Dari Brussel, Sekolah Negarawan Melihat Diaspora sebagai Jembatan Indonesia dan Dunia

muslimX
By muslimX
8 Min Read

BRUSSEL — Di tengah dunia yang semakin terhubung, seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami apa yang terjadi di dalam negerinya sendiri. Perubahan ekonomi, teknologi, politik, dan keamanan di berbagai belahan dunia dapat dengan cepat memengaruhi kehidupan masyarakat di Indonesia. Karena itu, kemampuan membaca perubahan global menjadi bagian penting dari kepemimpinan masa depan.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu pelajaran dalam perjalanan Sekolah Negarawan ke Brussel, Belgia, pada September 2025. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra dan Wakil Direktur Rinto Setiyawan melakukan pengamatan terhadap kawasan penting di Eropa bersama Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, Imam Syafiih Kamil, serta CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya.

Perjalanan tersebut bukan hanya mempertemukan delegasi dengan kawasan yang menjadi salah satu pusat politik dan diplomasi dunia. Kehadiran Imam Syafiih Kamil juga memperlihatkan bahwa keberadaan warga Indonesia di luar negeri dapat memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan tempat tinggal atau pekerjaan. Diaspora dapat menjadi penghubung pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang mempertemukan Indonesia dengan perkembangan dunia.

Diaspora Bukan Hanya tentang Jarak

Selama ini, pembicaraan mengenai diaspora Indonesia sering dikaitkan dengan pekerjaan, pendidikan, atau kontribusi ekonomi. Padahal, mereka yang hidup di luar negeri juga memiliki pengalaman sosial dan pengetahuan mengenai lingkungan tempat mereka tinggal. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat, institusi, teknologi, dan kebijakan bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman tersebut menjadi modal yang berharga bagi Indonesia. Seseorang yang tinggal dan berinteraksi di Eropa, misalnya, memiliki kesempatan untuk melihat secara lebih dekat bagaimana berbagai persoalan dibicarakan dan dikelola di kawasan tersebut. Pengetahuan itu kemudian dapat dibawa pulang, dipertukarkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.

Dalam konteks inilah diaspora tidak semestinya hanya dipandang sebagai orang Indonesia yang berada jauh dari tanah air. Mereka dapat menjadi bagian dari jejaring bangsa yang membantu memperluas cara pandang Indonesia terhadap dunia. Jarak geografis tidak harus berarti jarak kontribusi.

Imam Syafiih Kamil dan Jembatan Pengetahuan

Dalam perjalanan ke Brussel, peran Imam Syafiih Kamil memberikan dimensi yang berbeda bagi proses pembelajaran Sekolah Negarawan. Kehadirannya membantu delegasi memahami konteks lingkungan yang mereka lihat, bukan sekadar sebagai wisatawan yang datang untuk mengamati bangunan atau kawasan penting.

Ada pengetahuan yang hanya dapat diperoleh ketika seseorang hidup cukup lama di sebuah lingkungan. Cara masyarakat berinteraksi, bagaimana institusi bekerja, bagaimana kebijakan dirasakan, serta bagaimana sebuah kota menghadapi persoalan sehari-hari merupakan pengalaman yang tidak selalu dapat ditemukan dalam buku atau laporan.

Karena itu, jejaring diaspora dapat menjadi bagian penting dari pendidikan kepemimpinan. Calon pemimpin Indonesia tidak hanya membutuhkan teori mengenai dunia internasional, tetapi juga membutuhkan orang-orang yang dapat membantu menerjemahkan pengalaman global tersebut ke dalam konteks Indonesia.

Di sinilah perjalanan Sekolah Negarawan memperoleh makna yang lebih luas. Pembelajaran tidak berhenti pada apa yang dilihat, tetapi berlanjut pada bagaimana sesuatu yang dilihat dapat dipahami dan kemudian dipertanyakan kembali: apa yang relevan bagi Indonesia, apa yang tidak sesuai, dan apa yang dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan bangsa sendiri?

Dari Brain Drain Menuju Pertukaran Gagasan

Persoalan diaspora sering kali dibicarakan dalam kerangka brain drain, yaitu kekhawatiran bahwa orang-orang berpendidikan tinggi meninggalkan tanah air dan kemudian berkontribusi di negara lain. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami, tetapi dunia yang semakin terbuka membutuhkan cara pandang yang lebih luas.

Pengetahuan tidak lagi bergerak hanya melalui ruang kelas dan lembaga resmi. Ia dapat berpindah melalui manusia, komunitas, jaringan profesional, lembaga pendidikan, dan berbagai hubungan antarnegara. Karena itu, warga Indonesia yang berada di luar negeri tetap dapat memiliki hubungan intelektual dan profesional dengan tanah air.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat pertukaran tersebut berlangsung secara aktif. Diaspora dapat membawa pengalaman dari luar, sementara Indonesia dapat memberikan ruang untuk mengolah pengalaman itu menjadi pengetahuan yang berguna bagi pembangunan nasional. Dengan demikian, hubungan antara tanah air dan diaspora tidak berhenti pada persoalan pulang atau tidak pulang, tetapi berkembang menjadi pertukaran gagasan yang saling menguatkan.

Melihat Dunia, Memahami Indonesia

Kehadiran jejaring internasional juga memberikan keuntungan lain bagi pendidikan calon negarawan. Dunia tidak dapat dipahami hanya melalui pemberitaan atau laporan yang sudah diringkas. Pengalaman langsung membuat seseorang dapat melihat bagaimana sebuah sistem bekerja dalam kehidupan nyata.

Dalam konteks Brussel, delegasi Sekolah Negarawan dapat melihat kawasan yang menjadi bagian dari pusat politik dan keamanan Eropa, sekaligus mendapatkan penjelasan dari orang Indonesia yang memahami lingkungan tersebut. Perspektif semacam ini membuat pengamatan menjadi lebih kaya karena apa yang terlihat dapat dibaca melalui konteks lokal.

Erick Karya, CEO Enygma Solusi Negeri, turut memberikan perspektif mengenai pentingnya memahami perkembangan teknologi dan sistem yang menopang kehidupan modern. Hal tersebut menunjukkan bahwa jejaring internasional tidak hanya berguna untuk memahami politik, tetapi juga membuka wawasan mengenai teknologi, ekonomi, keamanan, dan berbagai perubahan yang sedang membentuk masa depan.

Bagi calon pemimpin, kemampuan menghubungkan berbagai pengetahuan tersebut sangat penting. Sebab tantangan Indonesia di masa depan tidak akan datang dalam bentuk yang sederhana. Persoalan ekonomi dapat berhubungan dengan teknologi, keamanan dapat berhubungan dengan data, sementara perubahan sosial dapat dipengaruhi oleh perkembangan global yang berlangsung sangat cepat.

Membangun Indonesia yang Terhubung dengan Dunia

Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki akar kuat di dalam negeri sekaligus memiliki jendela yang terbuka lebar terhadap dunia. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru dari hubungan antara keduanya lahir kemampuan untuk melihat posisi Indonesia secara lebih jernih.

Pembentukan jejaring Sekolah Negarawan di luar negeri menjadi salah satu bentuk upaya membangun hubungan tersebut. Chapter Eropa bukan hanya tempat berkumpulnya orang Indonesia yang berada di luar negeri, tetapi dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang mempertemukan perspektif global dengan kebutuhan nasional.

Pelajaran dari Brussel menunjukkan bahwa bangsa yang besar bukan bangsa yang menutup diri dari dunia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berhubungan dengan dunia tanpa kehilangan arah dan identitasnya sendiri.

Diaspora dapat menjadi salah satu jembatan untuk membangun hubungan tersebut. Mereka memiliki pengalaman di luar negeri, tetapi tetap membawa pengetahuan tentang Indonesia. Ketika pengalaman itu dipertemukan dengan kebutuhan bangsa, terbentuklah jejaring yang dapat memperkaya cara Indonesia membaca perubahan.

Pada akhirnya, perjalanan Sekolah Negarawan ke Brussel mengajarkan bahwa membangun kepemimpinan tidak cukup hanya dengan memperluas pengetahuan dari dalam negeri. Kita juga perlu membuka pintu untuk belajar dari dunia, mendengarkan pengalaman warga Indonesia yang berada di berbagai negara, lalu mengolahnya menjadi kekuatan bagi tanah air.

Sebab Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang kuat dengan hanya mengetahui apa yang terjadi di dalam rumahnya sendiri. Indonesia membutuhkan mata yang mampu melihat dunia, telinga yang mampu mendengar perubahan, dan pemimpin yang mampu membawa pengetahuan itu kembali untuk membangun negerinya.

Share This Article