Krisis Toleransi Perbedaan Sosial dalam Islam: Ketika Perbedaan Membuat Kita Mudah Membenci

muslimX
By muslimX
7 Min Read

muslimx.id  — Toleransi perbedaan sosial semakin menjadi persoalan dalam kehidupan masyarakat. Bukan karena manusia tiba-tiba memiliki terlalu banyak perbedaan, tetapi karena ruang untuk menerima perbedaan terasa semakin sempit. Hal-hal yang dahulu dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari kini dapat menjadi alasan untuk memperdebatkan seseorang, menjauh dari pertemanan, bahkan memutus hubungan sosial.

Perbedaan pilihan makanan, cara berpakaian, gaya hidup, hobi, tempat berlibur, hingga cara seseorang menghabiskan waktu dapat menjadi bahan penilaian. Seseorang yang memilih hidup sederhana bisa dianggap aneh. Orang yang memiliki gaya hidup berbeda dapat dicurigai. Bahkan dalam lingkungan pertemanan, perbedaan pandangan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak menyangkut hubungan pribadi dapat membuat seseorang perlahan dikeluarkan dari lingkaran sosial. Persoalannya bukan pada adanya perbedaan. Manusia memang tidak pernah diciptakan untuk memiliki kehidupan yang sepenuhnya sama. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan mulai dianggap sebagai ancaman terhadap kenyamanan diri.

Ketika Berbeda Dianggap Salah

Masyarakat yang sehat seharusnya memiliki ruang untuk perbedaan. Seorang tetangga tidak harus memiliki selera yang sama dengan tetangganya. Rekan kerja tidak harus memiliki cara berpikir yang sama. Teman tidak harus menyukai semua hal yang kita sukai. Bahkan dalam keluarga, perbedaan karakter dan pilihan merupakan sesuatu yang hampir tidak mungkin dihindari.

Namun, kehidupan sosial hari ini sering memperlihatkan kecenderungan sebaliknya. Orang lebih mudah merasa nyaman ketika berada di sekitar mereka yang memiliki kesamaan. Ketika bertemu dengan seseorang yang berbeda, reaksi pertama yang muncul kadang bukan rasa ingin memahami, tetapi penilaian.

Perbedaan kemudian tidak lagi dilihat sebagai kenyataan sosial, tetapi sebagai ukuran untuk menentukan siapa yang “normal” dan siapa yang dianggap “aneh”. Dari sinilah masalah bermula. Ketika seseorang merasa bahwa hanya cara hidupnya yang benar, ruang sosial perlahan berubah menjadi tempat untuk menyeragamkan manusia.

Padahal, tidak semua perbedaan harus diselesaikan. Ada perbedaan yang cukup dipahami dan dihormati tanpa harus membuat kedua pihak menjadi sama.

Islam Mengajarkan Adab dalam Perbedaan

Islam tidak mengajarkan manusia untuk membenci setiap perbedaan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia memang diciptakan dalam keadaan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Ayat ini memberikan dasar penting bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Tentu tidak semua bentuk perbedaan harus diterima tanpa batas. Dalam perkara aqidah dan prinsip agama, seorang Muslim memiliki keyakinannya sendiri. Tetapi dalam kehidupan sosial, banyak sekali perbedaan yang sebenarnya tidak perlu menjadi sumber permusuhan. Islam juga melarang manusia saling merendahkan. QS Al-Hujurat ayat 11 mengingatkan agar suatu kaum tidak merendahkan kaum yang lain. Pesan ini menjadi penting dalam kehidupan modern ketika seseorang begitu mudah menilai orang lain hanya berdasarkan penampilan, kebiasaan, pilihan, atau gaya hidup. Toleransi bukan berarti menganggap semua hal sama. Toleransi berarti memiliki kedewasaan untuk memahami bahwa tidak semua orang harus menjadi seperti diri kita.

Partai X Ketika Ruang Sosial Semakin Sempit

Rinto Setiyawan, anggota majelis tinggi Partai X, melihat bahwa persoalan toleransi perbedaan sosial sebenarnya menunjukkan perubahan dalam cara masyarakat membangun hubungan. “Masalah kita bukan karena masyarakat terlalu banyak berbeda. Masalahnya adalah kita semakin sulit hidup berdampingan dengan orang yang berbeda dari diri kita,” ujar Rinto.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan ruang sosial yang memungkinkan orang tetap berhubungan meskipun memiliki pilihan dan karakter yang berbeda. Jika setiap perbedaan selalu menjadi alasan untuk menjauh, maka masyarakat akan kehilangan ikatan sosial yang selama ini membuat kehidupan bersama tetap berjalan.

“Jangan sampai perbedaan selera berubah menjadi permusuhan, perbedaan kebiasaan berubah menjadi prasangka, dan perbedaan pandangan berubah menjadi alasan untuk memutus persaudaraan,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa toleransi sebenarnya bukan sesuatu yang hanya diperlukan dalam persoalan besar. Ia justru diuji dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana seseorang memperlakukan tetangga yang berbeda kebiasaan, rekan kerja yang berbeda karakter, atau teman yang memiliki pilihan hidup yang tidak sama dengan dirinya.

Belajar Tidak Selalu Sepakat

Salah satu persoalan masyarakat modern adalah keinginan untuk selalu mendapatkan persetujuan. Media sosial membuat seseorang mudah membangun lingkungan yang hanya berisi orang-orang dengan selera dan pandangan yang sama. Akibatnya, ketika bertemu dengan pendapat berbeda, respons yang muncul sering kali berlebihan.

Padahal, hidup bersama tidak mensyaratkan kesepakatan dalam segala hal. Masyarakat yang matang justru mampu mempertahankan hubungan meskipun tidak selalu sepakat. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Perbedaan gaya hidup tidak harus berakhir dengan penghinaan.

Kemampuan untuk mengatakan “saya berbeda dengan Anda, tetapi saya tetap menghormati Anda” merupakan bentuk kedewasaan sosial yang semakin penting. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat akan terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang hanya nyaman ketika berhadapan dengan orang yang serupa.

Penutup: Mengembalikan Ruang untuk Berbeda

Toleransi perbedaan sosial pada akhirnya bukan sekadar sikap membiarkan orang lain berbeda. Ia merupakan kemampuan untuk menjaga hubungan sosial di tengah perbedaan. Masyarakat tidak harus menjadi seragam untuk menjadi rukun. Islam memberikan fondasi bahwa manusia memiliki keberagaman, tetapi keberagaman tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan. Dalam kehidupan sosial, akhlak menjadi penghubung ketika kesamaan tidak ditemukan.

Karena itu, mungkin yang perlu dibangun kembali bukan masyarakat yang semuanya memiliki pilihan sama, melainkan masyarakat yang cukup dewasa untuk menerima bahwa manusia memang tidak selalu sama. Sebab kehidupan bersama akan menjadi sangat sempit jika setiap perbedaan dianggap sebagai masalah. Sebaliknya, masyarakat akan menjadi lebih kuat ketika orang dapat berbeda tanpa harus saling membenci. Di situlah toleransi perbedaan sosial menemukan maknanya: bukan menghilangkan perbedaan, tetapi menjaga agar perbedaan tidak menghancurkan persaudaraan.

Share This Article