PARIS — Sejarah tidak hanya menyimpan cerita tentang siapa yang pernah berkuasa. Sejarah juga menyimpan pelajaran tentang bagaimana kekuasaan dibangun, digunakan, diwariskan, dan pada akhirnya dinilai oleh generasi yang datang setelahnya.
Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan ke Paris pada September 2025 menjadi kesempatan untuk membaca sejarah Eropa dari perspektif yang lebih luas. Salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut adalah Les Invalides, kompleks bersejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah militer dan politik Prancis.
Di bawah kubah Les Invalides terdapat makam Napoleon Bonaparte. Keberadaan makam tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar bagaimana seorang tokoh besar dikenang. Apa yang membuat seorang pemimpin tetap memiliki pengaruh setelah kekuasaannya berakhir, dan apa yang sebenarnya tersisa ketika seorang pemimpin tidak lagi berada di pusat kekuasaan?

Napoleon dan Warisan Kekuasaan
Napoleon merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Eropa. Ia dikenal sebagai pemimpin militer dan penguasa yang memiliki peran besar dalam membentuk kembali peta politik Eropa pada awal abad ke-19.
Namun, membaca Napoleon hanya melalui kemenangan perang dan ekspansi kekuasaan akan membuat pelajaran sejarah menjadi terlalu sederhana. Warisannya juga dapat dilihat melalui berbagai perubahan sipil dan institusional yang muncul pada masa pemerintahannya, termasuk sentralisasi administratif, Council of State, Civil Code, pendidikan, Court of Audit, Commercial Code, pembangunan infrastruktur, dan Legion of Honour.
Di sinilah pelajaran penting tentang kepemimpinan mulai terlihat. Kekuasaan tidak hanya dapat dinilai dari seberapa luas wilayah yang dikuasai atau seberapa kuat pengaruh seorang pemimpin, tetapi juga dari sejauh mana kepemimpinan tersebut meninggalkan institusi dan gagasan yang dapat bertahan lebih lama daripada orang yang membangunnya.
Seorang pemimpin dapat memiliki popularitas. Ia dapat memenangkan pemilu, memenangkan perang, menguasai pemerintahan, atau menjadi figur yang sangat dominan dalam kehidupan politik. Tetapi semua itu pada akhirnya akan mengalami batas waktu.
Yang dapat bertahan jauh lebih lama adalah institusi, gagasan, budaya politik, dan sistem yang dibangun dengan baik.
Kekuasaan Akan Berakhir, Institusi Harus Bertahan
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika seorang negarawan melihat sejarah dari jarak yang lebih panjang. Masa jabatan memiliki batas, popularitas dapat berubah, dan kekuasaan politik dapat berpindah tangan. Namun institusi negara tetap harus bekerja ketika seorang pemimpin telah pergi.
Karena itu, ukuran kepemimpinan tidak cukup berhenti pada kemampuan memenangkan pertarungan politik. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kekuasaan tersebut digunakan untuk memperkuat sistem yang melayani masyarakat atau justru membuat seluruh sistem bergantung kepada figur tertentu.
Negara yang sehat tidak seharusnya dibangun berdasarkan kehebatan satu orang. Ia harus memiliki institusi yang kuat, hukum yang berjalan, administrasi yang bekerja, serta budaya politik yang memungkinkan pergantian kepemimpinan berlangsung tanpa menghentikan kehidupan negara.
Dalam perspektif inilah Napoleon memberikan pelajaran yang kompleks. Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin dengan kemampuan organisasi, strategi, keberanian, dan visi dapat mengubah sejarah. Tetapi sejarah juga memperlihatkan bahwa kekuasaan personal memiliki batas dan tidak ada seorang pemimpin pun yang dapat mengendalikan perjalanan waktu.
Les Invalides dan Sejarah yang Terus Ditafsirkan
Menariknya, Les Invalides sendiri memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada sekadar hubungannya dengan Napoleon. Kompleks tersebut didirikan pada masa Louis XIV untuk memberikan tempat bagi para prajurit yang terluka, sakit, atau lanjut usia. Dalam perjalanan waktu, fungsi dan makna kawasan tersebut berkembang hingga menjadi salah satu ruang penting dalam memori sejarah Prancis.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah bukan benda mati. Sebuah tempat dapat memiliki banyak lapisan makna karena generasi yang berbeda datang dengan pengalaman dan pertanyaan yang berbeda pula.
Karena itu, sejarah sesungguhnya merupakan ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Generasi hari ini tidak hanya menerima sejarah, tetapi juga menafsirkannya kembali untuk menemukan pelajaran yang relevan dengan persoalan yang mereka hadapi.
Bagi pendidikan kenegarawanan, cara membaca sejarah semacam ini sangat penting. Pendidikan tentang negara tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana institusi pemerintahan bekerja. Pendidikan kenegaraan juga perlu membentuk kemampuan untuk melihat mengapa sebuah institusi lahir, bagaimana kekuasaan pernah digunakan, apa akibat dari sebuah keputusan, dan apa yang dapat dipelajari agar kesalahan yang sama tidak kembali terjadi.

Negarawan Tidak Cukup Belajar Menjadi Kuat
Napoleon memberikan satu pelajaran penting bahwa kekuatan kepemimpinan dapat mengubah keadaan dengan cepat. Namun seorang negarawan tidak cukup hanya belajar bagaimana menjadi kuat.
Ia harus belajar bagaimana menggunakan kekuatan secara bertanggung jawab. Ia harus memahami bahwa mendapatkan kekuasaan hanyalah awal dari sebuah tanggung jawab yang jauh lebih besar. Setelah kekuasaan diperoleh, pertanyaan terpenting adalah untuk apa kekuasaan tersebut digunakan dan apa yang akan diwariskan setelah kekuasaan itu berakhir.
Karena itu, seorang pemimpin tidak hanya perlu bertanya bagaimana memenangkan sebuah kontestasi, tetapi juga bagaimana membangun institusi yang tetap bekerja ketika dirinya sudah tidak lagi memimpin. Ia tidak hanya perlu memikirkan bagaimana mendapatkan dukungan masyarakat, tetapi juga bagaimana memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan, keadilan, keamanan, pendidikan, dan kesempatan hidup yang lebih baik.
Di situlah perbedaan antara sekadar pemegang kekuasaan dan seorang negarawan mulai terlihat. Pemegang kekuasaan mungkin berpikir tentang masa jabatannya, sementara negarawan dituntut untuk berpikir tentang masa depan negara.
Pelajaran untuk Indonesia
Pelajaran tersebut relevan bagi Indonesia yang menghadapi perubahan teknologi, geopolitik, ekonomi, dan sosial yang berlangsung semakin cepat. Dalam situasi seperti itu, bangsa ini membutuhkan kepemimpinan yang tidak berhenti pada popularitas dan elektabilitas, tetapi memiliki kemampuan berpikir lintas generasi.
Seorang pemimpin perlu bertanya lebih jauh daripada sekadar apakah kebijakannya berhasil pada masa pemerintahannya. Ia juga perlu bertanya apakah keputusan yang diambil hari ini akan membuat institusi negara menjadi lebih kuat atau justru semakin bergantung pada figur.
Pertanyaan yang sama dapat diajukan kepada setiap orang yang mendapatkan amanah kekuasaan: ketika suatu hari dirinya tidak lagi berada dalam posisi tersebut, apa yang akan tetap hidup dari kepemimpinannya?
Jawabannya seharusnya bukan hanya nama. Yang lebih penting adalah institusi yang semakin kuat, gagasan yang terus berkembang, budaya politik yang semakin sehat, sistem pelayanan publik yang semakin baik, serta kualitas kehidupan masyarakat yang mengalami kemajuan.
Dari Paris, Membaca Kembali Arti Kekuasaan
Dari Les Invalides, sejarah Napoleon memberikan pelajaran bahwa kekuasaan dapat menjadi besar dalam waktu yang relatif singkat, tetapi membangun warisan kenegaraan yang sehat membutuhkan waktu jauh lebih panjang.
Belajar dari sejarah karena itu bukan berarti mengagungkan masa lalu. Sejarah justru harus dibaca secara kritis agar generasi sekarang memahami bahwa setiap kekuasaan memiliki konsekuensi dan setiap keputusan pemimpin pada akhirnya akan berhadapan dengan penilaian waktu.
Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan ke Les Invalides menjadi bagian dari proses memahami bahwa kenegarawanan bukan sekadar kemampuan memimpin pada hari ini. Kenegarawanan adalah kemampuan melihat jauh ke depan dan memastikan bahwa kekuasaan yang sedang berada di tangan tidak berhenti pada kepentingan seorang pemimpin.
Sebab pada akhirnya, seorang pemimpin akan pergi, jabatan akan berakhir, dan kekuasaan akan berpindah. Yang menentukan kualitas sebuah kepemimpinan adalah apa yang ditinggalkannya bagi bangsa setelah dirinya tidak lagi berada di sana.