nilainya juga dapat disampaikan melalui petualangan, persahabatan, tantangan, serta pengalaman menemukan sesuatu yang hilang. Pendekatan cerita membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan anak. Dengan demikian, imajinasi dapat menjadi sarana untuk membangun pemahaman mengenai kebersamaan dan persatuan.

Saudara Kembar dengan Keunggulan Masing-Masing

Alifia Ariana merupakan putri dari Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP, Wakil Direktur Sekolah Negarawan. Ia juga merupakan saudara kembar Yahya Al Fatih, Kader Cilik Sekolah Negarawan yang sebelumnya meraih Juara 1 Ajang Juara Kelas Indonesia 2026 tingkat Regional 6. Ajang tersebut mencakup wilayah Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau. Saat ini, keduanya menempuh pendidikan di SD Unggulan Permata Jingga, Kabupaten Malang.

Sebagai saudara kembar, Alifia dan Yahya menunjukkan perkembangan dengan ketertarikan yang berbeda. Yahya Al Fatih beberapa kali terlibat dalam kegiatan kenegarawanan, dialog, dan forum publik bersama Sekolah Negarawan. Sementara itu, Alifia memperlihatkan kemampuan dan kreativitasnya melalui dunia literasi. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam mengembangkan potensi. Keduanya tidak harus memiliki kemampuan yang sama untuk dapat tumbuh menjadi pribadi yang unggul.

Sekolah Negarawan memandang bahwa pendidikan perlu memberikan ruang bagi setiap anak untuk menemukan kekuatannya. Anak yang memiliki kemampuan akademik perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkannya. Demikian pula anak yang memiliki bakat dalam seni, olahraga, kepemimpinan, maupun penulisan. Keseragaman bukanlah tujuan utama pendidikan karena setiap anak memiliki karakter dan proses pertumbuhan masing-masing. Hal yang perlu dijaga adalah pembentukan karakter serta nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bersama.

Lima Simbol Mengajarkan Arti Kehidupan Bersama

Cerita Alifia juga menghadirkan pesan bahwa kehidupan tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan satu unsur. Kelima kepingan puzzle menggambarkan bagian-bagian yang memiliki fungsi dan kedudukan masing-masing. Ketika salah satu kepingan tidak ditemukan, susunan gambar belum dapat menjadi utuh. Begitu pula nilai-nilai Pancasila yang perlu dipahami sebagai satu rangkaian kehidupan. Setiap sila memiliki keterkaitan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkeadilan.

Ketuhanan memberikan landasan moral dalam menjalani kehidupan. Kemanusiaan mengajarkan penghormatan terhadap martabat dan hak sesama manusia. Persatuan menjadi kekuatan untuk menjaga kebersamaan di tengah perbedaan. Selanjutnya, permusyawaratan mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam mengambil keputusan bersama. Seluruh nilai tersebut diarahkan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pesan tersebut dapat dikenalkan melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang kreatif. Sekolah dapat mengembangkan kegiatan menulis cerita, membaca buku, permainan edukatif, dan diskusi sederhana. Orang tua juga dapat mendampingi anak dalam memahami nilai-nilai tersebut melalui kehidupan sehari-hari. Anak perlu diberikan kesempatan menyampaikan pendapat dan belajar menghargai pandangan orang lain. Dengan pendekatan demikian, Pancasila tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat berkembang menjadi pedoman perilaku.

Pendidikan Kenegarawanan Harus Dimulai Sejak Dini

Prestasi Alifia dan Yahya menjadi bagian dari semangat pendidikan yang dikembangkan Sekolah Negarawan, yaitu menanam benih sejak dini. Pendidikan kenegarawanan tidak seharusnya hanya diperkenalkan ketika seseorang telah dewasa atau memasuki lingkungan organisasi. Pondasinya dapat dibangun sejak anak mulai belajar bertanggung jawab dan memahami kehidupan sosial. Anak perlu dibiasakan menghargai orang lain, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, serta berani menyampaikan gagasan. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung juga menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang memiliki pengetahuan.

Dalam proses pendidikan, keberhasilan anak tidak semestinya hanya diukur berdasarkan penghargaan yang diperoleh. Gelar juara merupakan pencapaian yang patut disyukuri, tetapi proses belajar memiliki nilai yang jauh lebih panjang. Anak-anak membutuhkan kesempatan untuk mencoba hal baru, mengembangkan imajinasi, dan memperbaiki kesalahan. Mereka juga perlu mendapatkan dukungan ketika menghadapi tantangan dalam proses belajar. Lingkungan keluarga dan sekolah memiliki tanggung jawab untuk menjaga semangat tersebut.

Semangat menumbuhkan potensi anak sejalan dengan ungkapan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, “Ayo, tukul winih-winihku.” Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan agar benih-benih kehidupan terus tumbuh dan berkembang. Setiap benih memiliki karakter serta jalur pertumbuhan yang berbeda. Ada yang berkembang melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara lainnya melalui seni, kebudayaan, olahraga, dan kepemimpinan. Ada pula yang menemukan kemampuannya melalui membaca, menulis, serta bercerita seperti yang ditunjukkan Alifia.

Merawat Potensi untuk Masa Depan Bangsa

Untuk mewujudkan pendidikan yang mendukung perkembangan anak, diperlukan lingkungan yang menghargai keberagaman kemampuan. Sekolah perlu menyediakan kegiatan yang mendorong kreativitas dan keberanian menghasilkan karya. Keluarga juga perlu memberikan pendampingan tanpa membatasi rasa ingin tahu anak. Penghargaan sebaiknya diberikan terhadap usaha, proses, dan kemajuan yang dicapai. Dengan demikian, anak dapat tumbuh tanpa merasa harus selalu membandingkan dirinya dengan orang lain.

Sekolah Negarawan memandang bahwa generasi masa depan membutuhkan beragam keahlian yang dipersatukan oleh nilai-nilai luhur. Kecerdasan perlu berjalan bersama tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama. Kemampuan menyampaikan gagasan perlu disertai kesediaan mendengarkan orang lain. Kreativitas juga perlu diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Pendidikan sejak dini menjadi langkah penting untuk membangun keseimbangan tersebut.

Melalui Petualangan Seru di Negeri Dongeng, Alifia Ariana telah menunjukkan bahwa karya anak-anak dapat membawa pesan yang bermakna. Lima kepingan puzzle dalam ceritanya menggambarkan pentingnya menyatukan berbagai bagian yang berbeda menjadi satu kesatuan. Karya tersebut menjadi bukti bahwa imajinasi dapat berjalan beriringan dengan pembelajaran nilai kebangsaan. Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi Alifia untuk terus membaca, menulis, dan mengembangkan kreativitasnya.

Selamat kepada Alifia Ariana, Kader Cilik Sekolah Negarawan, atas keberhasilannya meraih Juara 1 Lomba Menulis Cerita Fiksi Fase C dalam rangka Bulan Bahasa SD Unggulan Permata Jingga 2026. Semoga pencapaian ini menjadi awal perjalanan panjang dalam mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya-karya berikutnya. Teruslah membaca, menulis, berimajinasi, dan bertumbuh sesuai potensi yang dimiliki. Sebab, masa depan bangsa turut dibangun melalui benih-benih kecil yang dirawat dengan pendidikan dan nilai-nilai kehidupan.

Tukul, winih-winihku.

Share This Article