Kota Ramah Manusia dalam Islam: Ketika Kemajuan Kota Tidak Hanya Diukur dari Gedung-Gedung Tinggi

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id  — Kota ramah manusia seharusnya menjadi salah satu ukuran penting dalam melihat kemajuan sebuah daerah. Selama ini, kemajuan kota sering kali lebih mudah dikenali melalui sesuatu yang terlihat: gedung pencakar langit, jalan yang semakin lebar, pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, apartemen, hotel, hingga proyek infrastruktur berskala besar.

Semua itu tentu memiliki arti dalam pembangunan. Kota membutuhkan infrastruktur, pusat ekonomi, transportasi, dan berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan masyarakat. Namun ada pertanyaan yang tidak kalah penting: untuk siapa sebenarnya kota itu dibangun?

Sebab kota bukan hanya kumpulan gedung dan jalan. Di dalamnya ada anak-anak yang membutuhkan ruang bermain, lansia yang membutuhkan lingkungan aman, keluarga yang membutuhkan ruang berkumpul, pejalan kaki yang membutuhkan trotoar, pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas ekonomi, serta masyarakat biasa yang setiap hari harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Karena itu, kota yang benar-benar maju tidak cukup hanya terlihat megah dari kejauhan. Ia harus terasa nyaman ketika dijalani oleh manusia.

Kota Tidak Dibangun untuk Gedung, tetapi untuk Manusia

Pembangunan kota seringkali lebih mudah dinilai dari apa yang berhasil didirikan. Sebuah gedung baru dapat diresmikan, jalan baru dapat difoto, kawasan baru dapat dipromosikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan pembangunan akhirnya lebih banyak terlihat dalam bentuk fisik.

Padahal kualitas sebuah kota justru dapat dirasakan melalui pengalaman sehari-hari masyarakat. Apakah seseorang dapat berjalan kaki dengan aman, anak-anak memiliki tempat bermain yang layak, orang tua dapat duduk dan beristirahat di ruang publik, penyandang disabilitas dapat mengakses fasilitas kota, masyarakat kecil masih memiliki ruang untuk mencari nafkah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali tidak sebesar perdebatan tentang investasi atau pembangunan gedung, tetapi justru menyentuh inti kehidupan perkotaan. Kota yang baik seharusnya tidak hanya membuat investor merasa nyaman, tetapi juga membuat masyarakat biasa merasa bahwa kota tersebut adalah bagian dari kehidupan mereka.

Ketika Pembangunan Terlalu Berorientasi pada Kecepatan

Ada kecenderungan dalam pembangunan kota untuk mengejar kecepatan dan efisiensi. Jalan dibuat agar kendaraan bergerak lebih cepat, kawasan komersial dibangun untuk meningkatkan aktivitas ekonomi, dan ruang kota terus dikembangkan agar memiliki nilai investasi yang lebih tinggi.

Namun kota yang hanya mengejar kecepatan dapat kehilangan sisi manusianya. Pejalan kaki bisa tersisih karena kendaraan. Ruang terbuka dapat berkurang karena pembangunan. Anak-anak kehilangan tempat bermain. Masyarakat lanjut usia kesulitan bergerak karena fasilitas tidak dirancang untuk kebutuhan mereka.

Kota kemudian menjadi tempat yang sangat produktif, tetapi belum tentu nyaman untuk ditinggali.

Padahal manusia tidak hanya membutuhkan tempat untuk bekerja dan berbelanja. Manusia juga membutuhkan tempat untuk berjalan, beristirahat, bermain, berbicara, berinteraksi, dan membangun hubungan sosial. Di sinilah konsep kota ramah manusia menjadi penting: pembangunan harus memperhitungkan manusia sebagai makhluk sosial, bukan sekadar pengguna jalan, konsumen, pekerja, atau angka statistik.

Islam Memandang Ruang Kehidupan sebagai Amanah

Islam memberikan perspektif yang menarik dalam melihat hubungan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya. Bumi bukan ruang yang boleh diperlakukan sesuka hati. Manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memakmurkannya dengan baik.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 56:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Ayat ini dapat menjadi salah satu prinsip moral dalam memahami pembangunan. Kemajuan tidak seharusnya menghasilkan kerusakan baru. Pembangunan kota harus mempertimbangkan apakah lingkungan menjadi lebih baik, apakah masyarakat mendapatkan manfaat, dan apakah ruang kehidupan dapat digunakan secara adil.

Dalam perspektif Islam, pembangunan bukan sekadar kemampuan manusia mengubah ruang. Ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, membangun kota seharusnya bukan hanya tentang apa yang dapat didirikan, tetapi juga tentang kehidupan seperti apa yang akan lahir dari pembangunan tersebut.

Kota Ramah Manusia Harus Memberi Ruang kepada Semua

Salah satu ciri kota yang manusiawi adalah kemampuannya memberikan ruang kepada berbagai kelompok masyarakat. Kota tidak boleh hanya nyaman bagi mereka yang memiliki kendaraan pribadi, tinggal di kawasan elite, atau memiliki daya beli tinggi.

Anak-anak membutuhkan ruang bermain yang aman. Lansia membutuhkan trotoar dan fasilitas yang mudah digunakan. Pejalan kaki membutuhkan jalur yang tidak terputus dan tidak dipenuhi hambatan. Pedagang kecil membutuhkan ruang ekonomi yang tertata. Keluarga membutuhkan taman dan ruang terbuka. Masyarakat membutuhkan tempat untuk bertemu tanpa harus selalu mengeluarkan uang.

Keadilan dalam pembangunan kota berarti memastikan bahwa fasilitas perkotaan dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin orang. Bukan berarti semua orang harus mendapatkan fasilitas yang sama dalam bentuk yang persis sama, tetapi setiap kelompok memiliki hak untuk memperoleh lingkungan yang layak sesuai kebutuhannya.

Di sinilah pembangunan menjadi lebih dari sekadar proyek fisik. Ia menjadi persoalan keadilan sosial.

Partai X: Kota Harus Diukur dari Pengalaman Warganya

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menilai bahwa cara masyarakat merasakan sebuah kota seharusnya menjadi bagian penting dalam mengukur keberhasilan pembangunan.

“Jangan hanya bertanya berapa gedung yang berhasil dibangun atau berapa besar investasi yang masuk. Kita juga harus bertanya apakah masyarakat merasa nyaman tinggal di kota itu,” ujar Rinto.

Menurutnya, pembangunan kota harus memperhatikan kehidupan kelompok yang selama ini sering tidak menjadi pusat perhatian dalam perencanaan. Anak-anak, lansia, pejalan kaki, pedagang kecil, pekerja informal, hingga keluarga biasa merupakan bagian penting dari kehidupan kota.

“Kalau kota hanya nyaman untuk kelompok tertentu, kita belum bisa menyebutnya sebagai kota yang benar-benar maju. Kota yang baik adalah kota yang membuat masyarakat biasa merasa memiliki tempat di dalamnya,” katanya.

Rinto menilai, ukuran pembangunan perlu diperluas dari sekadar indikator ekonomi dan fisik menuju kualitas kehidupan. Menurutnya, pembangunan harus menghasilkan rasa aman, kenyamanan, akses yang adil, dan ruang sosial yang memungkinkan masyarakat hidup bersama.

Penutup: Kota yang Maju Harus Terasa dalam Kehidupan Sehari-hari

Pada akhirnya, kota ramah manusia bukan konsep yang terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana: trotoar yang benar-benar dapat digunakan, taman yang terawat, tempat duduk yang memadai, ruang bermain anak, akses bagi lansia dan penyandang disabilitas, transportasi yang layak, hingga ruang publik yang dapat digunakan masyarakat tanpa harus selalu membayar.

Kota yang demikian mungkin tidak selalu terlihat paling megah dari kejauhan. Namun ketika seseorang berjalan di dalamnya, ia dapat merasakan bahwa ruang tersebut memang dirancang untuk manusia.

Islam sendiri memberikan prinsip bahwa kehidupan harus dibangun dengan kebaikan dan tidak boleh menghasilkan kerusakan. Karena itu, pembangunan kota semestinya diarahkan kepada kemaslahatan. Gedung dan jalan adalah sarana, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan kehidupan yang lebih baik.

Maka pertanyaan tentang kemajuan kota seharusnya tidak berhenti pada “berapa banyak yang sudah dibangun?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah manusia yang hidup di dalamnya menjadi lebih nyaman, lebih aman, lebih dihargai, dan lebih memiliki ruang untuk menjalani kehidupannya?”

Sebab kota yang benar-benar maju bukan hanya kota yang tinggi gedungnya, luas jalannya, dan besar investasinya. Kota yang maju adalah kota yang mampu memanusiakan manusia.

Share This Article