Lahir di Amerika, Menemukan Indonesia: Dari Teheran Mustafa Debu Membawa Pesan Perdamaian

muslimX
By muslimX
6 Min Read

muslimx.id Ada perjalanan hidup yang membuat seseorang memiliki kemampuan untuk memahami lebih dari satu dunia. Mustafa Debu lahir dan tumbuh di Amerika Serikat, kemudian memilih hijrah ke Indonesia ketika berusia 17 tahun pada 1999. Bertahun-tahun kemudian, perjalanan lintas budaya tersebut membawanya ke Teheran dan mempertemukannya dengan Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi.

Pertemuan pada 28 Agustus 2026 itu berlangsung di Restoran Parmin, Azadi Persian Hotel, Teheran. Pertemuan tersebut diprakarsai Tim Sekolah Negarawan sebagai bagian dari upaya membangun simbol perdamaian dan jembatan kemanusiaan di tengah hubungan Iran dan Amerika Serikat yang memiliki sejarah panjang dan kompleks.

Dari Amerika Menuju Indonesia

Mustafa memiliki perjalanan kehidupan yang tidak biasa. Ia lahir dan tumbuh di Amerika Serikat, tetapi kemudian memilih meninggalkan lingkungan masa kecilnya dan hijrah ke Indonesia pada usia 17 tahun. Di Indonesia, ia menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim dan kemudian dikenal sebagai musisi yang tergabung dalam grup Debu.

Perjalanan tersebut membuat Mustafa memiliki pengalaman hidup yang melintasi dua latar budaya. Amerika menjadi bagian dari perjalanan masa awal kehidupannya, sementara Indonesia menjadi tempat ia menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim dan berkarya dalam dunia musik. Dua pengalaman tersebut kemudian memberikan makna tersendiri ketika ia berada di Teheran dan bertemu dengan pejabat tinggi Iran.

Ketika Perjalanan Hidup Menjadi Pesan

Pertemuan Mustafa dan Araghchi berlangsung dalam suasana informal. Keduanya duduk bersama dan berbincang tanpa suasana resmi yang kaku. Momen tersebut kemudian terekam dan beredar di media sosial sehingga menarik perhatian publik.

Namun bagi Sekolah Negarawan, makna pertemuan tersebut tidak berhenti pada siapa yang duduk di satu meja. Ada pesan yang lebih besar yang ingin dibangun, yaitu bahwa hubungan antarbangsa juga dapat dimulai dari perjumpaan manusia. Perbedaan latar belakang tidak selalu harus menjadi tembok karena dapat menjadi jembatan ketika manusia bersedia membuka ruang dialog.

Semangat “perdamaian dimulai dari pertemuan” menjadi salah satu gagasan yang mendasari inisiatif tersebut. Mustafa hadir bukan sebagai pejabat atau diplomat, melainkan sebagai seorang manusia yang membawa perjalanan hidup lintas budaya. Justru posisi tersebut membuat pertemuan memiliki nilai simbolik yang kuat.

Dari Seni Menuju Diplomasi Kemanusiaan

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf saat itu tengah menjalankan rangkaian agenda selama sekitar dua pekan di Iran. Kehadiran mereka menjadi bagian dari proses membangun komunikasi dan jejaring melalui pendidikan, kebudayaan dan berbagai perjumpaan internasional.

Mustafa sendiri hadir di Iran sebagai musisi Muslim yang mendapat undangan dalam rangkaian Konferensi Persatuan Islam. Pertemuan tersebut kemudian mempertemukan dua jalur yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi, yaitu hubungan resmi antarnegara dan hubungan antarmanusia melalui kebudayaan.

Dalam konteks tersebut, seni memiliki ruang yang penting. Seorang musisi dapat membawa pengalaman dan nilai yang tidak selalu dapat disampaikan melalui bahasa resmi. Musik dan kebudayaan memungkinkan manusia bertemu terlebih dahulu sebagai sesama manusia sebelum berbicara mengenai perbedaan yang lebih besar.

Amerika, Indonesia dan Iran dalam Satu Pertemuan

Latar belakang Mustafa menjadi bagian penting dari simbol pertemuan tersebut. Ia lahir di Amerika, menjalani perjalanan kehidupan dan keislamannya di Indonesia, kemudian berada di Iran untuk mengikuti sebuah forum yang mempertemukan masyarakat Muslim dari berbagai negara.

Di sisi lain, Araghchi hadir sebagai Menteri Luar Negeri Iran. Pertemuan keduanya mempertemukan perjalanan personal seorang seniman dengan ruang hubungan antarnegara. Karena itu, sebuah percakapan sederhana di sebuah restoran dapat membawa pesan yang jauh lebih luas daripada konteks pertemuan itu sendiri.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa jembatan antarbangsa tidak hanya dibangun oleh institusi negara. Masyarakat, seniman, akademisi dan tokoh agama juga dapat memainkan peran ketika mereka bersedia menjadi penghubung di antara kebudayaan yang berbeda.

Perdamaian Dimulai dari Pertemuan

Dunia sering kali melihat hubungan antarnegara melalui narasi tentang perbedaan, ketegangan dan kepentingan yang saling berhadapan. Namun di balik hubungan antarnegara selalu ada manusia yang memiliki kesempatan untuk saling mengenal. Karena itu, mempertemukan manusia dapat menjadi langkah kecil untuk membangun cara pandang yang lebih luas.

Pertemuan Mustafa dan Araghchi tidak serta-merta menyelesaikan kompleksitas hubungan Iran dan Amerika Serikat. Namun sebuah pertemuan memang tidak harus langsung menyelesaikan persoalan besar untuk memiliki arti. Kadang nilai terbesarnya justru terletak pada keberanian membuka ruang yang sebelumnya tertutup.

Dari Teheran, perjalanan Mustafa Debu memperlihatkan bahwa identitas manusia tidak selalu berhenti pada tempat kelahirannya. Seorang yang lahir di Amerika dapat menemukan rumah spiritual dan kehidupannya di Indonesia, lalu hadir di Iran membawa pesan tentang perjumpaan dan kemanusiaan.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak hanya berbicara tentang negara dan kepentingan. Ia juga berbicara tentang manusia, tentang keberanian untuk bertemu dan tentang keyakinan bahwa perdamaian kadang dimulai dari hal yang paling sederhana: duduk bersama dan saling berbicara.

Share This Article