BRUSSEL, BELGIA — Ada kota-kota yang dapat dipahami hanya dengan berjalan di jalan-jalannya. Namun ada pula kota yang mengajak seseorang melihat lebih jauh, yaitu memahami bagaimana keputusan besar dibuat dan bagaimana pengaruh sebuah institusi dapat menjangkau kehidupan manusia yang berada jauh dari tempat keputusan itu diambil. Brussel adalah salah satunya.
Sebagai pusat penting Uni Eropa sekaligus tempat berdirinya markas besar NATO, Brussel memperlihatkan wajah lain dari sebuah kota. Di balik aktivitas masyarakat yang berjalan seperti biasa, terdapat institusi yang memainkan peran besar dalam persoalan ekonomi, keamanan, diplomasi, dan hubungan antarnegara. Pada September 2025, suasana tersebut menjadi bagian dari perjalanan pembelajaran bagi delegasi Sekolah Negarawan yang melakukan studi empiris di kota itu.
Delegasi yang terdiri dari Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, Head of Representative Chapter Eropa Imam Syafiih Kamil, serta CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya mengamati kawasan penting tersebut dari luar perimeter keamanan. Keterbatasan akses justru tidak menghilangkan nilai pembelajaran. Dari ruang luar, mereka mencoba memahami bagaimana sebuah institusi besar membangun kewibawaan, menjaga keamanan, mengatur lingkungan di sekitarnya, dan menjalankan fungsi yang memiliki pengaruh jauh melampaui batas sebuah gedung.

Kekuasaan Tidak Selalu Hadir dalam Keramaian
Ketika membicarakan kekuasaan, orang sering membayangkan podium, pidato politik, pertemuan para pejabat, atau keputusan yang diumumkan di hadapan publik. Namun perjalanan ke Brussel memperlihatkan bahwa kekuasaan juga dapat terlihat dalam sesuatu yang jauh lebih tenang, yaitu bagaimana sebuah institusi ditata, dijaga, dan ditempatkan dalam kehidupan sebuah kota.
Kawasan sekitar NATO dan institusi Eropa menunjukkan adanya hubungan antara keamanan, tata ruang, aktivitas masyarakat, dan kepentingan internasional. Perimeter keamanan yang ketat tidak berdiri sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sipil. Semuanya berjalan dalam satu ekosistem yang memperlihatkan bagaimana sebuah pusat kekuasaan dapat tetap berfungsi tanpa sepenuhnya memutus hubungan dengan lingkungan di sekitarnya.
Bagi Sekolah Negarawan, pengamatan semacam ini memberikan pelajaran bahwa kekuatan sebuah institusi bukan hanya terletak pada besarnya bangunan atau banyaknya orang yang bekerja di dalamnya. Ada sistem yang membuat institusi tersebut dipercaya, dihormati, dan mampu menjalankan tugasnya secara konsisten. Ada pula disiplin, tata kelola, sumber daya manusia, serta kemampuan menjaga kesinambungan yang membentuk kewibawaan tersebut.
Melihat Kekuasaan dari Luar Gerbang
Tidak semua pelajaran harus diperoleh dengan duduk di dalam ruang rapat. Terkadang, berada di luar sebuah institusi justru membuat seseorang memiliki kesempatan untuk melihat keseluruhan gambaran dengan lebih jernih. Dari kawasan luar, delegasi Sekolah Negarawan dapat mengamati bagaimana keamanan, lalu lintas, bangunan, aktivitas masyarakat, dan lingkungan diplomatik bertemu dalam satu ruang.
Prayogi R. Saputra melihat bahwa apa yang tampak secara fisik hanyalah bagian paling luar dari kekuatan sebuah institusi. Di balik bangunan dan sistem keamanan terdapat bobot kewibawaan yang lahir dari kemampuan sebuah lembaga menjalankan perannya secara konsisten. Sebuah institusi menjadi kuat bukan hanya karena memiliki kekuasaan, tetapi karena memiliki sistem yang membuat kekuasaan tersebut dapat bekerja dan bertahan.
Pelajaran ini penting bagi Indonesia. Negara tidak akan menjadi kuat hanya karena memiliki pemimpin yang kuat. Kekuatan negara juga ditentukan oleh kualitas institusinya, kemampuan aparatur menjalankan tugas, kepastian aturan, serta kesanggupan sistem pemerintahan untuk bekerja bahkan ketika orang-orang di dalamnya berganti.
Kekuasaan Juga Dibangun oleh Teknologi
Perubahan zaman membuat wajah kekuasaan semakin kompleks. Jika pada masa lalu kekuatan negara banyak dikaitkan dengan wilayah, militer, dan sumber daya alam, kini kemampuan mengelola teknologi dan informasi juga menjadi bagian penting dari kekuatan tersebut.
Perspektif itu menjadi semakin jelas melalui kehadiran Erick Karya yang membawa sudut pandang teknologi dalam perjalanan Sekolah Negarawan. Sistem keamanan, pengelolaan ruang, infrastruktur, jaringan informasi, dan teknologi pengawasan merupakan bagian yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat, tetapi memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan sebuah institusi strategis.
Hal tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia membutuhkan calon pemimpin yang tidak gagap menghadapi perubahan teknologi. Pemimpin masa depan harus memahami bagaimana teknologi memengaruhi keamanan, ekonomi, pelayanan publik, hingga hubungan antarnegara. Penguasaan teknologi bukan lagi sekadar urusan para teknisi, melainkan bagian dari kemampuan sebuah bangsa menjaga kepentingannya.
Namun teknologi tetaplah alat. Nilainya bergantung pada tujuan dan manusia yang menggunakannya. Karena itu, kemajuan sistem harus berjalan bersama dengan etika, tanggung jawab, dan kepentingan masyarakat. Negara yang memiliki teknologi canggih tetapi kehilangan arah akan tetap menghadapi persoalan mendasar.
Memahami Dunia untuk Memperkuat Indonesia
Pengamatan di Brussel juga menjadi semakin bermakna karena adanya konteks yang diberikan Imam Syafiih Kamil. Sebagai Head of Representative Chapter Eropa, ia membantu memberikan gambaran mengenai hubungan antara pusat-pusat pengambilan keputusan di Eropa dengan kehidupan negara lain. Kebijakan yang dirumuskan di kawasan tersebut dapat memiliki pengaruh terhadap perdagangan, lingkungan, standar regulasi, dan berbagai persoalan yang pada akhirnya turut dirasakan negara-negara berkembang.
Kesadaran semacam ini penting bagi Indonesia karena posisi sebuah bangsa di tengah dunia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar wilayah atau jumlah penduduknya. Posisi tawar juga dibangun melalui pengetahuan, kemampuan diplomasi, kekuatan ekonomi, teknologi, kualitas sumber daya manusia, dan ketangguhan institusi dalam memperjuangkan kepentingan nasional.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan menempatkan pengalaman tersebut sebagai bagian dari pembentukan ketangguhan kepemimpinan. Seorang pemimpin yang memahami bagaimana pusat-pusat kekuatan dunia bekerja akan memiliki bekal yang lebih baik untuk menentukan sikap ketika kepentingan Indonesia berhadapan dengan kepentingan negara lain.
Di sinilah perjalanan ke luar negeri memperoleh makna yang lebih dalam. Tujuannya bukan untuk mengagumi kekuatan bangsa lain, apalagi menirunya secara mentah. Perjalanan justru menjadi kesempatan untuk bercermin dan bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang masih harus diperkuat di tanah air.
Indonesia Harus Belajar Membaca Panggung Dunia
Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara yang menunggu perubahan global kemudian menyesuaikan diri. Dengan posisi strategis dan potensi yang dimiliki, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu membaca arah perubahan sebelum dampaknya menjadi persoalan di dalam negeri.
Untuk itulah seorang negarawan membutuhkan pandangan yang lebih luas. Ia harus memahami masyarakat yang dipimpinnya, tetapi juga mengetahui bagaimana perubahan ekonomi, teknologi, keamanan, dan politik internasional dapat memengaruhi masa depan masyarakat tersebut. Ia harus mampu melihat hubungan antara keputusan yang dibuat jauh dari Indonesia dengan persoalan yang suatu hari mungkin muncul di tengah rakyat.
Brussel memberikan pelajaran bahwa kekuasaan dunia tidak selalu tampil dalam bentuk yang ramai. Ia dapat hadir melalui institusi yang bekerja dengan tenang, aturan yang diterapkan secara konsisten, teknologi yang tidak selalu terlihat, serta jaringan keputusan yang menjangkau banyak negara.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut pada akhirnya bukan sekadar catatan perjalanan di Eropa. Ia menjadi bagian dari upaya membentuk cara pandang baru tentang kepemimpinan Indonesia. Sebab untuk memperkuat negara dari dalam, seorang pemimpin terlebih dahulu harus mampu memahami dunia di luar dirinya.
Indonesia membutuhkan negarawan yang tidak hanya pandai mengurus hari ini, tetapi mampu membaca apa yang sedang bergerak di balik cakrawala. Sebab ketika peta kekuasaan dunia berubah, bangsa yang memiliki pemimpin dengan pandangan luas akan lebih siap menentukan langkahnya sendiri.