muslimx.id — Bagi Sekolah Negarawan, salah satu pelajaran penting dari Konferensi Internasional Persatuan Islam di Teheran adalah bahwa persatuan umat tidak dapat dibangun hanya melalui slogan. Persatuan membutuhkan perjumpaan yang terus-menerus agar manusia memiliki kesempatan untuk mengenal, memahami, dan menghargai satu sama lain. Dari perjumpaan itulah kepercayaan dapat tumbuh dan perbedaan tidak mudah berubah menjadi jarak.
Pelajaran tersebut terasa ketika delegasi Sekolah Negarawan mengikuti berbagai rangkaian agenda konferensi, termasuk gala dinner yang mempertemukan tokoh Islam dari berbagai negara dan latar belakang pemikiran. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, hadir bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs untuk Urusan Iran Abdullah Assegaf. Pertemuan dalam suasana yang lebih terbuka tersebut memberikan kesempatan bagi para peserta untuk berinteraksi secara langsung di luar ruang diskusi formal.
Persatuan Tumbuh dari Perjumpaan
Dalam rangkaian pertemuan tersebut, salah satu pesan yang terus mengemuka adalah pentingnya mencegah perbedaan keyakinan dan mazhab berkembang menjadi keterasingan serta perpecahan. Perbedaan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihapus begitu saja dari kehidupan umat Islam karena sejarah menunjukkan adanya keragaman pemikiran, tradisi, dan pengalaman di berbagai wilayah. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana keragaman tersebut tetap dapat ditempatkan dalam suasana persaudaraan.
Bagi Sekolah Negarawan, persoalan tersebut memiliki dimensi pendidikan yang sangat kuat. Kemampuan untuk hidup bersama dengan perbedaan tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi harus dibentuk melalui pengalaman dan kebiasaan. Seseorang perlu belajar mendengarkan pandangan orang lain, memahami bahwa perbedaan tidak selalu berarti ancaman, serta menemukan kepentingan bersama tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.
Karena itu, kebiasaan duduk bersama memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar pertemuan. Ketika orang yang berbeda latar belakang bersedia berada dalam satu ruang, mereka memiliki kesempatan untuk melihat manusia di balik perbedaan yang selama ini mungkin hanya diketahui melalui informasi atau prasangka. Dari sana, dialog menjadi lebih mudah tumbuh karena manusia mulai mengenal satu sama lain secara langsung.

Dialog Harus Menjadi Kebiasaan
Persatuan tidak cukup dibangun melalui pertemuan sesekali. Ia membutuhkan budaya dialog yang terus dipelihara dalam lingkungan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan komunitas keagamaan. Semakin sering manusia belajar berdialog secara sehat, semakin besar pula kemampuan mereka untuk menghadapi perbedaan tanpa menjadikannya alasan untuk saling menjauh.
Dalam konteks tersebut, ruang akademik memiliki posisi yang strategis. Universitas, lembaga penelitian, forum ulama, dan organisasi masyarakat dapat menjadi tempat untuk membangun tradisi pertukaran gagasan yang sehat dan terbuka. Di ruang-ruang semacam itu, perbedaan tidak perlu disembunyikan karena justru dapat menjadi bahan untuk memperkaya pengetahuan dan memperluas cara pandang.
Sekolah Negarawan melihat bahwa pertukaran akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pemimpin muda dapat membuka ruang perjumpaan yang lebih luas. Mereka tidak hanya bertukar pengetahuan, tetapi juga membawa pengalaman dari masyarakat masing-masing. Dalam proses tersebut, hubungan antarmanusia dapat berkembang menjadi kepercayaan yang kemudian menjadi dasar bagi kerja sama yang lebih panjang.
Indonesia dan Iran Memiliki Ruang untuk Bertemu
Dalam konteks hubungan Indonesia dan Iran, ruang kerja sama tersebut masih sangat terbuka. Kedua negara memiliki sejarah, pengalaman sosial, dan karakter kelembagaan yang berbeda, tetapi perbedaan tersebut tidak menghalangi keduanya untuk saling belajar. Pendidikan, kebudayaan, penelitian, teknologi, dan kajian mengenai masyarakat Muslim dapat menjadi ruang yang mempertemukan pengalaman kedua negara.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman selama berada di Iran memperlihatkan bahwa hubungan antarbangsa tidak selalu harus dimulai dari forum yang besar. Ia dapat tumbuh dari percakapan sederhana, pertemuan akademik, kunjungan institusi, atau mahasiswa yang belajar bersama. Dari hubungan yang sederhana tersebut dapat lahir pemahaman yang lebih luas dan kerja sama yang lebih berkelanjutan.
Perjumpaan dengan berbagai lembaga dan tokoh selama berada di Iran juga memberikan pengalaman bahwa membangun hubungan antarbangsa pada akhirnya berkaitan dengan membangun kepercayaan antarmanusia. Ketika manusia bersedia membuka ruang dialog, perbedaan menjadi sesuatu yang dapat dipahami daripada sesuatu yang harus ditakuti. Inilah salah satu fondasi penting bagi persatuan yang tidak berhenti sebagai gagasan.
Persatuan Dimulai dari Hal yang Sederhana
Persatuan karena itu tidak harus selalu dimulai dari ruang yang besar. Ia dapat dimulai dari akademisi yang bersedia bertukar pengetahuan, mahasiswa yang mau belajar bersama, ulama yang bersedia duduk berdampingan, atau masyarakat yang mau mendengarkan pengalaman orang lain. Bahkan sebuah percakapan sederhana antara dua manusia yang berbeda latar belakang dapat menjadi awal dari hubungan yang lebih baik.
Bagi pendidikan kenegarawanan, kebiasaan tersebut memiliki nilai yang sangat penting. Seorang calon pemimpin harus mampu memahami bahwa masyarakat tidak pernah sepenuhnya seragam dan bahwa perbedaan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan bersama. Tugas seorang pemimpin bukan menghilangkan seluruh perbedaan, tetapi membangun ruang agar perbedaan dapat dikelola melalui dialog dan penghormatan.
Dari Teheran, Sekolah Negarawan membawa pulang satu pelajaran yang sederhana tetapi mendasar. Persatuan tidak lahir karena semua orang memiliki pandangan yang sama, tetapi karena manusia bersedia tetap duduk bersama ketika menemukan perbedaan. Sebab pada akhirnya, persatuan berarti memastikan bahwa perbedaan tidak membuat manusia berhenti menjadi saudara.