muslimx.id — Ada cara lain untuk membangun hubungan antarbangsa selain melalui diplomasi politik. Hubungan tersebut dapat tumbuh melalui pertemuan manusia, pertukaran pengetahuan, dan dialog mengenai gagasan yang menjadi perhatian bersama. Ruang semacam itulah yang ditemukan Tim Sekolah Negarawan ketika mengikuti 40th International Islamic Unity Conference di Teheran, Iran, pada 27 Agustus 2026.
Kehadiran Tim Sekolah Negarawan dalam konferensi tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjalanan ke Iran yang dirancang untuk memperluas wawasan mengenai pendidikan, kepemimpinan, kebudayaan, riset, teknologi, tata kelola, serta kehidupan masyarakat. Setelah sebelumnya mengunjungi berbagai institusi pendidikan, pusat riset, lembaga kebudayaan, institusi keagamaan, dan ekosistem teknologi di Isfahan, keikutsertaan dalam konferensi internasional di Teheran memberikan pengalaman lain: melihat bagaimana persoalan umat Islam dibicarakan dalam ruang yang mempertemukan peserta dari berbagai negara.

Satu Forum, Banyak Bangsa, Satu Persoalan Bersama
Konferensi Islamic Unity merupakan salah satu forum internasional yang diselenggarakan oleh World Forum for Proximity of Islamic Schools of Thought, sebuah lembaga yang memiliki perhatian terhadap pendekatan dan dialog antarmazhab dalam dunia Islam. Konferensi tahun 2026 menjadi penyelenggaraan yang ke-40 dan berlangsung di Teheran dengan menghadirkan peserta dari berbagai negara.
Pada tahun ini, pembahasan konferensi mengangkat tema persatuan Islam dalam pemikiran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Forum tersebut mempertemukan ratusan peserta dari sekitar 40 negara dengan latar belakang keilmuan, kebudayaan, dan pengalaman sosial-politik yang beragam. Keragaman peserta tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pembicaraan mengenai persatuan Islam tidak berlangsung dalam ruang yang homogen, melainkan di tengah dunia Muslim yang memiliki pengalaman sejarah dan persoalan yang berbeda-beda.
Bagi Tim Sekolah Negarawan, situasi tersebut menjadi pengalaman penting. Persatuan Islam tidak hanya dibicarakan sebagai konsep normatif, tetapi ditempatkan dalam persoalan yang lebih luas, mulai dari identitas umat, pemerintahan, perdamaian, keamanan, kerja sama ekonomi, hingga pembangunan peradaban. Dalam konteks tersebut, persatuan tidak hanya menjadi gagasan mengenai hubungan antarumat, tetapi juga menyentuh pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat Muslim menghadapi perubahan dunia dan membangun masa depannya.
Ketika Persatuan Dibicarakan dalam Konteks Peradaban
Spektrum pembahasan dalam konferensi memperlihatkan luasnya persoalan yang berada di balik gagasan Islamic Unity. Sejumlah tema yang dibahas mencakup konsep umat dan peradaban Islam modern, prinsip-prinsip bersama dalam membangun identitas umat, tantangan persatuan, peran ulama dan institusi keagamaan, ekonomi dan kerja sama antarnegara Muslim, hingga persoalan politik, pemerintahan, perang, dan perdamaian.
Bagi Sekolah Negarawan, pembahasan tersebut memiliki relevansi dengan pendidikan kepemimpinan. Seorang calon pemimpin tidak cukup hanya memahami persoalan di dalam batas negaranya sendiri. Ia juga perlu memahami bagaimana bangsa dan masyarakat lain melihat persoalan yang sama, bagaimana mereka membaca perubahan dunia, serta bagaimana perbedaan pengalaman sejarah memengaruhi cara sebuah masyarakat merumuskan kepentingannya.
Konferensi di Teheran memberikan kesempatan untuk melihat proses tersebut secara langsung. Peserta datang dari berbagai penjuru dunia Islam dengan pengalaman yang berbeda, tetapi mereka duduk dalam satu forum untuk membicarakan persoalan yang memiliki irisan bersama. Perbedaan tidak kemudian menghilangkan kebutuhan untuk berdialog, justru menjadi alasan mengapa perjumpaan semacam itu diperlukan.
Dari Indonesia Membawa Pengalaman, dari Iran Membuka Perspektif
Kehadiran Sekolah Negarawan dalam forum tersebut juga membawa pengalaman Indonesia ke dalam ruang internasional. Indonesia memiliki karakter masyarakat Muslim yang besar dengan sejarah sosial, budaya, dan politik yang khas. Pengalaman Indonesia dalam membangun kehidupan kebangsaan, mengelola keberagaman, mengembangkan pendidikan, serta menjaga hubungan antara agama dan kehidupan bernegara menjadi bagian dari perspektif yang dapat dibawa dalam perjumpaan dengan bangsa lain.
Di sisi lain, berada di Iran memberikan kesempatan bagi delegasi untuk melihat bagaimana sebuah negara dengan sejarah Revolusi Islam dan tradisi intelektual yang panjang memandang persoalan umat, negara, dan peradaban. Pertemuan dengan berbagai institusi selama perjalanan sebelumnya kemudian menjadi bekal untuk memahami pembahasan di konferensi dalam konteks yang lebih luas.
Dari universitas hingga lembaga keagamaan, dari pusat riset hingga ekosistem teknologi, perjalanan Sekolah Negarawan memperlihatkan bahwa gagasan tentang masa depan sebuah bangsa tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan pendidikan, pengetahuan, teknologi, kebudayaan, institusi, dan kemampuan masyarakat membangun kerja sama. Konferensi Islamic Unity kemudian menambahkan dimensi lain, yaitu bagaimana berbagai masyarakat Muslim memikirkan hubungan mereka satu sama lain dalam menghadapi tantangan zaman.
Diplomasi Pengetahuan yang Mempertemukan Manusia
Dalam perspektif Sekolah Negarawan, forum internasional seperti Islamic Unity Conference dapat dibaca sebagai bentuk diplomasi pengetahuan. Hubungan antarbangsa tidak selalu harus dimulai dari perjanjian politik atau hubungan antarpejabat pemerintahan. Ia juga dapat tumbuh dari ruang akademik, forum kebudayaan, penelitian, pendidikan, dan dialog antarmanusia.
Ketika seseorang bertemu dengan peserta dari negara lain, ia tidak hanya memperoleh informasi tentang negara tersebut. Ia juga memperoleh kesempatan untuk memahami cara berpikir, pengalaman, kekhawatiran, dan harapan masyarakat yang berbeda. Dari perjumpaan semacam itu, stereotip dapat digantikan oleh pemahaman yang lebih langsung, sementara perbedaan dapat ditempatkan dalam ruang dialog yang lebih konstruktif.
Bagi pendidikan kepemimpinan, kemampuan membangun dialog semacam ini menjadi semakin penting. Dunia modern tidak lagi memungkinkan sebuah bangsa hidup sepenuhnya terpisah dari bangsa lainnya. Persoalan ekonomi, teknologi, keamanan, lingkungan, pendidikan, hingga perkembangan kecerdasan buatan telah menciptakan hubungan yang semakin erat antarnegara. Karena itu, pemimpin masa depan membutuhkan kemampuan untuk memahami dunia sekaligus tetap memiliki pijakan yang kuat pada kepentingan bangsanya.
Persatuan Tidak Berarti Menghapus Perbedaan
Salah satu pelajaran yang dapat dibaca dari forum tersebut adalah bahwa gagasan persatuan tidak selalu berarti menghilangkan seluruh perbedaan. Dunia Islam memiliki keragaman tradisi, mazhab, budaya, bahasa, pengalaman sejarah, dan sistem politik. Kenyataan tersebut merupakan bagian dari kehidupan umat yang tidak dapat begitu saja dihapus.
Karena itu, persatuan dapat dipahami sebagai kemampuan untuk menemukan ruang bersama di tengah perbedaan. Ada nilai-nilai yang dapat menjadi titik temu, ada kepentingan yang dapat dikerjakan bersama, dan ada persoalan yang membutuhkan dialog lintas batas. Dalam kerangka tersebut, perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi dapat menjadi dasar untuk membangun pemahaman yang lebih matang.
Bagi Sekolah Negarawan, perspektif tersebut penting dalam pendidikan kepemimpinan. Seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan untuk melihat perbedaan tanpa kehilangan orientasi terhadap tujuan bersama. Ia harus mampu mendengarkan perspektif yang berbeda, memahami konteksnya, kemudian mencari titik temu yang dapat menghasilkan kerja sama dan kemaslahatan yang lebih luas.
Dari Teheran, Membawa Pulang Gagasan tentang Dunia Islam
Keikutsertaan Sekolah Negarawan dalam 40th International Islamic Unity Conference akhirnya menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memahami Iran dan dunia Islam secara lebih luas. Jika kunjungan ke berbagai institusi sebelumnya memberikan pengalaman mengenai pendidikan, teknologi, kebudayaan, sejarah, dan tata kelola, maka konferensi di Teheran mempertemukan seluruh pengalaman tersebut dengan pembicaraan yang lebih luas mengenai persatuan umat dan masa depan peradaban.
Bagi delegasi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membangun hubungan antarbangsa dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: kesediaan untuk hadir, mendengar, berdialog, dan memahami. Indonesia datang membawa pengalaman dan perspektifnya sendiri, sementara perjumpaan dengan Iran dan peserta dari berbagai negara membuka ruang untuk memperoleh perspektif yang lebih luas.
Pada akhirnya, persatuan tidak selalu lahir dari keseragaman. Ia dapat tumbuh dari kemampuan menemukan titik temu di tengah keberagaman. Dan dari Teheran, satu pelajaran penting dibawa pulang oleh Sekolah Negarawan: dunia Islam mungkin memiliki banyak perbedaan dalam sejarah, budaya, pemikiran, dan pengalaman politik, tetapi selalu ada ruang untuk membangun jembatan melalui ilmu pengetahuan, dialog, dan kemanusiaan.