muslimx.id — Perkembangan artificial intelligence (AI) menghadirkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar kemampuan sebuah mesin untuk berpikir dan memproses informasi. Di balik kemajuan teknologi tersebut terdapat persoalan yang jauh lebih strategis:
Siapa yang menguasai data?
Siapa yang mampu mengubah data menjadi pengetahuan?
Dan siapa yang memiliki kendali terhadap keputusan yang lahir dari pengetahuan tersebut?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pembahasan penting dalam acara penutupan Artificial Intelligence Technology Olympiad (AITO) 2026 di Universitas Islam Azad Isfahan (Khorasgan). Dalam kegiatan tersebut, Sekolah Negarawan bersama PT Enygma Solusi Negeri melihat bahwa perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan inovasi teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan kemandirian sebuah bangsa.
AI dan Pertanyaan tentang Kedaulatan Data
Seyed Abdullah Asqaf, Direktur Komunikasi Strategis dan Urusan Internasional Sekolah Negarawan yang merupakan bagian dari PT Enygma Solusi Negeri, menyampaikan bahwa Iran dan Indonesia memiliki peluang untuk membangun kerja sama dalam bidang teknologi, khususnya terkait kedaulatan data.
Menurutnya, pembahasan mengenai masa depan peradaban di era modern tidak dapat dipisahkan dari kemampuan sebuah bangsa dalam menguasai teknologi. AI menjadi salah satu instrumen penting karena mampu mengubah data menjadi informasi, kemudian menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Namun, kedaulatan data tidak berarti sebuah negara harus menutup diri dari perkembangan teknologi global. Sebaliknya, tantangan utamanya adalah bagaimana sebuah negara dapat memanfaatkan teknologi dunia tanpa kehilangan kendali terhadap aset strategis yang dimilikinya.
Menggunakan Teknologi Global, Menjaga Kendali Strategis
Dalam perkembangan teknologi saat ini, tidak ada satu negara pun yang mampu membangun seluruh rantai teknologi secara sempurna secara mandiri. Karena itu, kerja sama internasional tetap menjadi kebutuhan. Namun, kerja sama tersebut membutuhkan pemahaman mengenai batas antara penggunaan teknologi dan penguasaan teknologi. Teknologi global dapat digunakan untuk mempercepat kemajuan.
Tetapi bagian-bagian strategis yang berkaitan dengan data, keamanan, dan pengambilan keputusan harus tetap berada dalam kendali pemiliknya. Sebagaimana disampaikan Asqaf, kedaulatan dalam pemrosesan data dan citra bukan berarti mengisolasi diri dari teknologi dunia.
Pertanyaan utamanya adalah menentukan bagian mana yang dapat dimanfaatkan secara terbuka dan bagian mana yang harus tetap dijaga sebagai kemampuan domestik.
Data Pemerintahan sebagai Fondasi Awal Kedaulatan Digital
Pembahasan mengenai kedaulatan data tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang sangat kompleks. Fondasinya dapat dimulai dari hal yang lebih mendasar: pengelolaan data pemerintahan. Data mengenai pelayanan publik. Administrasi kependudukan. Perizinan. Perpajakan. Dan berbagai informasi pemerintahan lainnya.
Semua itu merupakan sumber data strategis yang memiliki nilai besar ketika dikelola dengan baik. Melalui teknologi, data tersebut dapat dikumpulkan, dianalisis, dihubungkan, dan digunakan untuk menghasilkan informasi yang membantu proses pengambilan keputusan.
Dengan demikian, kemampuan mengelola data menjadi salah satu bagian penting dari kemampuan sebuah negara dalam mengelola masa depannya.
Dari Data Menjadi Pengetahuan melalui Artificial Intelligence
Perkembangan AI membuka peluang baru dalam mengolah berbagai jenis data. Sensor dapat mengumpulkan informasi secara terus-menerus. Kamera dapat menghasilkan data visual. Satelit dapat memberikan gambaran wilayah dalam skala luas.
Namun seluruh data tersebut masih berupa informasi mentah. Nilai sebenarnya muncul ketika data tersebut diproses sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam. Di sinilah peran AI menjadi penting.
Teknologi tidak hanya membantu mengumpulkan data, tetapi juga membantu menemukan pola, membuat prediksi, dan memberikan dukungan dalam pengambilan keputusan. Namun, satu prinsip tetap menjadi perhatian: Data harus tetap berada dalam kendali pemiliknya.
AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan membuat sebuah masyarakat kehilangan kendali terhadap informasi yang mereka miliki.
Peluang Kolaborasi Teknologi Indonesia dan Iran
Dalam konteks hubungan Indonesia dan Iran, perbedaan kemampuan teknologi dapat menjadi ruang untuk saling melengkapi. Kedua negara memiliki pengalaman, sumber daya manusia, dan kekuatan masing-masing yang dapat dikembangkan melalui kerja sama.
Kolaborasi tidak harus berarti menggantikan teknologi global. Sebaliknya, kerja sama dapat diarahkan untuk memperkuat kemampuan domestik dalam memahami data, mengembangkan sistem, dan membangun inovasi.
Iran memiliki pengalaman dalam pengembangan teknologi dan pendidikan berbasis sains. Indonesia memiliki potensi besar melalui jumlah penduduk, sumber daya digital, serta kebutuhan transformasi berbagai sektor. Pertemuan kedua pengalaman tersebut dapat menjadi ruang untuk membangun kerja sama yang lebih strategis.
Menuju Kemandirian Teknologi dan Peradaban Digital
Dalam perspektif yang lebih luas, kemampuan menguasai AI dan data menjadi bagian dari tantangan peradaban modern. Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemampuan mengingat kejayaan masa lalu. Kemajuan juga ditentukan oleh kemampuan menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, produk, dan institusi yang relevan dengan kebutuhan zaman.
AI menjadi salah satu instrumen penting dalam perjalanan tersebut. Teknologi dapat menjadi alat untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat ekonomi, mengembangkan pendidikan, dan membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Namun semua itu membutuhkan kemampuan untuk memahami dan mengelola teknologi secara mandiri.
Dari Kompetisi AI Menuju Agenda Masa Depan
Bagi Sekolah Negarawan dan PT Enygma Solusi Negeri, momentum AITO 2026 bukan hanya tentang kompetisi mahasiswa. Dari sebuah ajang teknologi, pembahasan berkembang menuju isu yang jauh lebih besar: masa depan AI, kedaulatan data, kemandirian teknologi, dan kemungkinan kerja sama antara Indonesia dan Iran.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah AI akan menjadi bagian dari kehidupan manusia. AI hampir pasti akan hadir dalam berbagai aspek kehidupan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah sebuah bangsa hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau mampu menjadi pihak yang memahami data, menghasilkan pengetahuan, membangun inovasi, dan menentukan arah pemanfaatan teknologi tersebut?
Dari Isfahan, pertanyaan itulah yang menjadi salah satu refleksi penting dalam membangun masa depan kerja sama teknologi Indonesia-Iran.